Sabtu, 01 Agustus 2009

Pemasaran Bank : PERFORMA TOILET TOILET ADALAH GAMBARAN JIWA LAYANAN

PERFORMA TOILET TOILET ADALAH GAMBARAN JIWA LAYANAN
Tanggal:
04 May 2007
Sumber:
InfoBankNews.com
InfoBankNews.com, Bank Mandiri membuktikan diri sebagai bank BUMN yang memiliki performa toilet terbaik. Meski hanya menduduki urutan ketiga, BCA termasuk bank yang begitu perhatian terhadap penampilan toiletnya. Dua bank asing tersingkir dari sepuluh besar performa toilet terbaik. Apriyani Kurniasih
YANG diharapkan nasabah ketika bertransaksi dengan bank tidak hanya pelayanan yang memuaskan, ruang bank yang ber-AC (air conditioner atau pendingin ru­ang­an), serta petugas garda depan (front liners) yang murah senyum dan ramah. Meski tidak banyak, para nasabah juga mengharapkan kenyamanan dari sisi toilet. Untuk itu, bank wajib menjaga penampilan toiletnya agar tetap disukai nasabah. Seperti apa standar penampil­an toilet yang baik itu? Menurut Stephen Liestyo, Senior Manager Consumer Banking Bank Central Asia (BCA) melalui jawaban tertulis kepada Dwi Setiawati dari InfoBank, toilet merupakan gambaran dari “jiwa layanan”. Lebih lanjut, Stephen mengemukakan, standar toilet yang baik itu adalah kebersihan lantai, dinding, plafon, dan yang lain terjaga. Lalu, selalu tersedia tisu, sabun, air, dan tempat sampah. BCA sendiri begitu perhatian terhadap penampilan toiletnya. Buktinya, berdasarkan survei Marketing Research Indonesia (MRI) dan InfoBank kali ini, bank ini berhasil menempati urutan ketiga dalam sepuluh besar bank terbaik dalam layanan toilet. Padahal, sebelumnya, BCA bahkan tidak masuk sepuluh besar peringkat performa toilet bank. Untuk performa toilet, peringkat pertama ditempati Bank Mandiri, menyingkirkan The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) yang sebelumnya ber­ada di posisi puncak. Ini bukti bahwa bank-bank nasional, khususnya bank badan usaha milik negara (BUMN), sudah menguasai betul aspek-aspek pelayanan prima (service excellence), termasuk penampilan fisik, dalam hal ini toilet. Hal itu diperkuat lagi dengan banyaknya bank nasional yang masuk dalam sepuluh besar jawara performa aspek toilet, yaitu sembilan bank nasional, sisanya bank asing. Dua bank asing, yaitu Standard Chartered (Stanchart) Bank dan HSBC, harus tersingkir dari jajaran sepuluh besar bank terbaik dari segi performa toilet. Mungkin, karena terjadi penurunan kualitas. Atau, bisa jadi, bank-bank nasional memang mulai bagus dalam pelayanannya, terutama toilet. Selain HSBC dan Stanchart, dua bank lokal lain juga tidak mampu mempertahan­kan performa toiletnya. Mereka adalah Bank Niaga dan Bank Mega. Padahal, sebelumnya, dua bank ini masing-masing masih berada di posisi ketujuh dan kedelapan. Justru, ada empat bank yang dulu tidak masuk sepuluh besar sekarang berhasil masuk sepuluh besar. Mereka adalah BCA yang berada di posisi ketiga, Bank Internasional Indonesia (BII) di urutan ketujuh, Bank Negara Indonesia (BNI) di tangga kedelapan, dan Bank Bukopin di urutan terakhir. Memang, sudah seharusnya, bank-bank lebih perhatian terhadap penampilan toiletnya. Walaupun, ada bank yang mengaku agak kesulitan menjaga performa toiletnya. “Kalau kita menempati gedung milik sendi­ri, saya yakin, kebersihan toilet pasti terjaga. Standarnya adalah bersih, wangi, ada tisu, sabun, dan sebagainya. Saya pun sering melakukan sidak (inspeksi mendadak) untuk hal ini. Tapi, bagaimana kalau kita me­nempati gedung yang bukan milik kita sen­diri. Jadi, agak sulit mengontrolnya,” ujar Suwartini, Direktur of HR & Complience Bank Mega. Sepertinya, bank-bank nasional memang mulai perhatian (concern) terhadap implementasi pelayanan prima (service excellence). Bukan hanya orangnya yang diperhatikan, tapi juga tampilan fisik. Ini perlu didukung. Kita berharap, perbankan nasional terus meningkatkan pelayanannya. Sayang, kesadaran berbenah diri ini belum juga diikuti bank pembangunan daerah (BPD). Berdasarkan survei MRI, masih ba­nyak BPD yang kurang fokus terhadap pelayanan prima. Jangankan penampilan fisik, orangnya (people) saja masih banyak yang belum tergerak untuk memberikan pela­yanan prima kepada nasabahnya. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata BPD mengenai performa toiletnya. Dari sebelas BPD yang disurvei, nilai rata-ratanya hanya 79,81. Sangat jauh bila dibandingkan de­ngan perolehan nilai bank-bank umum non-BPD yang 94,21. Meski dalam survei kali ini hanya menduduki urutan kedelapan dalam performa toiletnya, Bank Sumut tetap berkomitmen meningkatkan kualitas pela­yanannya. Yang penting bagi Bank Sumut adalah adanya sinergi. Bagi Bank Sumut, pelayanan merupakan kewajiban dari semua pihak, baik pemimpin cabang, back office, CSO, teller, satuan pengamanan (satpam), operator telepon, sopir, office boy/office girl, maupun cleaning service. Pelayanan yang baik itu tidak hanya dilihat dari aspek orang (people) atau sumber daya manusia (SDM)-nya atau aspek fisiknya. Keduanya harus saling mendukung.

