Selasa, 09 April 2013

Doa untuk Putraku



Tuhanku...

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.


Tuhanku...

Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.

Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar
untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.


Berikanlah hamba seorang putra
yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.

Putera yang berhasrat
Untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya...
Berikan dia cukup Kejenakaan
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.


Tuhanku...

Berilah ia kerendahan hati...
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki...
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna...
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
hamba, ayahnya, dengan berani berkata "hidupku tidaklah sia-sia"


Puisi yang ditulis oleh Jenderal Douglas MacArthur tersebut merupakan sebuah puisi yang luar biasa. Puisi itu adalah sebuah cermin seorang ayah yang mengharapkan anaknya kelak mampu menjadi manusia yang ber-Tuhan sekaligus mampu menjadi manusia yang tegar, tidak cengeng, tidak manja, dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.

Seperti contoh sepenggal puisi di atas yg berbunyi: "Janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan." Puisi ini menunjukkan bahwa sang jenderal sadar tidak ada jalan yang rata untuk kehidupan sukses yang berkualitas.

Seperti kata mutiara yang tidak bosan saya ucapkan: "Kalau Anda lunak pada diri sendiri, kehidupan akan keras terhadap Anda. Namun, kalau Anda keras pada diri sendiri, maka kehidupan akan lunak terhadap Anda."

Untuk itu, jangan kompromi atau lunak pada sikap kita yang destruktif, merusak, dan cenderung melemahkan. Maka, senantiasalah belajar bersikap tegas dan keras dalam membangun karakter yang konstruktif, membangun, demi menciptakan kehidupan sukses yang gemilang, hidup penuh kebahagiaan!!


Source : http://rgoesasi.blogspot.com

Jumat, 15 Maret 2013

EMOTIONAL SPIRITUAL QUOTIENT (ESQ)

EMOTIONAL SPIRITUAL QUOTIENT (ESQ)
http://kendyferdian.wordpress.com/2012/10/21/emotional-spiritual-quotient-esq/

A.Dasar Pemikiran

” Apabila manusia melakukan pendekatan diri kepada Tuhan Pencipta mereka dengan bermacam macam kebaikan, maka mendekatlah engkau dengan akalmu, niscaya engkau merasakan nikmat yang lebih banyak, yaitu dekat dengan manusia di dunia dan dekat dengan Allah di akhirat.” ( Hadits Rasulullah )



Manusia terdorong untuk mencari, mengapa ia tidak puas dan mengapa dia tidak bahagia. Dorongan yang membuat seseorang tanpa sadar mencari cari melalui dunia sehingga pada akhirnya banyak yang berkiblat kepada dunia, tetapi sebenarnya mereka tengah melakukan perjalanan pencarian makna kehidupan.

Ada manusia yang menyadari bahwa dirinya sedang melakukan pencarian yaitu” pencarian jati diri “, namun banyak juga yang tidak menyadari akan hal itu. Inti pencarian tersebut diatas ternyata dialami juga oleh tiga orang manusia besar di dalam sejarah : Ibrahim, Musa dan Muhammad, yang mendapatkan keyakinannya melalui sebuah proses yang panjang.

Proses pencarian itu dialami Nabi Ibrahim atau Abraham, beliau mencari di balik bintang, bulan dan matahari. Beliau terus bertanya dan mencari, sehingga beliau menemukan jawabannya. Begitu pula dengan Nabi Musa atau Moses, beliau menaiki Gunung Sinai, dan mencari keyakinan akan Tuhan. Nabi Musa berkata :

” Tuhanku tunjukanlah kepadaku, agar aku bisa melihat-Mu.” Kemudian Tuhan pun menjawab : ” Musa, kau takkan bisa melihat-Ku. Tapi lihatlah gunung itu, apabila ia tetap tegak berdiri, maka kau akan melihat-Ku, Musa.” Kemudian tatkala Tuhan pun memperlihatkan diri-Nya dihadapan gunung itu, maka gunung itu hancur terpecah belah. Nabi Musa tersungkur, jatuh pingsan, ketika beliau sadar, dia berkata : ” Maha Suci Engkau, kami bertaubat pada-Mu, dan aku menjadi orang yang pertama beriman.” Musa pun mendapatkan keyakinan akan eksistensi Tuhan dan kehidupan.

Pencarian juga dialami oleh Nabi Muhammad s.a.w, beliau gelisah melihat keadaan kaumnya saat itu hingga selama bertahun tahun naik turun gua Hira untuk mencari jawaban akan makna kebenaran dan hakikat kehidupan. Inilah perintah dari Tuhan agar manusia mencari dan menyadari siapa dirinya dan darimana dia berasal, inilah makna kehidupan.

Pencarian tersebut diatas menuntun kearah kecerdasan emosi dan spiritual atau dikenal dengan istilah Emotional Spiritual Quotient atau ESQ, pembentukan dari ESQ itu adalah bermula dari Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam.



B.Rumusan Masalah

Berdasarkan pada dasar pemikiran tersebut diatas, maka kami mencoba merumuskan beberapa masalah yang akan diuraikan secara rinci, uraiannya adalah sebagai berikut :

1. Apakah Ihsan ( Zero Mind Proses ) ?

2. Bagaimana Rukun Iman ( Mental Building ) ?

3. Bagaimana Rukun Islam ( Personal Strenght dan Social Strenght ) ?



C.Tujuan Pembahasan

Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk mengetahui dan memberikan hal kajian

dari IlmuTasauf , tujuan hal tersebut diatas akan diuraikan sebagai berikut :

1. Untuk dapat mengetahui Ihsan ( Zero Mind Proses ).

2. Untuk mengetahui Rukun Iman ( Mental Building ).

3. Untuk dapat mengetahui Rukun Islam (Personal Strenght dan Social Strenght).


BAB II

EMOTIONAL SPRITUAL QUOTIENT ( ESQ )


Emotional Spiritual Quotient adalah merupakan konsep tentang bagaimana membangun sebuah kecerdasan emosi dan spiritual ( ESQ ), cara cara pemeliharaan dan metode metodenya dengan unsur pembentuk Ihsan ( Zero Mind Proses / Pikiran Bersih atau Penjernihan Emosi ), Rukun Iman ( Mental Building / Membangun Mental ) dan Rukun Islam ( Personal Strenght dan Social Strenght atau Ketangguhan Pribadi dan Ketangguhan Sosial ).


