Selasa, 09 April 2013
Doa untuk Putraku
Tuhanku...
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.
Tuhanku...
Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.
Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar
untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.
Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.
Berikanlah hamba seorang putra
yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.
Putera yang berhasrat
Untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.
Dan, setelah semua menjadi miliknya...
Berikan dia cukup Kejenakaan
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.
Tuhanku...
Berilah ia kerendahan hati...
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki...
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna...
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
hamba, ayahnya, dengan berani berkata "hidupku tidaklah sia-sia"
Puisi yang ditulis oleh Jenderal Douglas MacArthur tersebut merupakan sebuah puisi yang luar biasa. Puisi itu adalah sebuah cermin seorang ayah yang mengharapkan anaknya kelak mampu menjadi manusia yang ber-Tuhan sekaligus mampu menjadi manusia yang tegar, tidak cengeng, tidak manja, dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
Seperti contoh sepenggal puisi di atas yg berbunyi: "Janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan." Puisi ini menunjukkan bahwa sang jenderal sadar tidak ada jalan yang rata untuk kehidupan sukses yang berkualitas.
Seperti kata mutiara yang tidak bosan saya ucapkan: "Kalau Anda lunak pada diri sendiri, kehidupan akan keras terhadap Anda. Namun, kalau Anda keras pada diri sendiri, maka kehidupan akan lunak terhadap Anda."
Untuk itu, jangan kompromi atau lunak pada sikap kita yang destruktif, merusak, dan cenderung melemahkan. Maka, senantiasalah belajar bersikap tegas dan keras dalam membangun karakter yang konstruktif, membangun, demi menciptakan kehidupan sukses yang gemilang, hidup penuh kebahagiaan!!
Source : http://rgoesasi.blogspot.com
Jumat, 15 Maret 2013
EMOTIONAL SPIRITUAL QUOTIENT (ESQ)
EMOTIONAL SPIRITUAL QUOTIENT (ESQ)
http://kendyferdian.wordpress.com/2012/10/21/emotional-spiritual-quotient-esq/
A.Dasar Pemikiran
” Apabila manusia melakukan pendekatan diri kepada Tuhan Pencipta mereka dengan bermacam macam kebaikan, maka mendekatlah engkau dengan akalmu, niscaya engkau merasakan nikmat yang lebih banyak, yaitu dekat dengan manusia di dunia dan dekat dengan Allah di akhirat.” ( Hadits Rasulullah )
Manusia terdorong untuk mencari, mengapa ia tidak puas dan mengapa dia tidak bahagia. Dorongan yang membuat seseorang tanpa sadar mencari cari melalui dunia sehingga pada akhirnya banyak yang berkiblat kepada dunia, tetapi sebenarnya mereka tengah melakukan perjalanan pencarian makna kehidupan.
Ada manusia yang menyadari bahwa dirinya sedang melakukan pencarian yaitu” pencarian jati diri “, namun banyak juga yang tidak menyadari akan hal itu. Inti pencarian tersebut diatas ternyata dialami juga oleh tiga orang manusia besar di dalam sejarah : Ibrahim, Musa dan Muhammad, yang mendapatkan keyakinannya melalui sebuah proses yang panjang.
Proses pencarian itu dialami Nabi Ibrahim atau Abraham, beliau mencari di balik bintang, bulan dan matahari. Beliau terus bertanya dan mencari, sehingga beliau menemukan jawabannya. Begitu pula dengan Nabi Musa atau Moses, beliau menaiki Gunung Sinai, dan mencari keyakinan akan Tuhan. Nabi Musa berkata :
” Tuhanku tunjukanlah kepadaku, agar aku bisa melihat-Mu.” Kemudian Tuhan pun menjawab : ” Musa, kau takkan bisa melihat-Ku. Tapi lihatlah gunung itu, apabila ia tetap tegak berdiri, maka kau akan melihat-Ku, Musa.” Kemudian tatkala Tuhan pun memperlihatkan diri-Nya dihadapan gunung itu, maka gunung itu hancur terpecah belah. Nabi Musa tersungkur, jatuh pingsan, ketika beliau sadar, dia berkata : ” Maha Suci Engkau, kami bertaubat pada-Mu, dan aku menjadi orang yang pertama beriman.” Musa pun mendapatkan keyakinan akan eksistensi Tuhan dan kehidupan.
Pencarian juga dialami oleh Nabi Muhammad s.a.w, beliau gelisah melihat keadaan kaumnya saat itu hingga selama bertahun tahun naik turun gua Hira untuk mencari jawaban akan makna kebenaran dan hakikat kehidupan. Inilah perintah dari Tuhan agar manusia mencari dan menyadari siapa dirinya dan darimana dia berasal, inilah makna kehidupan.
Pencarian tersebut diatas menuntun kearah kecerdasan emosi dan spiritual atau dikenal dengan istilah Emotional Spiritual Quotient atau ESQ, pembentukan dari ESQ itu adalah bermula dari Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan pada dasar pemikiran tersebut diatas, maka kami mencoba merumuskan beberapa masalah yang akan diuraikan secara rinci, uraiannya adalah sebagai berikut :
1. Apakah Ihsan ( Zero Mind Proses ) ?
2. Bagaimana Rukun Iman ( Mental Building ) ?
3. Bagaimana Rukun Islam ( Personal Strenght dan Social Strenght ) ?
C.Tujuan Pembahasan
Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk mengetahui dan memberikan hal kajian
dari IlmuTasauf , tujuan hal tersebut diatas akan diuraikan sebagai berikut :
1. Untuk dapat mengetahui Ihsan ( Zero Mind Proses ).
2. Untuk mengetahui Rukun Iman ( Mental Building ).
3. Untuk dapat mengetahui Rukun Islam (Personal Strenght dan Social Strenght).
BAB II
EMOTIONAL SPRITUAL QUOTIENT ( ESQ )
Emotional Spiritual Quotient adalah merupakan konsep tentang bagaimana membangun sebuah kecerdasan emosi dan spiritual ( ESQ ), cara cara pemeliharaan dan metode metodenya dengan unsur pembentuk Ihsan ( Zero Mind Proses / Pikiran Bersih atau Penjernihan Emosi ), Rukun Iman ( Mental Building / Membangun Mental ) dan Rukun Islam ( Personal Strenght dan Social Strenght atau Ketangguhan Pribadi dan Ketangguhan Sosial ).