Jumat, 15 Mei 2009

Bersyukur

Sudahkah Anda Bersyukur Kepada Alloh Hari Ini ?

Khalifah Harun Ar Rasyid sedang dalam sebuah perjalanan melintasi sebuah gurun pasir menunggangi unta. Bersamanya Seorang Penasehat yang bijak, Ibnu As Samak. Perjalanan panjang di siang yang panas. Terik matahari membuat dehidrasi dan sang khalifah pun kehausan. Pada satu tempat yang teduh, Harun ar Rasyid menepi.

Ibnu Samak menawarkan segelas air sambil berujar, “Khalifah…, dalam kondisi panas dan tenggorokan kehausan, andaikata kau tidak dapatkan air untuk minum kecuali dengan harus mengeluarkan separuh kekuasaanmu, sudikah engkau membayar dan mengeluarkannya? !”

Tanpa pikir panjang khalifah ar Rasyid menjawab, “Saya bersedia membayarnya seharga itu asal tidak mati kehausan!”

Maka usai mendengarnya, Ibnus Samak memberikan segelas air itu dan khalifah pun tidak lagi kehausan.

Kemudian Ibnu Samak melontarkan pertanyaan lagi, “Khalifah, andai air segelas yang kau minum tadi tidak bisa keluar dari lambungmu selama beberapa hari tentulah amat sakit rasanya. Perut jadi gak keruan dan semua urusan jadi berantakan karenanya. Andai kata bila kau berobat demi mengeluarkan air itu dan harus menghabiskan separuh kekayaanmu lagi, akankah kau sudi membayarnya? ”

Mendengar itu, sang khalifah merenungi kondisi yang disebut oleh Ibnus Samak. Seolah mengamini maka khalifah menjawab, “Saya akan membayarnya meski dengan separuh harta saya!”

Mendengar jawaban dari sang khalifah, maka Ibnus Samak sang penasehat raja yang bijak kemudian berkomentar, “O…., kalau begitu seluruh Kekuasaan yang khalifah miliki itu rupanya hanya senilai segelas air saja!”

Air yang segelas itu.. adalah nikmat yang tak ternilai

“Jika kamu menghitung-menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya (menghitungnya). Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” ( QS. An Nahl : 18.)

Dan... Berapa ribu nikmat yang telah kita dustakan ?
Astaghfirulloh...