A. IHSAN ( ZERO MIND PROSES )

Setiap manusia telah dikarunia oleh Tuhan sebuah jiwa, yang dengan jiwa itu dia bebas menentukan pilihannya. Dalam Al Qur’an sebelum manusia diciptakan, ruh manusia telah mengadakan perjanjian dengan Tuhannya. Firman Allah S.W.T didalam Al Qur’an surat Al Araf ayat 172 -173, menunjukan pula sebuah fitrah iman agama ataupun akidah pada diri manusia : “Dan ( ingatlah ) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, ( seraya berfirman ) : ” Bukankah Aku ini Tuhanmu ?” Mereka menjawab : “Betul ( Engkau Tuhan kami ), kami menjadi saksi.” ( Kami lakukan yang demikian itu ) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan : ” Sesungguhnya kami ( bani Adam ) adalah orang orang yang lengah terhadap ini ( ke-Esa-an Tuhan). ” Atau agar kamu tidak mengatakan : ” Sesungguhnya orang orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak anak keturunan yang ( datang ) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang orang yang sesat dahulu.” ( QS 7 : 172 – 173 )

Manusia bila hendak berbuat keburukan suara hati nurani akan melarangnya jika manusia tetap melakukan perbuatan yang buruk dan tidak sesuai dengan nurani dia akan menyesalinya, penyesalan ini merupakan tanda kembali kepada Tuhannya, jawaban suara hati sesuai dengan sifat sifat Allah dalam Al Qur’an ( Asmaul Husna ).

Dalam Ihsan adalah berkaitan dengan nilai nilai dalam hati, baik didalam hal kebebasan hati , bimbingan suara hati , kasih sayang atau makna kesetiaan sehingga ketika suara hati secara universal mengakuinya maka jiwa pun akan membenarkanya.

Suara hati akan terbelenggu dan akan tidak dapat melihat nilai nilai universal tersebut diatas yang dapat menjerumuskan kepada hal hal yang buruk, belenggu suara hati tersebut adalah diantaranya :

1.Prasangka buruk.

2.Prinsip hidup.

3.Pengalaman

4.Kepentingan.

5.Sudut pandang.

6.Pembanding.

7.Fanatisme.



A. Sadar Diri

Cara berfikir sesorang akan dipengaruhi oleh belenggu suara hati, sehingga kemampuan untuk melihat sesuatu secara jernih harus didahului oleh kemampuan hal mengenali faktor faktor yang mempengaruhi kejernihan pikir dengan mengembalikan manusia kepada fitrahnya sehingga akan mampu melihat dengan matahati, mampu di dalam menentukan pilihan dan memprioritaskan dengan benar sesuai suara hati.

Cara membangun kekuatan pikiran bawah sadar untuk selalu suci dan akan menjadi sumber kekuatan salah satunya adalah dengan ucapan Subhanallah atau pun dengan dzikir dan tasbih dan hal ini akan mengendalikan kejernihan pikir ( repetitive magic power ). Di dalam shalat proses berpikir jernih dilambangkan dengan Takbiratul Ihram, sedangkan dalam ber – Haji adalah Ihram.

”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama ( Allah ). (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. ( QS 30 : 30 )



B.Hasil ZMP

Kebebasan berpikir dengan menyucikan pikiran akan selalu menghasilkan hal hal yang baru, hal ini pula yang menjadi kekuatan ummi – nya Rasulullah diajarkan melalui penjernihan pikiran dengan perantaraan baju Ihram dalam Haji,takbiratul ihram dalam Shalat dan berwudlu sebelum Shalat.



C.Aplikasi

Dalam menghadapi sebuah masalah atau pun peluang, kenalilah diri sendiri sebelum melakukan respon dan menentukan pilihan, lakukanlah hal repetitive magic power, dzikir asmaul Husna dan ucapkan Subhanallah sambil mengingat kesucian sifat sifat Allah.

Melakukan Istigfar sambil berintrospeksi dan evaluasi diri, berdoa dengan khusyu, ketika membersihkan muka niatkan untuk membasuh mata dan wajah dari hal pandangan hina dan kemunafikan, ketika membasuh tangan dan kaki niatkan untuk membersihkan diri dari dosa yang dilakukan tangn dan kaki serta melontarkan ketujuh (belenggu suara hati) jumrah di hati.



B. RUKUN IMAN ( MENTAL BUILDING )



Setelah muncul kejernihan hati dan mampu mengatasi belenggu suara hati maka akan timbul kesadaran spiritual dan memiliki suara hati spiritual ( self conscience ) sehingga akan dapat membangun kecerdasan emosi melalui 6 ( enam ) prinsip di dalam Rukun Iman, yang mempunyai karakteristik sejalan dengan hati nurani manusia dan merupakan cerminan kehendak Allah Yang Maha Sempurna.



1.Star Principle

Membangun prinsip Bintang sebagai pegangan hidup.

Timbulnya perbedaan pada setiap orang saat menentukan suara hati mana yang harus diikuti adalah karena perbedaan keinginan dan prioritas pada setiap orang tetapi akan lebih mudah memahami diri sendiri apabila telah memahami makna dari 99 suara hati ( 99 Asmaul Husna ), karena akan memiliki radar hati yang mampu merasakan keseluruhan sifat sifat Allah yang merupakan dasar pemahaman suara hati manusia.

Hasil yang didapatkan diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Integritas.

b. Rasa Aman.

c. Situasi terus berkembang.

d. Kepercayaan diri.

e. Intuisi.

f. Sumber Motivasi.



2.Angel Principle

Memiliki prinsip Malaikat agar selalu dipercaya oleh orang lain.

Malaikat adalah makhluk mulia dan sangat dipercaya Tuhan untuk menjalankan segala perintah – Nya, prinsipnya tunggal : hanya mengabdi kepada Allah SWT. Dan memiliki kesetian tinggi, tiada rasa lelah, disiplin dan semua yang berada didalam hal tanggung jawabnya berjalan dengan sangat sempurna.Keteladananya adalah dalam hal menjaga teguh kepercayaan, memiliki loyalitas dan integritas yang sangat tinggi.

Hasil yang diperoleh dari prinsip tersebut diatas diantaranya adalah :

a.Integritas dan Loyalitas.

b.Komitmen.

c.Kebiasaan Memberi dan Mengawali.

d.Kebiasaan Menolong.

e.Saling Percaya.