A. IHSAN ( ZERO MIND PROSES )
Setiap manusia telah dikarunia oleh Tuhan sebuah jiwa, yang dengan jiwa itu dia bebas menentukan pilihannya. Dalam Al Qur’an sebelum manusia diciptakan, ruh manusia telah mengadakan perjanjian dengan Tuhannya. Firman Allah S.W.T didalam Al Qur’an surat Al Araf ayat 172 -173, menunjukan pula sebuah fitrah iman agama ataupun akidah pada diri manusia : “Dan ( ingatlah ) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, ( seraya berfirman ) : ” Bukankah Aku ini Tuhanmu ?” Mereka menjawab : “Betul ( Engkau Tuhan kami ), kami menjadi saksi.” ( Kami lakukan yang demikian itu ) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan : ” Sesungguhnya kami ( bani Adam ) adalah orang orang yang lengah terhadap ini ( ke-Esa-an Tuhan). ” Atau agar kamu tidak mengatakan : ” Sesungguhnya orang orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak anak keturunan yang ( datang ) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang orang yang sesat dahulu.” ( QS 7 : 172 – 173 )
Manusia bila hendak berbuat keburukan suara hati nurani akan melarangnya jika manusia tetap melakukan perbuatan yang buruk dan tidak sesuai dengan nurani dia akan menyesalinya, penyesalan ini merupakan tanda kembali kepada Tuhannya, jawaban suara hati sesuai dengan sifat sifat Allah dalam Al Qur’an ( Asmaul Husna ).
Dalam Ihsan adalah berkaitan dengan nilai nilai dalam hati, baik didalam hal kebebasan hati , bimbingan suara hati , kasih sayang atau makna kesetiaan sehingga ketika suara hati secara universal mengakuinya maka jiwa pun akan membenarkanya.
Suara hati akan terbelenggu dan akan tidak dapat melihat nilai nilai universal tersebut diatas yang dapat menjerumuskan kepada hal hal yang buruk, belenggu suara hati tersebut adalah diantaranya :
1.Prasangka buruk.
2.Prinsip hidup.
3.Pengalaman
4.Kepentingan.
5.Sudut pandang.
6.Pembanding.
7.Fanatisme.
A. Sadar Diri
Cara berfikir sesorang akan dipengaruhi oleh belenggu suara hati, sehingga kemampuan untuk melihat sesuatu secara jernih harus didahului oleh kemampuan hal mengenali faktor faktor yang mempengaruhi kejernihan pikir dengan mengembalikan manusia kepada fitrahnya sehingga akan mampu melihat dengan matahati, mampu di dalam menentukan pilihan dan memprioritaskan dengan benar sesuai suara hati.
Cara membangun kekuatan pikiran bawah sadar untuk selalu suci dan akan menjadi sumber kekuatan salah satunya adalah dengan ucapan Subhanallah atau pun dengan dzikir dan tasbih dan hal ini akan mengendalikan kejernihan pikir ( repetitive magic power ). Di dalam shalat proses berpikir jernih dilambangkan dengan Takbiratul Ihram, sedangkan dalam ber – Haji adalah Ihram.
”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama ( Allah ). (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. ( QS 30 : 30 )
B.Hasil ZMP
Kebebasan berpikir dengan menyucikan pikiran akan selalu menghasilkan hal hal yang baru, hal ini pula yang menjadi kekuatan ummi – nya Rasulullah diajarkan melalui penjernihan pikiran dengan perantaraan baju Ihram dalam Haji,takbiratul ihram dalam Shalat dan berwudlu sebelum Shalat.
C.Aplikasi
Dalam menghadapi sebuah masalah atau pun peluang, kenalilah diri sendiri sebelum melakukan respon dan menentukan pilihan, lakukanlah hal repetitive magic power, dzikir asmaul Husna dan ucapkan Subhanallah sambil mengingat kesucian sifat sifat Allah.
Melakukan Istigfar sambil berintrospeksi dan evaluasi diri, berdoa dengan khusyu, ketika membersihkan muka niatkan untuk membasuh mata dan wajah dari hal pandangan hina dan kemunafikan, ketika membasuh tangan dan kaki niatkan untuk membersihkan diri dari dosa yang dilakukan tangn dan kaki serta melontarkan ketujuh (belenggu suara hati) jumrah di hati.
B. RUKUN IMAN ( MENTAL BUILDING )
Setelah muncul kejernihan hati dan mampu mengatasi belenggu suara hati maka akan timbul kesadaran spiritual dan memiliki suara hati spiritual ( self conscience ) sehingga akan dapat membangun kecerdasan emosi melalui 6 ( enam ) prinsip di dalam Rukun Iman, yang mempunyai karakteristik sejalan dengan hati nurani manusia dan merupakan cerminan kehendak Allah Yang Maha Sempurna.
1.Star Principle
Membangun prinsip Bintang sebagai pegangan hidup.
Timbulnya perbedaan pada setiap orang saat menentukan suara hati mana yang harus diikuti adalah karena perbedaan keinginan dan prioritas pada setiap orang tetapi akan lebih mudah memahami diri sendiri apabila telah memahami makna dari 99 suara hati ( 99 Asmaul Husna ), karena akan memiliki radar hati yang mampu merasakan keseluruhan sifat sifat Allah yang merupakan dasar pemahaman suara hati manusia.
Hasil yang didapatkan diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Integritas.
b. Rasa Aman.
c. Situasi terus berkembang.
d. Kepercayaan diri.
e. Intuisi.
f. Sumber Motivasi.
2.Angel Principle
Memiliki prinsip Malaikat agar selalu dipercaya oleh orang lain.
Malaikat adalah makhluk mulia dan sangat dipercaya Tuhan untuk menjalankan segala perintah – Nya, prinsipnya tunggal : hanya mengabdi kepada Allah SWT. Dan memiliki kesetian tinggi, tiada rasa lelah, disiplin dan semua yang berada didalam hal tanggung jawabnya berjalan dengan sangat sempurna.Keteladananya adalah dalam hal menjaga teguh kepercayaan, memiliki loyalitas dan integritas yang sangat tinggi.
Hasil yang diperoleh dari prinsip tersebut diatas diantaranya adalah :
a.Integritas dan Loyalitas.
b.Komitmen.
c.Kebiasaan Memberi dan Mengawali.
d.Kebiasaan Menolong.
e.Saling Percaya.
3.Leaderships Principle
Memiliki prinsip Kepemimpinan yang menjadikan pemimpin berpengaruh.