“Ya Robb-ku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridhoi. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang sholeh.” ( QS. An Naml : 19)
(kiriman dari : Gelar Gumelar)


Aa Gym : Ketika Kita Singgah Sejenak

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

KHAIFAHALUK IKHWAHFILLAH? ??

PERSEMBAHAN UNTUK SAUDARAKU YANG DICINTAI DAN MENCINTAI ALLAH

KETIKA KITA SINGGAH SEJENAK

Oleh:KH. Abdullah Gymnastiar

Bayangkanlah bila suatu ketika ada seseorang yang menjan-
jikan hadiah berupa sebuah rumah mewah lengkap dengan isinya.
Begitu indah dan sempurnanya rumah itu, sehingga baru
membayangkannya saja Anda sudah merasakan suatu kenikmatan dan
kebahagiaan tersendiri. Rumah itu terletak di kota "A" dan
anda diminta untuk pergi sendiri ke sana. Diberinya anda
sejumlah ongkos untuk bekal selama perjalanan hingga sampai
tujuan. Tetapi di tengah perjalanan nanti Anda diminta singgah
terlebih dahulu disebuah kampung. Ya, sekedar singgah sejenak!

Sungguh termasuk orang yang malang apabila ketika sampai
di kampung tersebut Anda malah terpana dan lalu menganggap
kampung tersebut teramat indah. Melihat gubuk disangka istana.
Melihat kolam kecil disangka danau. Bahkan melihat kue serabi
anda sangka martabak spesial. Pendek kata, mata dan penilaian
Anda menjadi kabur dan tertipu oleh karena keterpanaan yang
menerpa.
Saking merasa senangnya Anda dengan kampung itu, sampai-
sampai lupa dengan pesan semula bahwa anda hanya disuruh
singgah sejenak saja. Anda tinggal berlama-lama di sana dan
tentu saja ongkos pemberian yang cukup untuk sampai tujuan itu
malah anda habiskan di kampung itu. Akibatnya, tidak usah
heran ketika yang menyuruh dan memberi ongkos akan murka
tatkala mengetahui Anda ternyata tidak pergi ke kota yang
diminta.



Nah, ketahuilah bahwa kota "A" itu tiada lain adalah
akhirat, sedangkan kampung yang anda hanya disuruh singgah
sejenak itu tak lain pula adalah kampung dunia ini.

Salahkah apabila Dia Yang Mahabaik itu, yang telah
menjajikan surga Jannatun Na'im - padahal apapun yang
dijanjikanNya pasti ditepati dan tidak akan meleset sedikitpun
- dan tak lupa pula memberi bekal perjalanan yang cukup berupa
karunia nikmat rizki, tidak menyembunyikan "kekecewaannya"
melihat tingkah laku kita yang tak pandai manjaga amanah,
dengan berfirman, "Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja)
dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan)
akhirat adalah lalai?" (Q.S. Ar Ruum 30: 7)
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda gurau dan
main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya
kehidupan kalau mereka mengetahui," demikian firmanNya pula.
(Q.S. Al Ankabuut 29: 64)

Kebanyakan di antara kita ternyata memang gemar bertindak
yang "mengecewakan" seperti itu. Kampung dunia ini sebenarnya
tidak ada apa-apanya, namun sebagian besar orang ternyata
terpedaya oleh keindahan fatamorgananya. Padahal, semua yang
dititipkan Alloh kepada kita, baik berupa otak, tenaga, harta,
waktu, dan sebagainya, itu semua sebenarnya bukan untuk
kampung dunia ini karena ia hanyalah tempat mampir atau
singgah sejenak saja.

Dunia tak lebih sekedar tempat transit belaka kendatipun
untuk ini Alloh Azza wa Jalla pasti mencukupi kita dengan
rizkinya. Dengan catatan, sepanjang "ongkos" tersebut tidak
dhamburkan sia-sia. Alloh memampirkan kita di dunia ini seraya

tahu persis akan segala apa yang kita butuhkan, lebih tahu
daripada apa yang sebenarnya kita perlukan, kalau ongkos yang
ada itu kita jadikan betul-betul untuk bekal kepulangan nanti,
maka subhanallah, kita akan kaget bahwa betapa Alloh akan
mencukupi kita dengan limpahan karunianya.

