Senin, 17 September 2012

Cerita : Tentang Kampung Naggewer Tasikmalaya



Cerita Tentang Kampung Naggewer Tasikmalaya
Berawal dari kejadian di Sumedang Larang,  lima orang bersaudara yang gagah berani berhasil  menumpas gerombolan kejahatan yang seringkali meresahkan rakyat. Kelima orang itu  tidak deketahui nama aslinya, namun memiliki julukan dan panggilan masing masing. Sangkleng dikenal sangat kuat dan tidak pernah basi basi dalam menyelesaikan perkara, Kidang memiliki kelebihan dalam berlari seperti Kijang, Jidang seorang alim dan memiliki ilmu tinggi dalam ilmu keagamaan,   Gajig seorang pemimpin yang selalu  sukses menumpas kejahatan dan Bonan seorang muda memilki ilmu kanuragan yang tinggi. Konon katanya ke lima orang ini memiliki garis keturunan dengan Sumedang Larang.
 Diceritakan penumpasan dipimpin oleh Gajig sukses menangkap pemimpin penjahat, setelah melakukan pertarungan sengit  sebelumnya, karena  penjahat melakukan perlawanan yang sengit,  dalam pertarungan itu Bonan mengalami  luka berat akibat sabetan penjahat.
Melihat pertarungan  dan setelah penjahat melukai Bonan yang  hampir saja  penjahat  itu berhasil  kabur,   rakyat waktu itu  yang sudah sangat benci dan dendam ikut mengepung bahkan  setelah penjahat itu tertangkap rakyat mengahakimi sendiri. Kejadian itu mendapat perhatian  dari pejabat      Sumedang, dan diputuskan bahwa kelima orang itu bersalah  harus bertanggung jawab atas penghakiman oleh massa.
Kelima orang ini tidak terima dengan keputusan penjabat Sumedang itu, dan “ngagelig”   keluar dari lingkungan Sumedang dan bersama sama menuju Gunung Cakra Buana, sayang akibat luka yang parah dalam perjalanan BONAN meninggal,  menurut cerita Bonan meninggal  di gunung yang sekarang dinamakan  Gunung Bonan. Setelah itu, kelima orang itu bersepakat untuk memencar di Kaki Gunung Cakra Buana.
Jidang menetap di salah satu kaki Gunung Cakra Buana, sekarang di kenal dengan Kampung Guranteng, dan Gajig  sempat sempat mangkal    untuk bertapa didekat sungai, sekarang Kampung Pangkalan, namun tidak lama karena  selalu  ada yang menggangu “nyarenghor” entah binatang atau makhluk halus,    sekarang  kampung itu bernama  Nyalenghor . Gajig pergi ke selatan dan membangun gubug di kampung Lamping, tempat itu sekarang dikenal dengan nama Kabuyutan. Gajig kemudian membuka kampung dan sawah.  Tidak Lama  di tinggal di Lamping pindah ke sawah. Sekarang sawah itu di kenal dengan nama kampung Nanggewer.
Menurut cerita, kata ”nanggewer”  itu berasal dari kata “nangeran”  yang berarti tempat tinggal pangeran. Mungkin menganggap Gajig itu adalah pangeran dari Sumedang.
Makam Mbah Gajig dikuburkan di dekat Patapaan dan berada di kebun keluarga Bapak Kartasenjaya.
KUWU pertama Naggewer adalah ARSAMANGGALA (Haji Bahrum),  karena kehebatannya memimpin Desa Nanggewer, beliow mendapat bintang dari Bupati Tasikmalaya waktu itu dan kenal dengan nama KUWU BINTANG,  kemudian diganti oleh adik iparnya namanya SUMADIMAJA (Haji Sidik).
Putra dan Buyut Mbah Gajig
1.       Arsamanggala
2.       Nayamanggala
3.        Cakramanggala
4.       Istrinya Sumadimaja
(Oleh Agus Hendradimaja, Disusun berdasarkan cerita dari mulut ke mulut orang tua)