Orang dengan prinsip teguh akan menjadi seorang pemimpin melalui suatu pengaruhnya yang kuat, selama ini sering terjadi kekeliruan pemahaman tentang arti kepemimpinan, banyak orang mengartikanya sebagai kedudukan atau posisi yang tinggi saja, sehingga posisi pemimpin diincar demi mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam sebuah kelompok, padahal setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri tetapi dimata Tuhan adalah sama karena semua manusia adalah Khalifah – Nya dimuka bumi.Tingkatan tangga kepemimpinan yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
a.Pemimpin yang dicintai.
b.Pemimpin yang di percaya.
c.Pemimpin sebagai pembimbing.
d.Pemimpin yang berkepribadian.
e.Pemimpin yang abadi.
4.Learning Principle
Menyadari pentingnya prinsip Pembelajaran yang mendorong pada kemajuan.
Pentingnya berpikir serta belajar adalah sangat dimuliakan oleh Allah SWT, selain predikat keutamaan bagi kaum muslimin yang beriman serta terus menerus bepikir tentang hakikat penciptaanya dimuka bumi, yang hampir disebutkan Allah SWT dalam setiap firman – Nya dengan keutamaan manusia lainya adalah dia dapat mampu menyelamatkan dirinya dan sesamanya dari kehancuran serta mampu mendorong manusia pada kemajuan peradaban. Hasil yang didapatkan dari prinsip pembelajaran :
a.Kebiasaan membaca buku dan situasi.
b.Kebiasaan berpikir kritis.
c.Kebiasaan mengevaluasi.
d.Kebiasaan menyempurnakan.
e.Memiliki pedoman.
5.Vision Principle
Mempunyai prinsip Masa Depan sehingga akan selalu memiliki Visi
Setiap tahapan pembangunan sangat bergantung pada kualitas kecerdasan hati seseorang yang telah dipersiapkan di pembangunan prinsip prinsip sebelumnya semuanya melalui suatu proses yang dijalani, dengan menggunakan prinsip prinsip Rukun Iman, Rukun Islam dan Ihsan untuk meraih visi yang sebenarnya. Hasil yang di dapatkan adalah :
a.Ketenangan batiniah.
b.Jaminan masa depan.
c.Kendali diri dan sosial.
d.Optimalisasi upaya.
e.Berorientasi pada tujuan.
6.Well Organized Principle
Memiliki prinsip Keteraturan sehingga tercipta sistem mental ketauhidan.
Manajemen adalah mengerjakan segala sesuatu secara benar (do the things right), kepemimpinan adalah mengerjakan hal hal yang benar (do the right things), dan manajemen adalah melakukan efisiensi untuk menaiki tangga keberhasilan, sedangkan kepemimpinan adalah memastikan atau menentukan apakah tangganya bersandar pada dinding yang benar, sang pemimpin bagaikan orang yang memanjat pohon yang tertinggi untuk mempelajari seluruh situasi kemudian memastikan arahnya, inilah yang menjadi bukti kebenaran urutan Rukun Iman ke 5 (lima) dan Rukun Islam ke 6 (enam) yang urutannya adalah prinsip masa depan terletak lebih dahulu, baru disusul prinsip keteraturan dibelakangnya.
Anjuran Rasulullah : ” Mulailah dari sebelah kanan.” Kebiasaan Rasulullah ini terbukti dengan diketahuinya fungsi otak sebelah kanan yang berisikan gambaran visi manusia, dalam hal ini mulailah dari sebelah kanan berarti mulailah pekerjaan itu dengan sebuah tujuan atau visi yang jelas dan transparan. Hasil yang akan diperoleh dalam prinsip keteraturan tersebut diatas adalah :
a.Orientasi pemeliharaan sistem atau menjaga sinergi.
b.Orientasi pembentukan sistem atau prinsip sinergi.
c.Pemahaman arti proses.
d.Kepastian hukum sosial.
e.Kepastian hukum alam.
C. RUKUN ISLAM (PERSONAL STRENGHT dan SOCIAL STRENGHT)
1.Personal Strenght
Ketangguhan pribadi yang muncul ketika seseorang telah mengenal jati diri spiritualnya menuju pencerahan, sabda Nabi Muhammad s.a.w : ” Apabila engkau mengenal siapa dirimu, maka engkau akan mengenal siapa Tuhan – mu.” (Hadits Rasulullah )
A. Mission Statement ( Penetapan Misi )
Penetapan misi umumnya dibentuk berdasarkan logika dan seringkali pula mengabaikan suara hati spiritual tetapi tidaklah semudah membalikan tangan, dibutuh kan pemikiran yang mendalam dan hati hati dan tidak berdasarkan logika, akan tetapi mampu sejalan dengan suara hati fitrah manusia, karena hukum keseimbangan alam milik Tuhan akan menghempaskanya.
Setiap manusia mempunyai panggilan hidupnya sendiri atau misi hidupnnya oleh karena itu tidak dapat digantikan dan hidupnya tidak mungkin dapat diulang, jadi setiap orang memiliki peluang unik untuk melaksanakan misi hidup masing masing.
Firman Allah S.W.T dalam Al Qur’an surat Al Fathir ( Pencipta ) ayat 5 :
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” ( QS 35 : 5 )
Mission statement diaplikasikan dalam Syahadat ( merupakan visi ) dan hasil yang akan didapatkan dalam penetapan mission statement ini adalah sebagai berikut :
1.Membangun misi kehidupan.
2.Membulatkan tekad.
3.Membangun visi.
4.Menciptakan wawasan.
5.Transformasi visi.
6.Komitmen total.
B. Character Building ( Membangun Karakter )
Dalam pekerjaan sehari hari pikiran seseorang seringkali didesak untuk hal-hal dapat menyelesaikan berbagai tugas yang datang silih berganti dan disaat yang bersamaan pula ia harus menghadapi berbagai masalah yang harus diatasi. Istirahat pikiran dengan relaksasi sejenak dan meyambutna dengan kejernihan pikiran akan lebih baik dan menjadikan peka kembali serta memberikan ruang berpikir bagi perasaan intuitif, sekaligus menstabilkan kecerdasan emosi dan spiritual seseorang serta menjaga kefitrahan suara hati.
Character Building diaplikasikan dalam Shalat, hasil yang akan didapatkan dengan membangun karakter tersebut adalah :
1.Relaksasi.
2.Membangun kekuatan afirmasi.
3.Meningkatkan emosi kecerdasan dan spiritual ( ESQ ).
4.Membangun pengalaman positif.
5.Pembangkit dan penyeimbang energi batiniah.
6.Pengasahan prinsip.