3.Leaderships Principle

Memiliki prinsip Kepemimpinan yang menjadikan pemimpin berpengaruh.

Orang dengan prinsip teguh akan menjadi seorang pemimpin melalui suatu pengaruhnya yang kuat, selama ini sering terjadi kekeliruan pemahaman tentang arti kepemimpinan, banyak orang mengartikanya sebagai kedudukan atau posisi yang tinggi saja, sehingga posisi pemimpin diincar demi mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam sebuah kelompok, padahal setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri tetapi dimata Tuhan adalah sama karena semua manusia adalah Khalifah – Nya dimuka bumi.Tingkatan tangga kepemimpinan yang dihasilkan adalah sebagai berikut:

a.Pemimpin yang dicintai.

b.Pemimpin yang di percaya.

c.Pemimpin sebagai pembimbing.

d.Pemimpin yang berkepribadian.

e.Pemimpin yang abadi.



4.Learning Principle

Menyadari pentingnya prinsip Pembelajaran yang mendorong pada kemajuan.

Pentingnya berpikir serta belajar adalah sangat dimuliakan oleh Allah SWT, selain predikat keutamaan bagi kaum muslimin yang beriman serta terus menerus bepikir tentang hakikat penciptaanya dimuka bumi, yang hampir disebutkan Allah SWT dalam setiap firman – Nya dengan keutamaan manusia lainya adalah dia dapat mampu menyelamatkan dirinya dan sesamanya dari kehancuran serta mampu mendorong manusia pada kemajuan peradaban. Hasil yang didapatkan dari prinsip pembelajaran :

a.Kebiasaan membaca buku dan situasi.

b.Kebiasaan berpikir kritis.

c.Kebiasaan mengevaluasi.

d.Kebiasaan menyempurnakan.

e.Memiliki pedoman.



5.Vision Principle

Mempunyai prinsip Masa Depan sehingga akan selalu memiliki Visi

Setiap tahapan pembangunan sangat bergantung pada kualitas kecerdasan hati seseorang yang telah dipersiapkan di pembangunan prinsip prinsip sebelumnya semuanya melalui suatu proses yang dijalani, dengan menggunakan prinsip prinsip Rukun Iman, Rukun Islam dan Ihsan untuk meraih visi yang sebenarnya. Hasil yang di dapatkan adalah :

a.Ketenangan batiniah.

b.Jaminan masa depan.

c.Kendali diri dan sosial.

d.Optimalisasi upaya.

e.Berorientasi pada tujuan.



6.Well Organized Principle

Memiliki prinsip Keteraturan sehingga tercipta sistem mental ketauhidan.

Manajemen adalah mengerjakan segala sesuatu secara benar (do the things right), kepemimpinan adalah mengerjakan hal hal yang benar (do the right things), dan manajemen adalah melakukan efisiensi untuk menaiki tangga keberhasilan, sedangkan kepemimpinan adalah memastikan atau menentukan apakah tangganya bersandar pada dinding yang benar, sang pemimpin bagaikan orang yang memanjat pohon yang tertinggi untuk mempelajari seluruh situasi kemudian memastikan arahnya, inilah yang menjadi bukti kebenaran urutan Rukun Iman ke 5 (lima) dan Rukun Islam ke 6 (enam) yang urutannya adalah prinsip masa depan terletak lebih dahulu, baru disusul prinsip keteraturan dibelakangnya.

Anjuran Rasulullah : ” Mulailah dari sebelah kanan.” Kebiasaan Rasulullah ini terbukti dengan diketahuinya fungsi otak sebelah kanan yang berisikan gambaran visi manusia, dalam hal ini mulailah dari sebelah kanan berarti mulailah pekerjaan itu dengan sebuah tujuan atau visi yang jelas dan transparan. Hasil yang akan diperoleh dalam prinsip keteraturan tersebut diatas adalah :

a.Orientasi pemeliharaan sistem atau menjaga sinergi.

b.Orientasi pembentukan sistem atau prinsip sinergi.

c.Pemahaman arti proses.

d.Kepastian hukum sosial.

e.Kepastian hukum alam.



C. RUKUN ISLAM (PERSONAL STRENGHT dan SOCIAL STRENGHT)



1.Personal Strenght

Ketangguhan pribadi yang muncul ketika seseorang telah mengenal jati diri spiritualnya menuju pencerahan, sabda Nabi Muhammad s.a.w : ” Apabila engkau mengenal siapa dirimu, maka engkau akan mengenal siapa Tuhan – mu.” (Hadits Rasulullah )



A. Mission Statement ( Penetapan Misi )

Penetapan misi umumnya dibentuk berdasarkan logika dan seringkali pula mengabaikan suara hati spiritual tetapi tidaklah semudah membalikan tangan, dibutuh kan pemikiran yang mendalam dan hati hati dan tidak berdasarkan logika, akan tetapi mampu sejalan dengan suara hati fitrah manusia, karena hukum keseimbangan alam milik Tuhan akan menghempaskanya.

Setiap manusia mempunyai panggilan hidupnya sendiri atau misi hidupnnya oleh karena itu tidak dapat digantikan dan hidupnya tidak mungkin dapat diulang, jadi setiap orang memiliki peluang unik untuk melaksanakan misi hidup masing masing.

Firman Allah S.W.T dalam Al Qur’an surat Al Fathir ( Pencipta ) ayat 5 :

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” ( QS 35 : 5 )

Mission statement diaplikasikan dalam Syahadat ( merupakan visi ) dan hasil yang akan didapatkan dalam penetapan mission statement ini adalah sebagai berikut :

1.Membangun misi kehidupan.

2.Membulatkan tekad.

3.Membangun visi.

4.Menciptakan wawasan.

5.Transformasi visi.

6.Komitmen total.



B. Character Building ( Membangun Karakter )

Dalam pekerjaan sehari hari pikiran seseorang seringkali didesak untuk hal-hal dapat menyelesaikan berbagai tugas yang datang silih berganti dan disaat yang bersamaan pula ia harus menghadapi berbagai masalah yang harus diatasi. Istirahat pikiran dengan relaksasi sejenak dan meyambutna dengan kejernihan pikiran akan lebih baik dan menjadikan peka kembali serta memberikan ruang berpikir bagi perasaan intuitif, sekaligus menstabilkan kecerdasan emosi dan spiritual seseorang serta menjaga kefitrahan suara hati.