Akan tetapi, sayang sebagian besar orang tidak mengerti
bahwa semua yang dititipkan Alloh itu sebenarnya untuk bekal
pulang, sehingga seluruh waktunya habis tandas hanya untuk
mengejar-ngejar segala hal yang bersifat duniawi. Padahal
tidak akan kemana-mana dunia ini. Bukankah ketika masih
berada di rahim bundapun kita tetap diberi dunia (rizki)
padahal toh kita tidak berdoa, tidak shalat tidak ikhtiar ke
mana pun.

Kita memang disuruh menyempurnakan ikhtiar, tetapi bukan
semata-mata untuk mencari dunia. Ikhtiar kita secara sempurna
pada hakikatnya untuk bekal kepulangan kita ke akhirat kelak.
Jadi, jaminan dari Alloh untuk kehidupan dunia ini sebenarnya
ditujukan kepada orang yang bersungguh-sungguh menyempurnakan
ikhtiarnya.

Untuk bekal kehidupan dunia ini, rejeki itu oleh Alloh
dibiarkan tergantung. Lalu, Dia seolah-olah berfirman, "Ini
rejekimu, kalau engkau ikhtiar, akan kau dapatkan apa yang
telah ditetapkan bagimu. Kalau ikhtiarnya di jalanKu, maka
tidak hanya rejekimu yang kau dapati, tetapi pahalapun akan
engkau peroleh. Itulah keberkatan untukmu; di dunia
ternikmati, di akhiratpun jadi manfaat. Sebaliknya, bila
ikhtiarmu itu di jalan yang Aku murkai, yakni niat maupun
caranya tidak benar, maka tetaplah akan kau dapati apa yang
telah menjadi bagianmu, hanya, berubah statusnya menjadi
haram. Rejekinya tetap didapat tetapi tidak mengandung manfaat
dan keberkahan.

Memang, ada sebagian orang yang selama hidupnya begitu
sibuknya banting tulang, seakan-akan takut tidak kebagian
makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpulkannya dengan
seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.

Ada juga orang yang ketika hidup ini teramat sibuk
merindukan penghargaan sehingga dia capek menata rumah, capek
membeli ini itu, capek mematut-matut diri dengan motivasi
semata-mata ingin dihargai orang. Disisi lain ada juga orang
yang hidupnya hanya mencari kepuasan, sehingga uang yang telah
dikumpul-kumpulkann ya dipakainya untuk pergi melancong kemana
saja yang dia suka.

Bagi orang yang tahu hakikat kehidupan ini, maka pastilah
yang dicarinya itu bukan dunia, melainkan Yang Memiliki Dunia!
Kalau orang lain bekerja banting tulang untuk mencari uang,
maka kita bekerja demi mencari Yang Membagikan Uang. Kalau
orang lain belajar ingin mencari ilmu, maka kita belajar
karena mencari Yang Memberi Ilmu. Kalau orang lain sibuk
mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama,
maka kitapun sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan
penghargaan dan pujian dari yang Yang Maha Menggerakkan
siapapun yang menghargai.

Jadi jelas perbedaannya, Bagi orang yang tujuannya dunia,
pasti kesibukannya hanya sebatas ingin mendapatkan itu saja.

Sedangkan bagi yang tahu ilmunya, maka yang dicari itu
langsung tembus kepada pemilik dan penguasa segala-galanya.
Bagi sebagian orang, tatkala membutuhkan uang, tetapi uang itu
tidak didapatkan, jelas yang muncul adalah rasa kecewa.
Sebaliknya bagi kita, saat membutuhkan uang, maka kita
berikhtiar sekuat tenaga bukan untuk mengejar uang semata,
malainkan Allohlah yang kita kejar. Soal dapat atau tidak
dapat tak ada masalah karena Alloh tidak akan pernah lupa
memberikan karuniaNya. Kesibukan kita berikhtiar pasti sudah
dicatat oleh Alloh. Tidak ada yang rugi, tidak ada pula yang
gagal.