C. Self Control ( Pengendalian Diri )
Dorongan berupa keinginan atau nafsu yang berlebihan akan menghasilkan belenggu yang menutup asset paling berharga dari sorang manusia adalah suara hati bila tidak terbelenggu akan membebaskan suara Ilahiah. Menghentikan pengabdian dirinya kepada selain Allah akan menjadikan pribadi yang mampu mengeluarkan suatu potensi dirinya untuk hasil yang terbaik, lebih tinggi dari standar duniawi melalui cara yang bijaksana dan luhur.
Aplikasi dalam Self control adalah berupa Puasa, hasil yang akan didapatkan dalam pengendalian diri adalah sebagai berikut :
1.Meraih kemerdekaan sejati.
2.Memelihara fitrah.
3.Mengendalikan suasana hati.
4.Meningkatkan kecakapan emosi secara fisiologis.
5.Pengendalian prinsip.
2.Social Strenght
Firman Allah S.W.T dalam Al Qur’an surat Al Anbiya ayat 92 :
“Sungguh, agama kamu ini satu agama saja, dan Aku adalah Tuhanmu. Karena itu sembahlah Aku.” ( QS 21 : 92 )
Keinginan untuk berkelompok atau bersinergi pun merupakan dorongan hal suara hati dan kebutuhan dasar manusia, sifat fitrah ini mendorong manusia untuk berkumpul dan berjamaah dengan sesamanya, sehingga terbentuk ketangguhan sosial.
A. Strategic Collaboration
Mengeluarkan potensi spiritual ( core values ) dengan melakukan langkah langkah melalui berkelompok atau berjamaah, dengan pendekatan aplikasinya adalah berupa zakat, hasil yang didapatkan dalam strategic collabiration adalah :
1.Investasi kepercayaan.
2.Investasi komitmen.
3.Membangun landasan kooperatif.
4.Investasi kredibilitas.
5.Investasi keterbukaan, empati dan kompromi.
B. Total Action ( Aplikasi Total )
Aplikasi total yang dilambangkan dengan Haji, secara social adalah lambang kolaborasi yang tertinggi, yaitu pertemuan seluruh umat sedunia yang memiliki nilai dasar yang sama dan tujuan dasar yang sama. Sehingga kesamaan langkah, gerak dan tujuan yang dilandasi oleh kesamaan prinsip adalah syarat terjadinya sinergi yang dahsyat dan merupakan ketangguhan sosial yang sesungguhnya, sinergi yang timbul bukan hanya antara umat manusia tetapi antara manusia dan Tuhannya.
Hasil yang akan didapatkan dalam Total action adalah berupa :
1.Langkah Zero mind atau jernih pikir ( Ihram ).
2.Evaluasi dan Visualisasi ( Wukuf ).
3.Hadapai tantangan ( Jumrah ).
4.Pengasahan komitmen dan integritas ( Thawaf ).
5.Pengasahan Adversity Quotient atau kecerdasan dalam mengatasi kesulitan dan
bertahan hidup ( Sa’I ).
6.Sinergikan Jamaah ( Haji ).
BAB III
KESIMPULAN
Kecerdasan Emosi atau “Emotional Intellegence” merujuk pada kemampuan mengungkap serta mengenali perasaan kita sendiri, juga perasaan orang lain, lebih tepatnya kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi diri sendiri dengan baik dan dalam hubunganya dengan orang lain. Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam merupakan petunjuk bagi umat Islam, pokok pikirannya merupakan arah pembimbung dalam mengenali atau memahami perasaan kita sendiri, perasaan orang lain, memotivasi diri serta mengelola emosi dalam berhubungan dengan orang lain dan juga merupakan metoda pembangunan kecerdasan emosi yang didasari oleh suatu hubungan antara manusia dengan Tuhan – nya adalah merupakan Kecerdasan Emosi dan Spiritual ( ESQ ).
Urutan di dalam Rukun Iman disusun berdasarkan urutan anak tangga yang sangat teratur dan sistematis serta memiliki keterkaitan erat dan kuat dan merupakan satu kesatuan. Dimulai dari Prinsip Landasan ( Prinsip Bintang ), Prinsip Kepercayaan, Prinsip Kepemimpinan, Pembelajaran, Prinsip Masa Depan hingga Prinsip Keteraturan. Hal hal tersebut diatas adalah merupakan pembentukan mental yang dilanjutkan pula dengan langkah langkah fisik yaitu mission statemen kemudian pembangunan karakter dan pengendalian diri dalam Rukun Islam, ketiga hal tersebut diatas akan membangun sebuah pribadi yang tangguh, setelah memiliki ketangguhan pribadi, maka dilanjutkan dengan pembangunan kecerdasan sosial dan menghasilkan kecerdasan sosial.
Rukun Islam berfungsi sebagai tuntunan dalam hal beragama, tetapi juga merupakan metode pengasahan atau pelatihan ESQ, dimulai dari Syahadat sebagai mission statement, Shalat yang berfungsi sebagai character building, Puasa sebagai self control dan Zakat serta Haji yang berfungsi sebagai social intellegence atau pun kecerdasan sosial. Dalam Rukun Islam pemahaman tentang kecerdasan emosi akan diperoleh melalui Rukun Iman bila dilatih dan dipertajam lebih dalam dengan cara cara menggunakan konsep yang dilakukan secara aplikatif, berulang serta terus menerus.
Rukun Islam menjawab melalui nilai dasar spirituil atau suara fitrah hati akan motivasi dan usaha yang benar untuk mempelajari dan menguasai kecakapan emosi. Selama ini terjadi semacam stereotip bahwa Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam adalah untuk keperluan akhirat semata dan ajaran Barat atau doktrin lainya untuk keberhasilan dunia, padahal keberhasilan sejati baik didunia maupun di akhirat serta kebahagiaan hakiki baik lahiriah dan batiniah adalah melalui mekanisme Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam.
Sumber suara hati manusia adalah Asmaul Husna, adalah dasar pengenalan dan alat untuk memahami bagian terdalam dari suara hati kita sendiri, juga perasaan serta suara hati orang lain, Asmaul Husna adalah merupakan dasar dan kunci didalam membangun Ketangguhan Pribadi dan Ketangguhan Sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual :
Emotional Spiritual Quotient ( ESQ ), Arga Wijaya Persada, Jakarta 2001
http://kendyferdian.wordpress.com/2012/10/21/emotional-spiritual-quotient-esq/
A.Dasar Pemikiran
” Apabila manusia melakukan pendekatan diri kepada Tuhan Pencipta mereka dengan bermacam macam kebaikan, maka mendekatlah engkau dengan akalmu, niscaya engkau merasakan nikmat yang lebih banyak, yaitu dekat dengan manusia di dunia dan dekat dengan Allah di akhirat.” ( Hadits Rasulullah )
Manusia terdorong untuk mencari, mengapa ia tidak puas dan mengapa dia tidak bahagia. Dorongan yang membuat seseorang tanpa sadar mencari cari melalui dunia sehingga pada akhirnya banyak yang berkiblat kepada dunia, tetapi sebenarnya mereka tengah melakukan perjalanan pencarian makna kehidupan.