Character Building diaplikasikan dalam Shalat, hasil yang akan didapatkan dengan membangun karakter tersebut adalah :

1.Relaksasi.

2.Membangun kekuatan afirmasi.

3.Meningkatkan emosi kecerdasan dan spiritual ( ESQ ).

4.Membangun pengalaman positif.

5.Pembangkit dan penyeimbang energi batiniah.

6.Pengasahan prinsip.



C. Self Control ( Pengendalian Diri )

Dorongan berupa keinginan atau nafsu yang berlebihan akan menghasilkan belenggu yang menutup asset paling berharga dari sorang manusia adalah suara hati bila tidak terbelenggu akan membebaskan suara Ilahiah. Menghentikan pengabdian dirinya kepada selain Allah akan menjadikan pribadi yang mampu mengeluarkan suatu potensi dirinya untuk hasil yang terbaik, lebih tinggi dari standar duniawi melalui cara yang bijaksana dan luhur.

Aplikasi dalam Self control adalah berupa Puasa, hasil yang akan didapatkan dalam pengendalian diri adalah sebagai berikut :

1.Meraih kemerdekaan sejati.

2.Memelihara fitrah.

3.Mengendalikan suasana hati.

4.Meningkatkan kecakapan emosi secara fisiologis.

5.Pengendalian prinsip.



2.Social Strenght

Firman Allah S.W.T dalam Al Qur’an surat Al Anbiya ayat 92 :

“Sungguh, agama kamu ini satu agama saja, dan Aku adalah Tuhanmu. Karena itu sembahlah Aku.” ( QS 21 : 92 )

Keinginan untuk berkelompok atau bersinergi pun merupakan dorongan hal suara hati dan kebutuhan dasar manusia, sifat fitrah ini mendorong manusia untuk berkumpul dan berjamaah dengan sesamanya, sehingga terbentuk ketangguhan sosial.



A. Strategic Collaboration

Mengeluarkan potensi spiritual ( core values ) dengan melakukan langkah langkah melalui berkelompok atau berjamaah, dengan pendekatan aplikasinya adalah berupa zakat, hasil yang didapatkan dalam strategic collabiration adalah :

1.Investasi kepercayaan.

2.Investasi komitmen.

3.Membangun landasan kooperatif.

4.Investasi kredibilitas.

5.Investasi keterbukaan, empati dan kompromi.



B. Total Action ( Aplikasi Total )

Aplikasi total yang dilambangkan dengan Haji, secara social adalah lambang kolaborasi yang tertinggi, yaitu pertemuan seluruh umat sedunia yang memiliki nilai dasar yang sama dan tujuan dasar yang sama. Sehingga kesamaan langkah, gerak dan tujuan yang dilandasi oleh kesamaan prinsip adalah syarat terjadinya sinergi yang dahsyat dan merupakan ketangguhan sosial yang sesungguhnya, sinergi yang timbul bukan hanya antara umat manusia tetapi antara manusia dan Tuhannya.

Hasil yang akan didapatkan dalam Total action adalah berupa :

1.Langkah Zero mind atau jernih pikir ( Ihram ).

2.Evaluasi dan Visualisasi ( Wukuf ).

3.Hadapai tantangan ( Jumrah ).

4.Pengasahan komitmen dan integritas ( Thawaf ).

5.Pengasahan Adversity Quotient atau kecerdasan dalam mengatasi kesulitan dan

bertahan hidup ( Sa’I ).

6.Sinergikan Jamaah ( Haji ).



BAB III

KESIMPULAN



Kecerdasan Emosi atau “Emotional Intellegence” merujuk pada kemampuan mengungkap serta mengenali perasaan kita sendiri, juga perasaan orang lain, lebih tepatnya kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi diri sendiri dengan baik dan dalam hubunganya dengan orang lain. Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam merupakan petunjuk bagi umat Islam, pokok pikirannya merupakan arah pembimbung dalam mengenali atau memahami perasaan kita sendiri, perasaan orang lain, memotivasi diri serta mengelola emosi dalam berhubungan dengan orang lain dan juga merupakan metoda pembangunan kecerdasan emosi yang didasari oleh suatu hubungan antara manusia dengan Tuhan – nya adalah merupakan Kecerdasan Emosi dan Spiritual ( ESQ ).

Urutan di dalam Rukun Iman disusun berdasarkan urutan anak tangga yang sangat teratur dan sistematis serta memiliki keterkaitan erat dan kuat dan merupakan satu kesatuan. Dimulai dari Prinsip Landasan ( Prinsip Bintang ), Prinsip Kepercayaan, Prinsip Kepemimpinan, Pembelajaran, Prinsip Masa Depan hingga Prinsip Keteraturan. Hal hal tersebut diatas adalah merupakan pembentukan mental yang dilanjutkan pula dengan langkah langkah fisik yaitu mission statemen kemudian pembangunan karakter dan pengendalian diri dalam Rukun Islam, ketiga hal tersebut diatas akan membangun sebuah pribadi yang tangguh, setelah memiliki ketangguhan pribadi, maka dilanjutkan dengan pembangunan kecerdasan sosial dan menghasilkan kecerdasan sosial.

Rukun Islam berfungsi sebagai tuntunan dalam hal beragama, tetapi juga merupakan metode pengasahan atau pelatihan ESQ, dimulai dari Syahadat sebagai mission statement, Shalat yang berfungsi sebagai character building, Puasa sebagai self control dan Zakat serta Haji yang berfungsi sebagai social intellegence atau pun kecerdasan sosial. Dalam Rukun Islam pemahaman tentang kecerdasan emosi akan diperoleh melalui Rukun Iman bila dilatih dan dipertajam lebih dalam dengan cara cara menggunakan konsep yang dilakukan secara aplikatif, berulang serta terus menerus.

Rukun Islam menjawab melalui nilai dasar spirituil atau suara fitrah hati akan motivasi dan usaha yang benar untuk mempelajari dan menguasai kecakapan emosi. Selama ini terjadi semacam stereotip bahwa Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam adalah untuk keperluan akhirat semata dan ajaran Barat atau doktrin lainya untuk keberhasilan dunia, padahal keberhasilan sejati baik didunia maupun di akhirat serta kebahagiaan hakiki baik lahiriah dan batiniah adalah melalui mekanisme Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam.