Kalau orang bekerja karena ingin dihargai, maka bagi kita
semua itu tidak ada apa-apanya karena Allohlah sebagai
penguasa alam semesta yang menjadi tujuan segala perbuatan
kita. Kadang-kadang penghargaan manusia justeru menjadi ujian
bagi kita. Sebab manakala seseorang memuji kita, maka
hakikatnya bukanlah karena kita layak dipuji, melainkan karena
Alloh saja yang menutupi segala aib dan keburukan kita,
sehingga orang menyangka kita ini layak dipuji.

Bagi orang yang mengetahui rahasia di balik suatu
kejadian, datangnya pujian itu akan membuatnya tambah malu
karena itu berarti Alloh memperlihatkan sesuatu, bahkan tidak
jarang pujian itu ternyata lebih baik dari kenyataan
sebenarnya yang ada pada diri kita. Kalau kita mau jujur,
sungguh tidak pantas dan tidak cocok pujian itu dialamatkan
kepada kita. Karenanya, janganlah lekas terpana oleh pujian
manusia .

Mengapa ada orang yang bisa mendaki gunung walaupun
dengan bekal dan alat seadanya? Mengapa ada orang yang berani
menyeberangi lautan walaupun hanya dengan menggunakan perahu
sederhana?
Jawabnya, karena kekuatan terbesar adalah motivasinya.
Demikian halnya kalau motivasi kita hanya sebatas dunia ini,
maka tidak usah heran kalau dia akan mudah terpedaya. Akan
tetapi, tidak akan pernah lelah kita mencari apapun juga
karena yang kita tuju adalah Dia Yang Maha Perkasa!

Walhasil, tampaknya wajib bagi siapapun menyadari bahwa
dunia ini hanya tempat singgah sejenak belaka, kalaulah Alloh
berfirman, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan
Alloh kepadamu (Kebahagiaan) negeri akhirat, (tetapi)
janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi"
(QS. Al Qashas 28: 77). Maka itu semata-mata dimaksudkan agar
kita pandai mensyukuri apapun yang telah dianugerahkan Alloh
kepada kita selama hidup didunia ini. Adapun kebahagiaan dan
kenikmatan yang kekal dan hakiki, itulah yang akan kita dapati
di akhirat.

***
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -----

HARAPAN ITU MASIH ADA,

SEMANGAT DAN BERBUATLAH SELAGI KITA BISA

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Rabu, 10 Desember 2008

The Best Team Bank Duta Cabang Tasikmalaya




Sebuah peristiwa yang sangat mengharukan bagi kami, ..................tepatnya bulan Mei 2000, nama Bank Duta sudah tidak beredar lagi di dunia perbankan karena merger dengan Bank Danammon, kami seluruh karyawan Bank Duta Cabang Tasikmalaya sepakat untuk tidak ikut bergabung dengan Bank Danamon, temen-temen merasa lebih terhormat untuk memilih PHK. Setelah PHK sudah barang tentu masing-masing karyawan punya jalan hidup sendiri-sendiri. padahal kami telah dipersatukan dalam suka dan duka selama kurang lebih 10 tahun.

Kami adalah team yang sangat solid, profesional dan penuh kekeluargaan............

Kini kami telah benar-benar telah berpisah......semoga kekeluargaan kita bisa terus terbina.



Inilah perjalanan kami


Apabila kita mengenang Cabang Tasikmalaya, kita juga mengenang dwi tunggal Founding Father yang “memproklamirkan Bank Duta Cabang Tasikmalaya pada tanggal 11 November 1990, Bapak Rifdan Aminoe’ddin dan Bapak Nurdin Khusnaedi. Lokasi Melalui tangan terampilnya Gedung Cabang Tasikmalaya berdiri di Kota Tasikmalaya, tepatnya di Jalan Sutisna Sejaya No. 46 Tasikmalaya.