Ada manusia yang menyadari bahwa dirinya sedang melakukan pencarian yaitu” pencarian jati diri “, namun banyak juga yang tidak menyadari akan hal itu. Inti pencarian tersebut diatas ternyata dialami juga oleh tiga orang manusia besar di dalam sejarah : Ibrahim, Musa dan Muhammad, yang mendapatkan keyakinannya melalui sebuah proses yang panjang.
Proses pencarian itu dialami Nabi Ibrahim atau Abraham, beliau mencari di balik bintang, bulan dan matahari. Beliau terus bertanya dan mencari, sehingga beliau menemukan jawabannya. Begitu pula dengan Nabi Musa atau Moses, beliau menaiki Gunung Sinai, dan mencari keyakinan akan Tuhan. Nabi Musa berkata :
” Tuhanku tunjukanlah kepadaku, agar aku bisa melihat-Mu.” Kemudian Tuhan pun menjawab : ” Musa, kau takkan bisa melihat-Ku. Tapi lihatlah gunung itu, apabila ia tetap tegak berdiri, maka kau akan melihat-Ku, Musa.” Kemudian tatkala Tuhan pun memperlihatkan diri-Nya dihadapan gunung itu, maka gunung itu hancur terpecah belah. Nabi Musa tersungkur, jatuh pingsan, ketika beliau sadar, dia berkata : ” Maha Suci Engkau, kami bertaubat pada-Mu, dan aku menjadi orang yang pertama beriman.” Musa pun mendapatkan keyakinan akan eksistensi Tuhan dan kehidupan.
Pencarian juga dialami oleh Nabi Muhammad s.a.w, beliau gelisah melihat keadaan kaumnya saat itu hingga selama bertahun tahun naik turun gua Hira untuk mencari jawaban akan makna kebenaran dan hakikat kehidupan. Inilah perintah dari Tuhan agar manusia mencari dan menyadari siapa dirinya dan darimana dia berasal, inilah makna kehidupan.
Pencarian tersebut diatas menuntun kearah kecerdasan emosi dan spiritual atau dikenal dengan istilah Emotional Spiritual Quotient atau ESQ, pembentukan dari ESQ itu adalah bermula dari Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan pada dasar pemikiran tersebut diatas, maka kami mencoba merumuskan beberapa masalah yang akan diuraikan secara rinci, uraiannya adalah sebagai berikut :
1. Apakah Ihsan ( Zero Mind Proses ) ?
2. Bagaimana Rukun Iman ( Mental Building ) ?
3. Bagaimana Rukun Islam ( Personal Strenght dan Social Strenght ) ?
C.Tujuan Pembahasan
Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk mengetahui dan memberikan hal kajian
dari IlmuTasauf , tujuan hal tersebut diatas akan diuraikan sebagai berikut :
1. Untuk dapat mengetahui Ihsan ( Zero Mind Proses ).
2. Untuk mengetahui Rukun Iman ( Mental Building ).
3. Untuk dapat mengetahui Rukun Islam (Personal Strenght dan Social Strenght).
BAB II
EMOTIONAL SPRITUAL QUOTIENT ( ESQ )
Emotional Spiritual Quotient adalah merupakan konsep tentang bagaimana membangun sebuah kecerdasan emosi dan spiritual ( ESQ ), cara cara pemeliharaan dan metode metodenya dengan unsur pembentuk Ihsan ( Zero Mind Proses / Pikiran Bersih atau Penjernihan Emosi ), Rukun Iman ( Mental Building / Membangun Mental ) dan Rukun Islam ( Personal Strenght dan Social Strenght atau Ketangguhan Pribadi dan Ketangguhan Sosial ).
A. IHSAN ( ZERO MIND PROSES )
Setiap manusia telah dikarunia oleh Tuhan sebuah jiwa, yang dengan jiwa itu dia bebas menentukan pilihannya. Dalam Al Qur’an sebelum manusia diciptakan, ruh manusia telah mengadakan perjanjian dengan Tuhannya. Firman Allah S.W.T didalam Al Qur’an surat Al Araf ayat 172 -173, menunjukan pula sebuah fitrah iman agama ataupun akidah pada diri manusia : “Dan ( ingatlah ) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, ( seraya berfirman ) : ” Bukankah Aku ini Tuhanmu ?” Mereka menjawab : “Betul ( Engkau Tuhan kami ), kami menjadi saksi.” ( Kami lakukan yang demikian itu ) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan : ” Sesungguhnya kami ( bani Adam ) adalah orang orang yang lengah terhadap ini ( ke-Esa-an Tuhan). ” Atau agar kamu tidak mengatakan : ” Sesungguhnya orang orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak anak keturunan yang ( datang ) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang orang yang sesat dahulu.” ( QS 7 : 172 – 173 )
Manusia bila hendak berbuat keburukan suara hati nurani akan melarangnya jika manusia tetap melakukan perbuatan yang buruk dan tidak sesuai dengan nurani dia akan menyesalinya, penyesalan ini merupakan tanda kembali kepada Tuhannya, jawaban suara hati sesuai dengan sifat sifat Allah dalam Al Qur’an ( Asmaul Husna ).
Dalam Ihsan adalah berkaitan dengan nilai nilai dalam hati, baik didalam hal kebebasan hati , bimbingan suara hati , kasih sayang atau makna kesetiaan sehingga ketika suara hati secara universal mengakuinya maka jiwa pun akan membenarkanya.
Suara hati akan terbelenggu dan akan tidak dapat melihat nilai nilai universal tersebut diatas yang dapat menjerumuskan kepada hal hal yang buruk, belenggu suara hati tersebut adalah diantaranya :
1.Prasangka buruk.
2.Prinsip hidup.
3.Pengalaman
4.Kepentingan.
5.Sudut pandang.
6.Pembanding.
7.Fanatisme.
A. Sadar Diri
Cara berfikir sesorang akan dipengaruhi oleh belenggu suara hati, sehingga kemampuan untuk melihat sesuatu secara jernih harus didahului oleh kemampuan hal mengenali faktor faktor yang mempengaruhi kejernihan pikir dengan mengembalikan manusia kepada fitrahnya sehingga akan mampu melihat dengan matahati, mampu di dalam menentukan pilihan dan memprioritaskan dengan benar sesuai suara hati.