Sumber suara hati manusia adalah Asmaul Husna, adalah dasar pengenalan dan alat untuk memahami bagian terdalam dari suara hati kita sendiri, juga perasaan serta suara hati orang lain, Asmaul Husna adalah merupakan dasar dan kunci didalam membangun Ketangguhan Pribadi dan Ketangguhan Sosial.



DAFTAR PUSTAKA


Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual :

Emotional Spiritual Quotient ( ESQ ), Arga Wijaya Persada, Jakarta 2001

Jumat, 28 Desember 2012

Tariq bin Ziyad

Mendung   hitam   menggelayut  di  atas  bumi  Spanyol.  Eropa  sedang dikangkangi  oleh  penjajah,  Raja  Gotik  yang  kejam.  Wanita merasa terancam  kesuciannya,  petani  dikenakan pajak tanah yang tinggi, dan banyak lagi penindasan yang tak berperikemanausiaan. Raja  dan  anteknya  bersuka ria dalam kemewahan sedang rakyat merintih dalam  kesengsaraan. Sebagian besar penduduk yang beragama Kristen danYahudi,  mengungsi  ke Afrika, berharap mendapat ketenangan yang lebih menjanjikan. Dan saat itu Afrika, adalah sebuah daerah yang makmur dan mempunyai  toleransi  yang  tinggi  karena  berada  di  bawah  naungan pemerintahan Islam.
Satu  dari  jutaan  pengungsi  itu  adalah Julian, Gubernur Ceuta yang putrinya  Florinda  telah  dinodai Roderick, raja bangsa Gotik. Mereka memohon  pada  Musa  bin  Nusair,  raja  muda  Islam  di  Afrika untuk memerdekakan negeri mereka dari penindasan raja yang lalim itu. Setelah  mendapat  persetujuan Khalifah, Musa melakukan pengintaian kepantai  selatan  Spanyol. Bulan Mei tahun 711 Masehi, Tariq bin Ziyad, budak Barbar yang juga mantan pembantu Musa bin Nusair memimpin 12.000 anggota  pasukan  muslim  menyeberangi selat antara Afrika dan daratan Eropa.
Begitu  kapal-kapal  yang  berisi  pasukannya mendarat di Eropa, Tariq mengumpulkan  mereka  di  atas sebuah bukit karang, yang dinamai Jabal Tariq  (karang Tariq) yang sekarang terkenal dengan nama Jabraltar. Diatas bukit karang itu Thariq memerintahkan pembakaran kapal-kapal yang telah menyeberangkan mereka. Tentu  saja  perintah  ini membuat prajuritnya keheranan. “Kenapa Andalakukan ini?” tanya mereka. “Bagaimana kita kembali nanti?” tanya yang lain.
Namun  Tariq  tetap pada pendiriannya. Dengan gagah berani ia berseru,”Kita  datang  ke  sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya pilihan,menaklukkan negeri ini dan menetap di sini, atau kita semua syahid. Keberanian  dan  perkataannya yang luar biasa menggugah Iqbal, seorangpenyair   Persia,  untuk  menggubahnya  dalam  sebuah  syair  berjudul”Piyam-i Mashriq”: “Tatkala  Tariq membakar kapal-kapalnya di pantai Andalusia (Spanyol), Prajurit-prajurit  mengatakan,  tindakannya tidak bijaksana. Bagaimanabisa  mereka  kembali  ke  negeri Asal, dan perusakan peralatan adalahbertentangan  dengan hukum Islam. Mendengar itu semua, Tariq menghunus pedangnya,  dan  menyatakan bahwa setiap negeri kepunyaan Alloh adalah kampung halaman kita.”
Kata-kata  Tariq  itu  bagaikan  cambuk yang melecut semangat prajuritmuslim  yang  dipimpinnya.  Bala  tentara muslim yang berjumlah 12.000 orang  maju  melawan  tentara  Gotik yang berkekuatan 100.000 tentara. Pasukan   Kristen   jauh   lebih   unggul  baik  dalam  jumlah  maupun persenjataan. Namun  semua  itu  tak mengecutkan hati pasukan muslim.
Tanggal  19  Juli tahun 711 Masehi, pasukan Islam dan Nasrani bertemu, keduanya  berperang  di  dekat  muara sungai Barbate. Pada pertempuran ini,  Tariq  dan pasukannya berhasil melumpuhkan pasukan Gotik, hingga Raja  Roderick  tenggelam  di  sungai  itu. Kemenangan Tariq yang luar biasa  ini,  menjatuhkan semangat orang-orang Spanyol dan semenjak itu mereka  tidak  berani  lagi  menghadapi  tentara Islam secara terbuka.
Tariq  membagi  pasukannya  menjadi  empat  kelompok, dan menyebarkan mereka  ke Kordoba, Malaga, dan Granada. Sedangkan dia sendiri bersamapasukan  utamanya  menuju  ke Toledo, ibukota Spanyol. Semua kota-kota itu  menyerah tanpa perlawanan berarti. Kecepatan gerak dan kehebatanpasukan  Tariq  berhasil melumpuhkan orang-orang Gotik.
Rakyat Spanyol yang   sekian   lama   tertekan   akibat   penjajahanbangsa  Gotik, mengelu-elukan  orang-orang  Islam.  Selain  itu, perilaku  Tariq dan orang-orang   Islam   begitu  mulia  sehinggamereka  disayangi  oleh bangsa-bangsa  yang ditaklukkannya.
Salah satu pertempuran paling seru terjadi  di  Ecija,  yang membawakemenangan bagi pasukan Tariq. Dalam pertempuran  ini,  Musa bin Nusair, atasannya, sang raja muda Islam di Afrika  ikut  bergabung dengannya.
Selanjutnya,  kedua  jenderal itu bergerak  maju  terus berdampingan dan dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun   seluruh  dataran  Spanyol jatuh  ke  tangan  Islam.  Portugis ditaklukkan  pula  beberapa tahun kemudian.
“Ini merupakan perjuangan utama  yang  terakhir  dan  paling sensasional bagi bangsa Arab itu,” tulis Phillip K.Hitti, “dan membawa masuknya wilayah Eropa yang paling luas  yang  belum  pernah mereka peroleh sebelumnya ke dalam kekuasaan Islam. Kecepatan pelaksanaan dan kesempurnaan keberhasilan operasi ke Spanyol   ini  telah  mendapat tempat  yang  unik  di  dalam  sejarah peperangan  abad  pertengahan.”
Penaklukkan  Spanyol oleh orang-orang Islam  mendorong timbulnya revolusi sosial di mana kebebasan beragama benar-benar  diakui. Ketidak toleranan  dan  penganiayaan  yang  biasa dilakukan orang-orang Kristen, digantikan oleh toleransi yang tinggi dan kebaikan  hati yangluar biasa.
Keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu,  sehingga  jika tentara  Islam  yang  melakukan  kekerasan akan dikenakan hukuman berat. Tidak ada harta benda atau tanah milik rakyat yang  disita. Orang-orang Islam memperkenalkan sistem perpajakan yang sangat  jitu yang  dengan cepat membawa kemakmuran di semenanjung itu dan menjadikan negeri teladan di Barat. Orang-orang Kristen dibiarkan memiliki  hakim sendiri untuk memutuskan perkara-perkara mereka. Semua komunitas   mendapat   kesempatan  yang  sama  dalam  pelayanan  umum.
Pemerintahan  Islam  yang  baik  dan  bijaksana  ini membawa efek luar biasa.  Orang-orang  Kristen  termasuk  pendeta-pendetanya  yang  pada mulanya  meninggalkan  rumah  mereka  dalam keadaan ketakutan, kembali pulang  dan  menjalani  hidup yang bahagia dan makmur. Seorang penulis Kristen   terkenal  menulis:  “Muslim-muslim  Arab  itu  mengorganisir kerajaan  Kordoba  yang baik adalah sebuah keajaiban Abad Pertengahan, mereka  mengenalkan obor pengetahuan dan peradaban, kecemerlangan dan keistimewaan  kepada  dunia  Barat.  Dan  saat  itu Eropa sedang dalam kondisi  percekcokan  dan  kebodohan  yang  biadab.”
Tariq  bermaksud menaklukkan   seluruh   Eropa,   tapi  Alloh menentukan  lain.  Saat merencanakan  penyerbuan  ke  Eropa,  datang panggilan dari Khalifah untuk  pergi  ke Damaskus. Dengan disiplin dan kepatuhan tinggi, Tariq memenuhi  panggilan  Khalifah  dan berusaha tiba  seawal  mungkin di Damaskus.  Tak  lama  kemudian, Tariq  wafat di  sana. Budak Barbar, penakluk  Spanyol, wilayah Islam terbesar di Eropa yang selama delapan abad di bawah kekuasaan Islam telah memenuhi panggilan Rabbnya. Semoga Alloh merahmatinya. (her)
Kontribusi oleh ID: Noy (melalui Forum Media Muslim)