Jumat, 17 Agustus 2012

Agama :Kisah Tukang Sol sepatu yang mendapatkan pahala Haji Mabrur

Ada beberapa Hikmah yang dapat kita ambil dari cerita dibawah ini, yaitu tentang Tukang Sol sepatu yang mendapatkan pahala Haji Mabrur, mari kita simak cerita berikut ini dan semoga bisa menjadikan kita terpacu untuk lebih giat beramal ibadah.
Sa’id Ibnu Muhafah, Tukang Sol sepatu yang mendapatkan pahala haji mabrur, padahal ia tidak haji, suatu ketika Hasan Al-Basyri menunaikan ibadah haji. Ketika beliau sedang istirahat, beliau bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat dua Malaikat sedang membicarakan sesuatu.
“Rasannya orang yang menunaikan haji tahun ini, banyak sekali” Komentar salah satu Malaikat
“Betul” Jawab yang lainya.
“Berapa kira-kira jumlah keseluruhan?”
“Tujuh ratus ribu”
“Pantas”
“Eh, kamu tahu nggak, dari jumlah tersebut berapa kira-kira yang mabrur”,
Selidik Malaikat yang mengetahui jumlah orang-orang haji tahun itu.
“Wah, itu sih kehendak Allah”
“Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur”
“Kenapa?”
“Macam-macam, ada yang karena riya', ada yang tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang hajinya sudah berkali kali, sementara masih banyak orang yang tidak mampu, dan berbagai sebab lainnya
“Terus?”
“Tapi Masih ada, orang yang mendapatkan Pahala haji mabrur tahun ini”
“Lho kata nya tidak ada”
“Ya, karena orangnya tidak naik haji”
“Kok bisa”
“Begitulah”
“Siapa orang tersebut?”
Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq
Mendengar ucapan itu, Hasan Al-Basyri langsung terbangun. Sepulang dari Makkah, ia tidak langsung ke Mesir, Tapi langsung menuju kota Damsyiq (Siria). Sesampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.
“Ada, ditepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana Hasan Al-Basyri menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Hasan Al-Basyri
“Betul, kenapa?”
Sejenak Hasan Al-Basyri kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya. 
“Sekarang saya tanya, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, barang kali mimpi itu benar” selidik Hasan Al-Basyri sambil mengakhiri ceritanya.
“Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan pada tahun ini biaya itu sebenarnya telah terkumpul”
“Tapi anda tidak berangkat Haji??”
“Benar”
“Kenapa?”
“Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu dia ngidam berat”
“Terus?”
“Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium, saya cari sumber daging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh, disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang tidak boleh, hingga saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap mengelak.
Akhirnya saya tanya kenapa?.. “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya
“Kenapa?” tanyaku lagi ,
“Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakanya tentulah kami akan mati kelaparan,”
Jawabnya sambil menahan air mata.
Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang, saya ceritakan kejadian itu pada istri saya, diapun menangis, akhirnya uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia”
Mendengar cerita tersebut Hasan Al-Basyri pun tak bisa menahan air mata.”Kalau begitu engkau memang patut mendapatkanya” Ucapnya.
Cerita atau Kisah ini diceritakan oleh Imam dan Khotib Masjid Rohmah, Cairo Egypt.
Dan untuk Shahih tidaknya tidak disebutkan. Meski demikian kisah ini perlu menjadi bahan perenungan untuk kita semua untuk lebih peduli terhadap sesama dan menjadikan bahan Hikmah diantara Hikmah.

Agama : Abdul Qadir dan Perampok



Setelah menginjak masa remaja, Abdul Qadir pun minta izin pada sang ibu untuk pergi menuntut ilmu. Dengan beat hati sang Ibu mengizinkannya. Oleh sang ibu, ia dibekali sejumlah uang yang tidak sedikit, dengan disertai pesan agar ia tetap menjaga kejujurannya, jangan sekali-sekali berbohong pada siapapun. Maka, berangkatlah Abdul Qadir muda untuk memulai pencarian ilmunya.
Namun ketika perjalanannya hampir sampai di daerah Hamadan, tiba-tiba kafilah yang ditumpanginya diserbu oleh segerombolan perampok hingga kocar-kacir. Salah seorang perampok menghampiri Abdul Qadir, dan bertanya,
“Apa yang engkau punya?”