Cara membangun kekuatan pikiran bawah sadar untuk selalu suci dan akan menjadi sumber kekuatan salah satunya adalah dengan ucapan Subhanallah atau pun dengan dzikir dan tasbih dan hal ini akan mengendalikan kejernihan pikir ( repetitive magic power ). Di dalam shalat proses berpikir jernih dilambangkan dengan Takbiratul Ihram, sedangkan dalam ber – Haji adalah Ihram.
”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama ( Allah ). (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. ( QS 30 : 30 )
B.Hasil ZMP
Kebebasan berpikir dengan menyucikan pikiran akan selalu menghasilkan hal hal yang baru, hal ini pula yang menjadi kekuatan ummi – nya Rasulullah diajarkan melalui penjernihan pikiran dengan perantaraan baju Ihram dalam Haji,takbiratul ihram dalam Shalat dan berwudlu sebelum Shalat.
C.Aplikasi
Dalam menghadapi sebuah masalah atau pun peluang, kenalilah diri sendiri sebelum melakukan respon dan menentukan pilihan, lakukanlah hal repetitive magic power, dzikir asmaul Husna dan ucapkan Subhanallah sambil mengingat kesucian sifat sifat Allah.
Melakukan Istigfar sambil berintrospeksi dan evaluasi diri, berdoa dengan khusyu, ketika membersihkan muka niatkan untuk membasuh mata dan wajah dari hal pandangan hina dan kemunafikan, ketika membasuh tangan dan kaki niatkan untuk membersihkan diri dari dosa yang dilakukan tangn dan kaki serta melontarkan ketujuh (belenggu suara hati) jumrah di hati.
B. RUKUN IMAN ( MENTAL BUILDING )
Setelah muncul kejernihan hati dan mampu mengatasi belenggu suara hati maka akan timbul kesadaran spiritual dan memiliki suara hati spiritual ( self conscience ) sehingga akan dapat membangun kecerdasan emosi melalui 6 ( enam ) prinsip di dalam Rukun Iman, yang mempunyai karakteristik sejalan dengan hati nurani manusia dan merupakan cerminan kehendak Allah Yang Maha Sempurna.
1.Star Principle
Membangun prinsip Bintang sebagai pegangan hidup.
Timbulnya perbedaan pada setiap orang saat menentukan suara hati mana yang harus diikuti adalah karena perbedaan keinginan dan prioritas pada setiap orang tetapi akan lebih mudah memahami diri sendiri apabila telah memahami makna dari 99 suara hati ( 99 Asmaul Husna ), karena akan memiliki radar hati yang mampu merasakan keseluruhan sifat sifat Allah yang merupakan dasar pemahaman suara hati manusia.
Hasil yang didapatkan diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Integritas.
b. Rasa Aman.
c. Situasi terus berkembang.
d. Kepercayaan diri.
e. Intuisi.
f. Sumber Motivasi.
2.Angel Principle
Memiliki prinsip Malaikat agar selalu dipercaya oleh orang lain.
Malaikat adalah makhluk mulia dan sangat dipercaya Tuhan untuk menjalankan segala perintah – Nya, prinsipnya tunggal : hanya mengabdi kepada Allah SWT. Dan memiliki kesetian tinggi, tiada rasa lelah, disiplin dan semua yang berada didalam hal tanggung jawabnya berjalan dengan sangat sempurna.Keteladananya adalah dalam hal menjaga teguh kepercayaan, memiliki loyalitas dan integritas yang sangat tinggi.
Hasil yang diperoleh dari prinsip tersebut diatas diantaranya adalah :
a.Integritas dan Loyalitas.
b.Komitmen.
c.Kebiasaan Memberi dan Mengawali.
d.Kebiasaan Menolong.
e.Saling Percaya.
3.Leaderships Principle
Memiliki prinsip Kepemimpinan yang menjadikan pemimpin berpengaruh.
Orang dengan prinsip teguh akan menjadi seorang pemimpin melalui suatu pengaruhnya yang kuat, selama ini sering terjadi kekeliruan pemahaman tentang arti kepemimpinan, banyak orang mengartikanya sebagai kedudukan atau posisi yang tinggi saja, sehingga posisi pemimpin diincar demi mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam sebuah kelompok, padahal setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri tetapi dimata Tuhan adalah sama karena semua manusia adalah Khalifah – Nya dimuka bumi.Tingkatan tangga kepemimpinan yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
a.Pemimpin yang dicintai.
b.Pemimpin yang di percaya.
c.Pemimpin sebagai pembimbing.
d.Pemimpin yang berkepribadian.
e.Pemimpin yang abadi.
4.Learning Principle
Menyadari pentingnya prinsip Pembelajaran yang mendorong pada kemajuan.
Pentingnya berpikir serta belajar adalah sangat dimuliakan oleh Allah SWT, selain predikat keutamaan bagi kaum muslimin yang beriman serta terus menerus bepikir tentang hakikat penciptaanya dimuka bumi, yang hampir disebutkan Allah SWT dalam setiap firman – Nya dengan keutamaan manusia lainya adalah dia dapat mampu menyelamatkan dirinya dan sesamanya dari kehancuran serta mampu mendorong manusia pada kemajuan peradaban. Hasil yang didapatkan dari prinsip pembelajaran :
a.Kebiasaan membaca buku dan situasi.
b.Kebiasaan berpikir kritis.
c.Kebiasaan mengevaluasi.
d.Kebiasaan menyempurnakan.
e.Memiliki pedoman.
5.Vision Principle
Mempunyai prinsip Masa Depan sehingga akan selalu memiliki Visi
Setiap tahapan pembangunan sangat bergantung pada kualitas kecerdasan hati seseorang yang telah dipersiapkan di pembangunan prinsip prinsip sebelumnya semuanya melalui suatu proses yang dijalani, dengan menggunakan prinsip prinsip Rukun Iman, Rukun Islam dan Ihsan untuk meraih visi yang sebenarnya. Hasil yang di dapatkan adalah :
a.Ketenangan batiniah.
b.Jaminan masa depan.
c.Kendali diri dan sosial.
d.Optimalisasi upaya.
e.Berorientasi pada tujuan.
6.Well Organized Principle
Memiliki prinsip Keteraturan sehingga tercipta sistem mental ketauhidan.