WANITA PEMERAH SUSU DAN ANAK GADISNYA


Pada zaman pemerintahan Umar bin Khaththab hiduplah seorang janda miskin bersama seorang anak gadisnya di sebuah gubuk tua di pinggiran kota Mekah. Keduanya sangat rajin beribadah dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Setiap pagi, selesai salat subuh, keduanya memerah susu kambing di kandang. Penduduk kota Mekah banyak yang menyukai susu kambing wanita itu karena mutunya yang baik.
Pada suatu malam, Khalifah Umar ditemani pengawalnya berkeliling negeri untuk melihat dari dekat keadaan hidup dan kesejahteraan rakyatnya. Setelah beberapa saat berkeliling, sampailah khalifah di pinggiran kota Mekah. Beliau tertarik melihat sebuah gubuk kecil dengan cahaya yang masih tampak dari dalamnya yang menandakan bahwa penghuninya belum tidur. Khalifah turun dari kudanya, lalu mendekati gubuk itu. Samar-samar telinganya mendengar percakapan seorang wanita dengan anaknya.
"Anakku, malam ini kambing kita hanya mengeluarkan susu sedikit sekali. Ini tidak cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan kita besok pagi," keluh wanita itu kepada anaknya.
Dengan tersenyum, anak gadisnya yang beranjak dewasa itu menghibur, "Ibu, tidak usah disesali. Inilah rezeki yang diberikan Allah kepada kita hari ini. Semoga besok kambing kita mengeluarkan susu yang lebih banyak lagi."
"Tapi, aku khawatir para pelanggan kita tidak mau membeli susu kepada kita lagi. Bagaimana kalau susu itu kita campur air supaya kelihatan banyak?"
"Jangan, Bu!" gadis itu melarang. "Bagaimanapun kita tidak boleh berbuat curang. Lebih baik kita katakan dengan jujur pada pelanggan bahwa hasil susu hari ini hanya sedikit. Mereka tentu akan memakluminya. Lagi pula kalau ketahuan, kita akan dihukum oleh Khalifah Umar. Percayalah, ketidakjujuran itu akan menyiksa hati."
Dari luar gubuk itu, Khalifah Umar semakin penasaran ingin terus mendengar kelanjutan percakapan antara janda dan anak gadisnya itu.
"Bagaimana mungkin khalifah Umar tahu!" kata janda itu kepada anaknya. "Saat ini beliau sedang tertidur pulas di istananya yang megah tanpa pernah mengalami kesulitan seperti kita ini?"
Melihat ibunya masih tetap bersikeras dengan alasannya, gadis remaja itu tersenyum dengan lembut dan berkata, "Ibu, memang Khalifah tidak melihat apa yang kita lakukan sekarang. Tapi Allah Maha Melihat setiap gerak-gerik makhluknya. Meskipun kita miskin, jangan sampai kita melakukan sesuatu yang dimurkai Allah."
Dari luar gubuk, khalifah tersenyum mendengar ucapan gadis itu. Beliau benar-benar kagum dengan kejujurannya. Ternyata kemiskinan dan himpitan keadaan tidak membuatnya terpengaruh untuk berbuat curang. Setelah itu khalifah mengajak pengawalnya pulang.
Keesokan harinya, Umar memerintahkan beberapa orang untuk menjemput wanita pemerah susu dan anak gadisnya untuk menghadap kepadanya. Beliau ternyata bermaksud menikahkan putranya dengan gadis jujur itu.
Sungguh sebuah teladan bagi kita semua, bahwa kejujuran karena takut kepada Allah adalah suatu harta yang tak ternilai harganya. Mungkin ini yang sulit kita dapatkan sekarang.