Abdul Qadir pun menjawab dengan terus terang bahwa ia mempunyai sejumlah uang di dalam kantong bajunya. Perampok itu seakan-akan tidak percaya dengan kejujuran Abdul Qadir. Bagaimana mungkin ada orng engaku jika memiliki uang kepada perampok. Kemudian perampok itupun melapor pada pemimpinnya.
Sang pemimpin perampokpun segera menghampiri Abdul Qadir. Ia menggeledah baju Abdul Qadir. Ternyata benar, di balik bajunya itu memang ada sejumlah uang yang cukup banyak. Kepala perampokitu benar-benar dibuat seolah tidak percaya. Ia lalu berkata kepada Abdul Qadir,
“Kenapa kau tidak berbohong saja ketika ada kesempatan untuk itu?”
Maka Abdul Qadir pun menjawab, “Aku telah dipesan oleh ibundaku untuk selalu berkata jujur. Dan aku tak sedikitpun ingin mengecewakan beliau.”
Sejenak kepala rampok itu tertegun dengan jawaban Abdul Qadir, lalu berkata: “Sungguh engkau sangat berbakti pada ibumu, dan engkau pun bukan orang sembarangan.”
Kemudian kepalaperampok itu menyerahkan kembali uang itu pada Abdul Qadir dan melepaskannya pergi. Konon, sejak saat itu sang perampok menjadi insyaf dan membubarkan gerombolannya.

Agama : KISAH YU TIMAH, ORANG MISKIN YANG BERKURBAN

Namanya Yu Timah. Ia tergolong orang miskin dan menjadi salah seorang penerima program Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau Subsidi Langsung Tunai (SLT). Empat kali menerima SLT selama satu tahun, jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.
Rumah Yu Timah berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan, status tanah yang ditempati gubuk Yu Timah bukan milik sendiri.
Usia Yu Timah sekitar 50-an. Badannya kurus dan tidak menikah. Ia jadi anak yatim sejak kecil. Ia  hidup sebatang kara. Yu Timah pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung halamannya.
Para tetangga bergotong-royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren di kampungnya. Setelah emaknya meninggal, Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Ia biayai anak itu hingga tamat SD.
Yu Timah kembali hidup sebatang kara, ketika kemenakan pergi ke Jakarta. Ia mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus.
Meski uangnya tidak banyak, Yu Timah termasuk pandai mengelola keuangan. Ia masih menyisihkan uangnya untuk menabung di sebuah bank perkreditan rakyat (BPR) Syariah. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor bank, katanya ia malu sebab ia orang miskin dan buta huruf.
Ia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Setelah menjadi penerima SLT, Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.
Suatu hari ia datang ke kantor bank.”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup.
Bagaimana bila Senin?” kata petugas bank
”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”
”Mau ambil berapa?”.
”Enam ratus ribu, Pak.”
”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu. ”Saya mau beli kambing kurban, Pak! Kalau 600 ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”
Petugas bank terdiam, tertegun! Lama tak memberi jawaban. Ia lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah berkurban!
”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar 600 ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”
”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”
”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”
Wajah Yu Timah cerah seketika. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Ia pamit lalu pulang.
Setelah Yu Timah pergi, petugas bank termangu dan merenung:
“Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?”
“Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban!”
“Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.”
Sumber: Resensi.net