Hampir 40 orang direkrut sebagai karyawan untuk bergabung dengan Bank Duta, sebagian dilakukan penyaringan di Tasikmalaya dan sebagian lagi “dibedol” dari Karyawan Cabang Bandung. Sebagai “Kawah Candra Dimuka” dalam menyiapkan karyawan baru itu ditunjuk Cabang Bandung, disanalah kami harus “pasedek sedek” untuk mencari ilmu sebagai trainne, yang sebelumnya “berbulan madu” terlebih dahulu di Rosan Villa Lembang dan Hotel Istana untuk belajar CCP. Peresmiannya ditanda-tangani oleh Bapak Winarto Sumarto.

Saat pembukaan kantor “badai margint trading” belum reda, sudah datang “taufan” TMP yang melibas perekonomian Indonesia. Alhasil pada saat Cabang Tasikmalaya dibuka, bencana demi bencana datang bertubi-tubi. Namun berkat kepiawaian dari Pa Rifdan dan Pa Nurdin cabang Tasikmalaya bisa bertahan bahkan sudah meraup laba bulanan pada tahun pertama.

Bapak Dicky Nugraha dan Bapak Harry Mulyana, kemudian menggantikan Pa Rifdan dan Pa Nurdin. Cabang Tasikmalaya pernah meraih prestasi cabang terbaik se Bank Duta.

Selanjutnya Pak Harry dan Pak Max menggantikan menjadi management cabang dan berhasil melakukan “reformasi politiknya” menjadi demokrasi “buka-bukaan”. Hasilnya …..?, neraca cabang yang seakan-akan membengkak hampir 4 kali lipat, yang paling berkesan saat di tanda-tanganinya 13 produk kerja sama dengan Posindo.

Hasil jerih payah dan kerja keras para karyawan Cabang Tasikmalaya tersebut seakan-akan hilang musnah tertiup oleh “badai merger”. Hampir seluruh nasabah bermata sembab menahan tangisnya sepeti tidak ada lagi tawa ria ketika dia mampir di Bank Duta, hampir seluruh nasabah merasa putus asa seperti tidak ada lagi bank yang dapat mendengar keluh-kesahnya, hampir seluruh nasabah merana seperti ditinggal kekasih hatinya,…………Namun kita tidak pernah putus asa seperti kata pepatah Champion may not always win, but they never quit, “Si Juara tidak selalu menang, tetapi Si Juara tidak pernah “peunggas harepan”.
Sahabat kami yang tak terlupakan
HARRY MULYANA
MAXMILLIAN DONOVAN LASAMBOUW
AGUS KRISNAYAKA
DADI MULYANA
AGUS HENDRADIMAJA
HERU SUSANTO
LUKITO EDHI SARTONO
ANAS MINHARYANTO
YENI MARYANI
BETI BADRIATI
LINA MELANI
N. ADAH ROSIDAH
YANTO DARMAWAN AGUSTIN
NGAENAN
ADE HENDRA WAHYUDI
JUARSA
TJETJEP ROEKMANA
PANJI PERMANA
AGUS RIVA'I
DONO RAHARDJO
MULDANI LAMSANA SAMOSIR
DINA CAHDIANA
ARINA BUDIARTI
TIURLAN VERANITA
TATANG MULIAWAN
RUDYONO
AGUS HENDRA SAPUTRA,
AHMAD SJAFARDI
ASEP
BUDI "UBUD" RAHAYU
DEDE SUPRAYITNO
DEWI HAMZAH
DJOKO SUKARDONO
DICKY NUGRAHA KARYA BUDI
EDDY MULIA SETIADI
EKO BACHTIAR
ENDANG (ALMARHUM)
ERNA ROSANA
ERWIN
HELMI
HILMAN "ILLA" DJAJADIREDJA
HILMAN PURAKUSUMAH
HINE
LIA NURDIAWATI
LIA NURLIANA
MOH. "MBO" EFFENDDY
MOH. HERRY FADILLAH
NURDIN KHUSNAEDI
POSMA DP SAMOSIR
RACHMAT
RENNY YUFRIANI RESI
RIFDAN AMINOE'DDIN
SUSI EKA SUSANTI
TANTAN RUCHIYAT
TAVADI RISMAYUDA
TEDDY WIRAKUSUMAH
TETTY NURHAYATI
TINA CARLINA
WAWAN
WAWAN RAHMAT IRAWAN
WINA SULISTIANE
YEMI
YOKE
KASUP
ENGKUS
DENI
DODO
ENTIS
HAER
HENDI
IWAN
JAJANG
LILI
NANANG
NOVI
PIPIN
TATANG
TIAR
USEP
WAWAN
YANA
AKI ENCEP