NASIHAT BAGI PENGUASA

Mengatakan kebenaran kepada penguasa yang menyeleweng memang perlu keberanian yang tinggi, sebab resikonya besar. Bisa-bisa akan kehilangan kebebasan, mendekam dalam penjara, bahkan lebih jauh lagi dari itu, nyawa bisa melayang. Karena itu, tidaklah mengherankan ketika pada suatu saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya oleh seorang sahabat perihal perjuangan apa yang paling utama, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun menjawab, "Mengatakan kebenaran kepada penguasa yang menyeleweng."
Demikian sabda Tasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana yang dikisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i, Abu Daud, dan Tirmidzi, berdasarkan penuturan Abu Sa'id al-Khudry Radhiyallahu 'anhu, dan Abu Abdillah Thariq bin Syihab al-Bajily al-Ahnasyi. Oleh sebab itu, sedikit sekali orang yang berani melakukannya, yakni mengatakan kebenaran kepada penguasa yang menyeleweng.
Di antara yang sedikit itu (orang yang pemberani) terdapatlah nama Thawus al-Yamani. Ia adalah seorang tabi'in, yakni generasi yang hidup setelah para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bertemu dengan mereka dan belajar dari mereka. Dikisahkan, suatu ketika Hisyam bin Abdul Malik, seorang khalifah dari Bani Umayyah, melakukan perjalanan ke Mekah guna melaksanakan ibadah haji. Di saat itu beliau meminta agar dipertemukan dengan salah seorang sahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang hidup. Namun sayang, ternyata ketika itu tak seorang pun sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang masih hidup. Semua sudah wafat. Sebagai gantinya, beliau pun meminta agar dipertemukan dengan seorang tabi'in.
Datanglah Thawus al-Yamani menghadap sebagai wakil dari para tabi'in. Ketika menghadap, Thawus al-Yamani menanggalkan alas kakinya persis ketika akan menginjak permadani yang dibentangkan di hadapan khalifah. Kemudia ia langsung saja nyelonong masuk ke dalam tanpa mengucapkan salam perhormatan pada khalifah yang tengah duduk menanti kedatangannya. Thawus al-Yamani hanya mengucapkan salam biasa saja, "Assalamu'alaikum," langsung duduk di samping khalifah seraya bertanya, "Bagaimanakah keadaanmu, wahai Hisyam?"
Melihat perilaku Thawus seperti itu, khalifah merasa tersinggung. Beliau murka bukan main. Hampir saja beliau memerintahkan kepada para pengawalnya untuk membunuh Thawus. Melihat gelagat yang demikian, buru-buru Thawus berkata, "Ingat, Anda berada dalam wilayah haramullah dan haramurasulihi (tanah suci Allah dan tanah suci Rasul-Nya). Karena itu, demi tempat yang mulia ini, Anda tidak diperkenankan melakukan perbuatan buruk seperti itu!"
"Lalu apa maksudmu melakukakan semua ini?" tanya khalifah.
"Apa yang aku lakukan?" Thawus balik bertanya.
Dengan geram khalifah pun berkata, "Kamu tanggalkan alas kaki persis di depan permadaniku. Kamu masuk tanpa mengucapkan salam penghormatan kepadaku sebagai khalifah, dan juga tidak mencium tanganku. Lalu, kamu juga memanggilku hanya dengan nama kecilku, tanpa gelar dan kun-yahku. Dan, sudah begitu, kamu berani pula duduk di sampingku tanpa seizinku. Apakah semua itu bukan penghinaan terhadapku?"
"Wahai Hisyam!" jawab Thawus, "Kutanggalkan alas kakiku karena aku juga menanggalkannya lima kali sehari ketika aku menghadap Tuhanku, Allah 'Azza wa Jalla. Dia tidak marah, apalagi murka kepadaku lantaran itu."
"Aku tidak mencium tanganmu lantaran kudengar Amirul Mukminin Ali Radhiyallahu 'anhu pernah berkata bahwa seorang tidak boleh mencium tangan orang lain, kecuali tangan istrinya karena syahwat atau tangan anak-anaknya karena kasih sayang."
"Aku tidak mengucapkan salam penghormatan dan tidak menyebutmu dengan kata-kata amiirul mukminin lantaran tidak semua rela dengan kepemimpinanmu; karenanya aku enggan untuk berbohong."
"Aku tidak memanggilmu dengan sebutan gelar kebesaran dan kun-yah lantaran Allah memanggil para kekasih-Nya di dalam Alquran hanya dengan sebutan nama semata, seperti ya Daud, ya Yahya, ya 'Isa; dan memanggil musuh-musuh-Nya dengan sebutan kun-yah seperti Abu Lahab...."
"Aku duduk persis di sampingmu lantaran kudengar Amiirul Mukminin Ali Radhiyallahu 'anhu pernah berkata bila kamu ingin melihat calon penghuni neraka, maka lihatlah orang yang duduk sementara orang di sekitarnya tegak berdiri."
Mendengar jawaban Thawus yang panjang lebar itu, dan juga kebenaran yang terkandung di dalamnya, khalifah pun tafakkur karenanya. Lalu ia berkata, "Benar sekali apa yang Anda katakan itu. Nah, sekarang berilah aku nasehat sehubungan dengan kedudukan ini!" "Kudengar Amiirul Mukminin Ali Radhiyallahu 'anhu berkata dalam sebuah nasehatnya," jawab Thawus, "Sesungguhnya dalam api neraka itu ada ular-ular berbisa dan kalajengking raksasa yang menyengat setiap pemimpin yang tidak adil terhadap rakyatnya."
Mendengar jawaban dan nasehat Thawus seperti itu, khalifah hanya terdiam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin harus bersikap arif dan bijaksana serta tidak boleh meninggalkan nilai-nilai keadilan bagi seluruh rakyatnya. Setelah berbincang-bincang beberapa lamanya perihal masalah-masalah yang penting yang ditanyakan oleh khalifah, Thawus al-Yamani pun meminta diri. Khalifah pun memperkenankannya dengan segala hormat dan lega dengan nasehat-nasehatnya.