Manajemen adalah mengerjakan segala sesuatu secara benar (do the things right), kepemimpinan adalah mengerjakan hal hal yang benar (do the right things), dan manajemen adalah melakukan efisiensi untuk menaiki tangga keberhasilan, sedangkan kepemimpinan adalah memastikan atau menentukan apakah tangganya bersandar pada dinding yang benar, sang pemimpin bagaikan orang yang memanjat pohon yang tertinggi untuk mempelajari seluruh situasi kemudian memastikan arahnya, inilah yang menjadi bukti kebenaran urutan Rukun Iman ke 5 (lima) dan Rukun Islam ke 6 (enam) yang urutannya adalah prinsip masa depan terletak lebih dahulu, baru disusul prinsip keteraturan dibelakangnya.
Anjuran Rasulullah : ” Mulailah dari sebelah kanan.” Kebiasaan Rasulullah ini terbukti dengan diketahuinya fungsi otak sebelah kanan yang berisikan gambaran visi manusia, dalam hal ini mulailah dari sebelah kanan berarti mulailah pekerjaan itu dengan sebuah tujuan atau visi yang jelas dan transparan. Hasil yang akan diperoleh dalam prinsip keteraturan tersebut diatas adalah :
a.Orientasi pemeliharaan sistem atau menjaga sinergi.
b.Orientasi pembentukan sistem atau prinsip sinergi.
c.Pemahaman arti proses.
d.Kepastian hukum sosial.
e.Kepastian hukum alam.
C. RUKUN ISLAM (PERSONAL STRENGHT dan SOCIAL STRENGHT)
1.Personal Strenght
Ketangguhan pribadi yang muncul ketika seseorang telah mengenal jati diri spiritualnya menuju pencerahan, sabda Nabi Muhammad s.a.w : ” Apabila engkau mengenal siapa dirimu, maka engkau akan mengenal siapa Tuhan – mu.” (Hadits Rasulullah )
A. Mission Statement ( Penetapan Misi )
Penetapan misi umumnya dibentuk berdasarkan logika dan seringkali pula mengabaikan suara hati spiritual tetapi tidaklah semudah membalikan tangan, dibutuh kan pemikiran yang mendalam dan hati hati dan tidak berdasarkan logika, akan tetapi mampu sejalan dengan suara hati fitrah manusia, karena hukum keseimbangan alam milik Tuhan akan menghempaskanya.
Setiap manusia mempunyai panggilan hidupnya sendiri atau misi hidupnnya oleh karena itu tidak dapat digantikan dan hidupnya tidak mungkin dapat diulang, jadi setiap orang memiliki peluang unik untuk melaksanakan misi hidup masing masing.
Firman Allah S.W.T dalam Al Qur’an surat Al Fathir ( Pencipta ) ayat 5 :
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” ( QS 35 : 5 )
Mission statement diaplikasikan dalam Syahadat ( merupakan visi ) dan hasil yang akan didapatkan dalam penetapan mission statement ini adalah sebagai berikut :
1.Membangun misi kehidupan.
2.Membulatkan tekad.
3.Membangun visi.
4.Menciptakan wawasan.
5.Transformasi visi.
6.Komitmen total.
B. Character Building ( Membangun Karakter )
Dalam pekerjaan sehari hari pikiran seseorang seringkali didesak untuk hal-hal dapat menyelesaikan berbagai tugas yang datang silih berganti dan disaat yang bersamaan pula ia harus menghadapi berbagai masalah yang harus diatasi. Istirahat pikiran dengan relaksasi sejenak dan meyambutna dengan kejernihan pikiran akan lebih baik dan menjadikan peka kembali serta memberikan ruang berpikir bagi perasaan intuitif, sekaligus menstabilkan kecerdasan emosi dan spiritual seseorang serta menjaga kefitrahan suara hati.
Character Building diaplikasikan dalam Shalat, hasil yang akan didapatkan dengan membangun karakter tersebut adalah :
1.Relaksasi.
2.Membangun kekuatan afirmasi.
3.Meningkatkan emosi kecerdasan dan spiritual ( ESQ ).
4.Membangun pengalaman positif.
5.Pembangkit dan penyeimbang energi batiniah.
6.Pengasahan prinsip.
C. Self Control ( Pengendalian Diri )
Dorongan berupa keinginan atau nafsu yang berlebihan akan menghasilkan belenggu yang menutup asset paling berharga dari sorang manusia adalah suara hati bila tidak terbelenggu akan membebaskan suara Ilahiah. Menghentikan pengabdian dirinya kepada selain Allah akan menjadikan pribadi yang mampu mengeluarkan suatu potensi dirinya untuk hasil yang terbaik, lebih tinggi dari standar duniawi melalui cara yang bijaksana dan luhur.
Aplikasi dalam Self control adalah berupa Puasa, hasil yang akan didapatkan dalam pengendalian diri adalah sebagai berikut :
1.Meraih kemerdekaan sejati.
2.Memelihara fitrah.
3.Mengendalikan suasana hati.
4.Meningkatkan kecakapan emosi secara fisiologis.
5.Pengendalian prinsip.
2.Social Strenght
Firman Allah S.W.T dalam Al Qur’an surat Al Anbiya ayat 92 :
“Sungguh, agama kamu ini satu agama saja, dan Aku adalah Tuhanmu. Karena itu sembahlah Aku.” ( QS 21 : 92 )
Keinginan untuk berkelompok atau bersinergi pun merupakan dorongan hal suara hati dan kebutuhan dasar manusia, sifat fitrah ini mendorong manusia untuk berkumpul dan berjamaah dengan sesamanya, sehingga terbentuk ketangguhan sosial.
A. Strategic Collaboration
Mengeluarkan potensi spiritual ( core values ) dengan melakukan langkah langkah melalui berkelompok atau berjamaah, dengan pendekatan aplikasinya adalah berupa zakat, hasil yang didapatkan dalam strategic collabiration adalah :
1.Investasi kepercayaan.
2.Investasi komitmen.
3.Membangun landasan kooperatif.
4.Investasi kredibilitas.
5.Investasi keterbukaan, empati dan kompromi.
B. Total Action ( Aplikasi Total )
Aplikasi total yang dilambangkan dengan Haji, secara social adalah lambang kolaborasi yang tertinggi, yaitu pertemuan seluruh umat sedunia yang memiliki nilai dasar yang sama dan tujuan dasar yang sama. Sehingga kesamaan langkah, gerak dan tujuan yang dilandasi oleh kesamaan prinsip adalah syarat terjadinya sinergi yang dahsyat dan merupakan ketangguhan sosial yang sesungguhnya, sinergi yang timbul bukan hanya antara umat manusia tetapi antara manusia dan Tuhannya.