Agama : Pengertian Kafir

Mengenai kepemimpinan dalam ajaran Al Quran, tidak ada yang salah dengan Al Qur’an surat An Nisa’ ayat 144. Kalau kita analisis dalam gramatika bahasa Arab (Nahwu, Shorof, Balagoh) definisi kafir (berasal dari fiil madhi ka-fa-ro) itu adalah orang-orang yang ingkar nikmat, tidak mensyukuri karunia Tuhan dengan menyalahgunakannya pada hal-hal yang buruk, dengan berbagai bentuk kezaliman (termasuk di dalamnya adalah perilaku korupsi). Hal ini berdasar pada Al Qur’an surat Ibrahim ayat 7. “Bila kamu semua bersyukur pasti Aku tambah nikmat bagimu semua, dan bila kamu semua kafir (wa lain-kafar-tum, kafar/kafir=ingkar nikmat/tidak bersyukur) maka sesungguhnya azabku sangat pedih”.
Bukan Islam bahasa Arabnya adalah “laisal Islam”. Non muslim bahasa Arabnya “ghoirul muslim”. Sama sekali tidak ada literatur bahasa Arab yang menunjukkan bahwa non muslim atau bukan Islam bahasa Arabnya adalah kafir. Kalau kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, dimana kata ‘kafir’ telah mengalami divergensi makna sesuai pemahaman kebanyakan orang walaupun salah kaprah. Tapi bahasa Al Qur’an adalah bahasa Arab. Sebaiknya kita merujuk pada sumber aslinya.
Kafir dan Kufur adalah sama berasal dari fiil madhi ka-fa-ra. Kafir menunjukkan fa’il (subyek yang melakukan) sedangkan kufur menunjukkan jamak (banyak orang yang melakukan perbuatan kafara). Yang perlu dipahami definisi kafir selama ini adalah definisi yang justru tidak berdasar pada Al Qur’an. Jadi sebenarnya Al Qur’an surat An Nisa ayat 144 yang mengandung perintah jangan memilih pemimpin yang kafir adalah JANGAN PILIH PEMIMPIN YANG INGKAR NIKMAT.
Pemimpin yang menggunakan kekuasaannya bukan untuk kebaikan tapi untuk keburukan, kezaliman. Hampir semua kata-kata kafir dalam Al Qur’an dihubungkan dengan ingkarnya kenikmatan dan ketiadaan rasa syukur. Dan kafir itu bisa ditujukan juga untuk muslim itu sendiri, bila dia tidak mau bersyukur dan mengingkari nikmat Tuhannya. Kemudian dalam menafsirkan ayat Al Qur’an disamping membutuhkan kemampuan dalam gramatikal bahasa Arab (mengingat bahasa Al Qur’an adalah bahasa Arab dalam tingkat tinggi), juga memahami Asbanun Nuzul (konteks dan latar belakang diturunkan ayat Al Qur’an). Karena walaupun ayat Al Qur’an adalah firman Tuhan yang mempunyai sifat Mutlak (Absolut) ketika dia di ajarkan dan mencoba diaplikasikan dalam tataran manusia yang mempunya sifat Relativitas (bergantung pada yang lain) dia menggunakan bahasa manusia yang juga mempunyai sifat Relatif. Karena itu tidak pernah bisa ayat Al Qur’an dilepaskan dari konteks (Asbabun Nuzul).
Bila kita memahami Asbabun Nuzul Al Qur’an surat Al Maidah ayat 51 bahwa jangan pilih pemimpin dari orang Nasrani atau Yahudi maka sebenarnya pada saat itu terjadi imperialisme besar-besaran (perang/penyerangan/kezaliman) yang dilakukan oleh Kekaisaran Romawi (pada kebetulan saat itu menggunakan Nasrani sebagai agama nasional mereka) terhadap negeri-negeri di Jazirah Arab. Pada saat itu Muhammad SAW, membangun benteng yang kuat di Tabuk, bukan untuk menyerang tapi lebih untuk membela diri. Juga sebagai strategi menghadapi politik pecah belah (devide et impera) yang dilakukan orang-orang yang kebetulan beragama Yahudi untuk mengadu orang Islam dan orang Nasrani.
Sejarah berabad-abad lamanya telah mengajarkan pada kita bahwa pertumpahan darah akan terus menerus terjadi, lebih karena kepentingan politik dan ego masing-masing. Bila kita berpikir jernih semua ini bukan masalah agama. Sebelum turunnya agama, pertumpahan darah terus menerus terjadi. Karena agama apapun itu bisa ditafsirkan sesuai ego kita masing-masing, radikal, moderat atau liberal. Yang berbuat jahat atau berbuat baik bisa muncul dari orang apapun, dari agama manapun. Bukan masalah agamanya, tapi masalah orangnya. Maka sekarang sebenarnya siapa sebenarnya yang kafir? Sebenarnya adalah orang-orang yang berbuat kezaliman terhadap sesama dan membuat kerusakan di muka bumi. Intinya adalah mari hidup rukun dan damai. Berlomba-lomba dalam kebaikan dan menebarkan kedamaian di muka bumi serta mencari keselamatan dunia - akhirat.
Wallahu a’lam bishawab.
 http://politik.kompasiana.com/2012/08/07/pendapat-tentang-kepemimpinan-yang-kafir/




Rabu, 30 Mei 2012

Agama : Sebuah Apel dan Buah Hati

Sebuah Apel dan Buah Hati


<http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/cetak/sebuah-apel-dan-buah-hati>

Hari itu cuaca teramat panas, matahari memancar terik sejak pagi, anak
Khalifah Umar bin Abdul Azis yang paling bungsu sehabis bermain sejak pagi
berasa sangat lapar lalu meminta makanan daripada ibunya. Tetapi ketika itu
isteri Khalifa, Fatimah belum memasak sesuatu apapun.

“Pergilah berjumpa dengan ayahmu di baitulmal, mungkin dia dapat memberikan
kamu sesuatu yang dapat dimakan,” kata Fatimah.

Anak itupun berlari lari riang dan lucu mencari ayahnya. Ketika itu ia
melihat ayahnya Khalifah Umar bin Abdul Azis masih bersama beberapa orang
pegawainya untuk menimbang sejumlah buah apel untuk dibagikan kepada mereka
yang layak menerimanya.