KISAH MENGHARUKAN KEMULIAAN NABI MUHAMMAD SAW

Dalam satu kesempatan usai shalat berjamaah di masjid, Rasulullah yang baru sembuh dari sakit berdiri di depan jamaahnya dan berkata, “Duhai sahabat, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang, Siapakah di antara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah in i(nabi)? bangkitlah sekarang untuk mengambil qisas (pembalasan), jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik”. Semua yang hadir terdiam, semua mata menatap lekat Nabi yang terlihat lemah. Tak akan pernah ada dalam benak mereka perilaku Nabi yang terlihat janggal. Apapun yang dilakukan Nabi, selalu saja indah. Segala hal yang diperintahkannya, selalu membuihkan bening saripati cinta. Tak akan rela sampai kapanpun, ada yang menyentuhnya meski hanya secuil jari kaki. Apapun akan digadaikan untuk membela Al-Musthafa (nabi)
Melihat semua terdiam, Nabi mengulangi lagi ucapannya, kali ini suaranya terdengar lebih keras. Masih saja para sahabat duduk tenang. Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi. Dialah ‘Ukasyah Ibnu Muhsin. “Ya Rasul Allah, dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu, duhai kekasih Allah, saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung samping ku” ucap ‘Ukasyah.

Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putrinya, Fatimah. Tampak keengganan menggelayuti Bilal, langkahnya terayun begitu berat, ingin sekali ia menolak perintah tersebut. Ia tidak ingin cambuk yang dibawanya itu melecut tubuh Nabi yang baru saja sembuh.

Abu Bakar dan Umar bin Khattab maju ke depan dan berkata kepada Ukasyah, “Deralah kami sesukamu, pilihlah bagian mana saja yang kau inginkan. Jangan sekali-kali kau pukul Rasul…” Namun Rasulullah meminta keduanya duduk kembali dan membiarkan Ukasyah melanjutkan. Begitu pun ketika Ali bin Abi Thalib berdiri dan mengajukan dirinya untuk dikisas menggantikan baginda Nabi.

Ketika Rasulullah membuka gamisnya, maka terlihatlah tubuh indah nan mulia milik lelaki pilihan itu. Saat itulah Ukasyah membuang cambuk di tangannya dan melompat memeluk tubuh mulia itu. “Siapakah yang sampai hati mengkisas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka”. Dengan tersenyum, Nabi berkata: “Ketahuilah duhai manusia, siapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini”. Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah…

Senin, 17 September 2012

Cerita : Tentang Kampung Naggewer Tasikmalaya



Cerita Tentang Kampung Naggewer Tasikmalaya
Berawal dari kejadian di Sumedang Larang,  lima orang bersaudara yang gagah berani berhasil  menumpas gerombolan kejahatan yang seringkali meresahkan rakyat. Kelima orang itu  tidak deketahui nama aslinya, namun memiliki julukan dan panggilan masing masing. Sangkleng dikenal sangat kuat dan tidak pernah basi basi dalam menyelesaikan perkara, Kidang memiliki kelebihan dalam berlari seperti Kijang, Jidang seorang alim dan memiliki ilmu tinggi dalam ilmu keagamaan,   Gajig seorang pemimpin yang selalu  sukses menumpas kejahatan dan Bonan seorang muda memilki ilmu kanuragan yang tinggi. Konon katanya ke lima orang ini memiliki garis keturunan dengan Sumedang Larang.
 Diceritakan penumpasan dipimpin oleh Gajig sukses menangkap pemimpin penjahat, setelah melakukan pertarungan sengit  sebelumnya, karena  penjahat melakukan perlawanan yang sengit,  dalam pertarungan itu Bonan mengalami  luka berat akibat sabetan penjahat.
Melihat pertarungan  dan setelah penjahat melukai Bonan yang  hampir saja  penjahat  itu berhasil  kabur,   rakyat waktu itu  yang sudah sangat benci dan dendam ikut mengepung bahkan  setelah penjahat itu tertangkap rakyat mengahakimi sendiri. Kejadian itu mendapat perhatian  dari pejabat      Sumedang, dan diputuskan bahwa kelima orang itu bersalah  harus bertanggung jawab atas penghakiman oleh massa.
Kelima orang ini tidak terima dengan keputusan penjabat Sumedang itu, dan “ngagelig”   keluar dari lingkungan Sumedang dan bersama sama menuju Gunung Cakra Buana, sayang akibat luka yang parah dalam perjalanan BONAN meninggal,  menurut cerita Bonan meninggal  di gunung yang sekarang dinamakan  Gunung Bonan. Setelah itu, kelima orang itu bersepakat untuk memencar di Kaki Gunung Cakra Buana.
Jidang menetap di salah satu kaki Gunung Cakra Buana, sekarang di kenal dengan Kampung Guranteng, dan Gajig  sempat sempat mangkal    untuk bertapa didekat sungai, sekarang Kampung Pangkalan, namun tidak lama karena  selalu  ada yang menggangu “nyarenghor” entah binatang atau makhluk halus,    sekarang  kampung itu bernama  Nyalenghor . Gajig pergi ke selatan dan membangun gubug di kampung Lamping, tempat itu sekarang dikenal dengan nama Kabuyutan. Gajig kemudian membuka kampung dan sawah.  Tidak Lama  di tinggal di Lamping pindah ke sawah. Sekarang sawah itu di kenal dengan nama kampung Nanggewer.
Menurut cerita, kata ”nanggewer”  itu berasal dari kata “nangeran”  yang berarti tempat tinggal pangeran. Mungkin menganggap Gajig itu adalah pangeran dari Sumedang.
Makam Mbah Gajig dikuburkan di dekat Patapaan dan berada di kebun keluarga Bapak Kartasenjaya.
KUWU pertama Naggewer adalah ARSAMANGGALA (Haji Bahrum),  karena kehebatannya memimpin Desa Nanggewer, beliow mendapat bintang dari Bupati Tasikmalaya waktu itu dan kenal dengan nama KUWU BINTANG,  kemudian diganti oleh adik iparnya namanya SUMADIMAJA (Haji Sidik).
Putra dan Buyut Mbah Gajig
1.       Arsamanggala
2.       Nayamanggala
3.        Cakramanggala
4.       Istrinya Sumadimaja
(Oleh Agus Hendradimaja, Disusun berdasarkan cerita dari mulut ke mulut orang tua)