Jumat, 28 November 2008

Temu Alumni ESQ di Makasar

Selama dua hari, Kota Ma­kassar dipadati 10.000 alumni ESQ. Mereka ber­asal dari berbagai daerah di Indonesia, Malaysia, Ero­pa dan Amerika Serikat. Keda­tangan mereka untuk mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Komunikasi Alumni (FKA) ESQ Ke-3 dan Temu Alumni ESQ Internasional Ke-3, 22-23 November. Mereka merupakan per­wakilan dari 32 Koordinator Wi­layah (Korwil) Provinsi dan 112 Koordinator Daerah (Korda) Kotamadya/Kabupaten serta sembilan Korwil FKA Internasional.
“Saya sangat menyambut gembira kedatangan para alumni ESQ ke kota kami. Karena saya tahu alumni-alumni tersebut adalah orang yang berkepribadian baik,” kata Gubernur Sulawesi Selatan DR Syahril Yasin Limpo, SH, MH.
Saking gembiranya, ia langsung menginstruksikan Sekretaris Pro­vinsi untuk mendukung penuh aca­ra besar tersebut. ”Banyak pe­ga­wai saya kerahkan untuk mengikuti dan membantu panitia demi kesuksesan acara,” kata Syahril lagi.
“Puluhan pelatihan dari ber­ba­gai negara telah saya ikuti. Na­mun, ternyata pelatihan yang saya cari-cari ada di negara saya sendiri. Sebab pelatihan ini yang paling menyentuh kalbu saya,” ungkap Syahril saat ditanya peng­alamannya mengikuti training ESQ.
Acara tersebut berlangsung me­riah, sejak pembukaan hingga penutupan. Berbagai kegiatan di­ge­lar mulai dari rapat kerja, atraksi kesenian daerah hingga gerak jalan.
Dalam Rakernas yang dilaksa­nakan di Convention Hall, Cele­bes Convention Center (CCC), Makas­sar, hadir tokoh nasional yang merupakan alumni ESQ. Mereka antara lain Ketua Dewan Pembina FKA ESQ Azwar Anas, mantan Rektor UI Prof Usman Chatib Warsa dan mantan Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Syamsul Mappareppa.
“Rakernas sebagai wadah me­nya­tukan kebersamaan, menya­ma­kan visi dan misi untuk mewu­judkan Indonesia Emas 2020,” ujar Ketua Umum FKA ESQ Ary Ginanjar.
Menurut Ary, Rakernas dan Te­mu Alumni kali ini sangat stra­­tegis karena bertepatan de­ngan krisis keuangan global yang berasal dari jantung kapitalisme dunia, Amerika Serikat. “Akar ke­run­tuhan ekonomi global ada­­lah paham kapitalisme yang mendewakan materi dan meng­hasilkan ketamakan yang berujung pada kebangkrutan eko­no­mi,” kata Ary.
Untuk mengatasinya, tak cukup hanya dengan solusi ekonomi atau yang bersifat intelektual semata. Namun harus ada usaha yang lebih fundamental dan ber­jangka panjang. “Kita harus me­lakukan transformasi nilai dari mate­rial­isme ke spiritualisme yang mengutamakan nurani,” ujar Ary.
Krisis ekonomi global ini, Ary melanjutkan, merupakan mo­­men­­tum perubahan nilai dari materialisme kepada spiritual­isme.” Untuk itu, “Kita tegaskan bahwa FKA ESQ menjadikan 7 Budi Uta­ma sebagai aplikasi nilai nilai spiritualitas,” ujar penerima gelar Doktor Honoris Causa di Bidang Pendidikan Karakter dari Universitas Negeri Jogjakarta itu. Tujuh Budi Utama ESQ adalah Jujur, tanggungjawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil dan peduli.