Tiba tiba masuk seorang buah hati Khalifah yang kecil itu menuju tumpukan
buah apel, lalu mengambil sebuah apel dari tumpukkan dan lalu hendak
memakannya. Khalifah Umar bin Abdul Azis melihat anak kesayangannya
mengambil dan khalifah segera merebut paksa buah apel itu dari mulut
anaknya hingga buah hatinya menangis lalu berlari pulang ke rumahnya.

“Wahai Amirul Mukminin, anakmu itu sedang lapar, toh kita masih mempunyai
stok banyak buah apel untuk diberikan kepada orang banyak, sekiranya hilang
satu buah, tentu tidaklah menjadi kerugian,” kata Sahal, adik Khalifah Umar
bin Abdul Azis yang turut berada dan menyaksikan kejadian tersebut.

Sahal, tidak sampai hati melihat keponakannya yang sedang lapar itu
menangis ketika sebuah apel yang hendak dimasukkan kedalam mulut yang
direbut oleh ayahnya.

Khalifah Umar Abdul Azis hanya berdiam diri mendengar kata kata adiknya
ini. Hatinya sendiri ketika itu sedang gelisah. Dia terpaksa memilih antara
keridhaan Allah dengan keinginan anak kesayangannya. Dia memilih
mengutamakan keridhaan Allah.

Selesai kerjanya di baitulmal, Khalifah Umar pulang segera ke rumah.
Ditemui anak bungsunya yang sedang lucu lucunya, dan dia memeluk dan
mencium buah hatinya, tapi dia mencium harumnya buah apel pada mulut si
bungsu anaknya, Khalifah Umar segera memanggil Isterinya , Fatimah.

“Wahai Fatimah, darimana kamu dapatkan buah apel untuk anak kita?” Tanya
Khalifah Umar bin Abdul Azis.

“Anak itu sedang kelaparan tadi siang , dan ia ingin sekali memakan buah
apel, lalu akhirnya saya belikan sebuah di pasar, apel itulah yang
dimakannya untuk menahan rasa laparnya.” Jawab Fatimah.

Dengan wajah lapang dan sambil menangis Khalifah Umar bin Abdul Azis pun
bercerita kejadian tadi siang terkait dengan anak bungsunya dan ia
berkata,”Wahai isteriku Fatimah, ketika saya merebut buah apel itu dari
mulut anak kita, sungguh, saya merasakan seperti merengut jantung saya
sendiri. Tetapi apa daya karena saya sangat takut akan api neraka yang akan
membakar anak kita, jadinya saya rebut buah apel itu dari mulutnya.

Begitulah seorang hamba Allah, seorang Khalifah , mu’min ,muttaqin, yang
mencontohkan kehati hatiannya , yang mengharapkan seluruh keluarga bahkan
rakyatnya untuk mencapai surga Allah, beliau sangat khawatir barang barang
haram memasuki aliran darah di keluarganya.

Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan pemimpin dan pejabat Negara
ini…bagaimana dengan keturunan mereka? Apakah menikmati hasil atau harta
harta Negara atau fasilitas Negara yang di atur atur…Ya Allah lindungi kami
dan keluarga kami, para pemimpin kami , para ustadz kami, dan seluruh kaum
muslim agar kami dan mereka memperhatikan apa apa rezeki yang
dinikmatinya…(MM)

Agama : Nabi Muhammad Menerima Saran Dari Sohabat

Pertempuran besar akan terjadi. Rasulullah SAW dan pasukan Islam bergerak untuk mendahului kaum Musyrikin Quraisy sehingga mereka bisa menduduki tempat di dekat sumur Badar. Dengan begitu, mereka dapat menghalangi Quraisy dari sumur itu. Pada sore hari, mereka telah sampai di dekat sumur itu.

Saat itu berdirilah Hubbab bin Mundzir, “Wahai Rasulullah, apakah keputusan untuk menempati lokasi ini merupakan wahyu Allah, atau merupakan pendapatmu sebagai siasat dan taktik perang?”
Rasulullah SAW menjawab, “Ini merupakan pendapatku sebagai siasat dan taktik perang.”
Hubbab berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jika ini strategi yang lahir dari pendapatmu dan bukan merupakan wahyu, maka menurutku, kita harus berhenti di tepi sebelah sana sehingga kita lebih dekat dari mereka. Kita timbun sumur mereka, lalu kita penuhi sumur kita dengan air sehingga mereka tidak bisa menjangkaunya. Ketika berperang, kita bisa minum dengan leluasa, tetapi mereka kesulitan mendapatkan air sehingga tidak bisa minum.”
Lalu, Rasulullah SAW berkata, “Pendapatmu sangat tepat.”
Kemudian Rasulullah SAW bangkit membawa pasukannya sampai jarak mereka lebih dekat dengan sumur dari pihak musuh.
Demikianlah salah satu strategi jitu yang diterapkan oleh Rasulullah SAW dan pasukannya. Ternyata taktik perang yang disampaikan Hubbab sangat tepat. Pasukan Islam pun berhasil meraih kemenangan berkat taktik tersebut walaupun kenyataannya jumlah pasukan kafir jauh lebih banyak. Ketika pasukan kafir Quraisy kehausan, mereka lalu segera berhamburan meminum air dari sumur Badar. Dengan cepat pasukan Islam menyerang mereka hingga banyak di antara orang-orang kafir itu mati dan sebagian lagi lari terbirit-birit.
Inilah salah satu bukti keindahan akhlak Rasulullah SAW. Beliau mau menerima pendapat sahabatnya, padahal beliau seorang Nabi dan utusan Allah! Beliau adalah orang yang paling bertakwa. Apakah dengan cara yang dilakukan Rasulullah ini, para sahabat menjauhi dan menghina beliau? Ternyata tidak. Justru beliau semakin dicintai. Setiap titahnya semakin dihargai. Setiap kata-katanya diingat, dihafal, dan dijalani dengan sepenuh hati. Beliau tidak menang sendiri; pokoknya apa yang dikatakan harus dilakukan. Titik. Ternyata tidaklah demikian adanya. Bahkan beliau pernah meminta doa kepada salah seorang sahabatnya yang akan pergi haji ke Makkah. Hal ini menunjukkan kerendahhatian beliau.
Orang-orang yang tidak mengerti dan berpikiran pendek bisa saja mengatakan, “Lihat saja Nabimu. Dia minta pendapat kepada teman-temannya, bukankah dia seorang Nabi? Seharusnya seorang Nabi itu lebih mengetahui daripada orang lain. Dia juga minta doa kepada para sahabatnya, bukankah dia seorang Nabi? Jadi, mengapa dia harus meminta doa, bukankah doa yang dipanjatkannya selalu dikabulkan Allah?” Mereka tidak melihat sisi kemanusiaan Rasulullah. Mereka hanya memandang Rasulullah ada di atas sana, tidak terjangkau layaknya malaikat yang tidak pernah berbuat dosa atau bahkan menganggapnya sebagai Tuhan!
Rasulullah adalah orang yang sederhana. Tidak memiliki banyak harta. Andaikata para sahabatnya gila harta, tentu mereka meminta harta dari Rasulullah. Walaupun demikian, Rasulullah adalah orang yang dermawan. Beliau memberikan apa yang dimiliki dengan senang hati. Beliau pernah memberikan mantel bagus yang baru saja dipakainya. Oleh karena itu, bukanlah harta yang dikedepankan Rasulullah, tetapi akhlak mulia. Bukanlah pangkat dan jabatan yang bisa mengangkat derajat dan martabat seseorang, tetapi akhlak mulia!
Mungkin saja ada orang yang lebih banyak memberi daripada Rasulullah, tetapi tidak ada orang yang mampu menyamai akhlak beliau. Kadang orang memberi sedikit tapi yang diberi sangat senang bukan main. Si penerima sangat menghormati si pemberi. Padahal yang diberi hanya sedikit saja! Hal itu terjadi karena akhlak mulia si pemberi. Sebaliknya, ada orang yang banyak memberi, tapi di belakang si penerima tidak senang hati. Walaupun sangat membutuhkan terhadap apa yang diberi, tetapi dia tidak begitu peduli dengan si pemberi. Ya, hal itu terjadi karena akhlak buruk si pemberi. Saat memberi dia ingin di puji, sombong, dan ingin orang-orang yang diberi tunduk padanya. Bila tidak tunduk, dia sangat marah. Jadilah orang seperti ini dijauhi.
Rasulullah Saw. selalu mengedepankan akhlak. Meskipun yang dihadapinya seorang anak kecil. Keindahan akhlak memancarkan kemilau cahaya ke seluruh penjuru bumi. Ketiadaannya membuat orang-orang di sekitarnya sedih. Keberadaannya selalu dinanti-nanti.”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)
http://abu-farras.blogspot.com/2012/05/bukan-harta-tapi-akhlak-mulia.html
__._,_.___