Hasil yang akan didapatkan dalam Total action adalah berupa :
1.Langkah Zero mind atau jernih pikir ( Ihram ).
2.Evaluasi dan Visualisasi ( Wukuf ).
3.Hadapai tantangan ( Jumrah ).
4.Pengasahan komitmen dan integritas ( Thawaf ).
5.Pengasahan Adversity Quotient atau kecerdasan dalam mengatasi kesulitan dan
bertahan hidup ( Sa’I ).
6.Sinergikan Jamaah ( Haji ).
BAB III
KESIMPULAN
Kecerdasan Emosi atau “Emotional Intellegence” merujuk pada kemampuan mengungkap serta mengenali perasaan kita sendiri, juga perasaan orang lain, lebih tepatnya kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi diri sendiri dengan baik dan dalam hubunganya dengan orang lain. Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam merupakan petunjuk bagi umat Islam, pokok pikirannya merupakan arah pembimbung dalam mengenali atau memahami perasaan kita sendiri, perasaan orang lain, memotivasi diri serta mengelola emosi dalam berhubungan dengan orang lain dan juga merupakan metoda pembangunan kecerdasan emosi yang didasari oleh suatu hubungan antara manusia dengan Tuhan – nya adalah merupakan Kecerdasan Emosi dan Spiritual ( ESQ ).
Urutan di dalam Rukun Iman disusun berdasarkan urutan anak tangga yang sangat teratur dan sistematis serta memiliki keterkaitan erat dan kuat dan merupakan satu kesatuan. Dimulai dari Prinsip Landasan ( Prinsip Bintang ), Prinsip Kepercayaan, Prinsip Kepemimpinan, Pembelajaran, Prinsip Masa Depan hingga Prinsip Keteraturan. Hal hal tersebut diatas adalah merupakan pembentukan mental yang dilanjutkan pula dengan langkah langkah fisik yaitu mission statemen kemudian pembangunan karakter dan pengendalian diri dalam Rukun Islam, ketiga hal tersebut diatas akan membangun sebuah pribadi yang tangguh, setelah memiliki ketangguhan pribadi, maka dilanjutkan dengan pembangunan kecerdasan sosial dan menghasilkan kecerdasan sosial.
Rukun Islam berfungsi sebagai tuntunan dalam hal beragama, tetapi juga merupakan metode pengasahan atau pelatihan ESQ, dimulai dari Syahadat sebagai mission statement, Shalat yang berfungsi sebagai character building, Puasa sebagai self control dan Zakat serta Haji yang berfungsi sebagai social intellegence atau pun kecerdasan sosial. Dalam Rukun Islam pemahaman tentang kecerdasan emosi akan diperoleh melalui Rukun Iman bila dilatih dan dipertajam lebih dalam dengan cara cara menggunakan konsep yang dilakukan secara aplikatif, berulang serta terus menerus.
Rukun Islam menjawab melalui nilai dasar spirituil atau suara fitrah hati akan motivasi dan usaha yang benar untuk mempelajari dan menguasai kecakapan emosi. Selama ini terjadi semacam stereotip bahwa Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam adalah untuk keperluan akhirat semata dan ajaran Barat atau doktrin lainya untuk keberhasilan dunia, padahal keberhasilan sejati baik didunia maupun di akhirat serta kebahagiaan hakiki baik lahiriah dan batiniah adalah melalui mekanisme Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam.
Sumber suara hati manusia adalah Asmaul Husna, adalah dasar pengenalan dan alat untuk memahami bagian terdalam dari suara hati kita sendiri, juga perasaan serta suara hati orang lain, Asmaul Husna adalah merupakan dasar dan kunci didalam membangun Ketangguhan Pribadi dan Ketangguhan Sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual :
Emotional Spiritual Quotient ( ESQ ), Arga Wijaya Persada, Jakarta 2001
Jumat, 28 Desember 2012
Tariq bin Ziyad
Mendung hitam menggelayut di atas bumi
Spanyol. Eropa sedang dikangkangi oleh penjajah, Raja Gotik yang
kejam. Wanita merasa terancam kesuciannya, petani dikenakan pajak
tanah yang tinggi, dan banyak lagi penindasan yang tak
berperikemanausiaan. Raja dan anteknya bersuka ria dalam kemewahan
sedang rakyat merintih dalam kesengsaraan. Sebagian besar penduduk yang
beragama Kristen danYahudi, mengungsi ke Afrika, berharap mendapat
ketenangan yang lebih menjanjikan. Dan saat itu Afrika, adalah sebuah
daerah yang makmur dan mempunyai toleransi yang tinggi karena
berada di bawah naungan pemerintahan Islam.
Namun Tariq tetap pada pendiriannya. Dengan gagah berani ia berseru,”Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya pilihan,menaklukkan negeri ini dan menetap di sini, atau kita semua syahid. Keberanian dan perkataannya yang luar biasa menggugah Iqbal, seorangpenyair Persia, untuk menggubahnya dalam sebuah syair berjudul”Piyam-i Mashriq”: “Tatkala Tariq membakar kapal-kapalnya di pantai Andalusia (Spanyol), Prajurit-prajurit mengatakan, tindakannya tidak bijaksana. Bagaimanabisa mereka kembali ke negeri Asal, dan perusakan peralatan adalahbertentangan dengan hukum Islam. Mendengar itu semua, Tariq menghunus pedangnya, dan menyatakan bahwa setiap negeri kepunyaan Alloh adalah kampung halaman kita.”
Kata-kata Tariq itu bagaikan cambuk yang melecut semangat prajuritmuslim yang dipimpinnya. Bala tentara muslim yang berjumlah 12.000 orang maju melawan tentara Gotik yang berkekuatan 100.000 tentara. Pasukan Kristen jauh lebih unggul baik dalam jumlah maupun persenjataan. Namun semua itu tak mengecutkan hati pasukan muslim.
Tanggal 19 Juli tahun 711 Masehi, pasukan Islam dan Nasrani bertemu, keduanya berperang di dekat muara sungai Barbate. Pada pertempuran ini, Tariq dan pasukannya berhasil melumpuhkan pasukan Gotik, hingga Raja Roderick tenggelam di sungai itu. Kemenangan Tariq yang luar biasa ini, menjatuhkan semangat orang-orang Spanyol dan semenjak itu mereka tidak berani lagi menghadapi tentara Islam secara terbuka.
Tariq membagi pasukannya menjadi empat kelompok, dan menyebarkan mereka ke Kordoba, Malaga, dan Granada. Sedangkan dia sendiri bersamapasukan utamanya menuju ke Toledo, ibukota Spanyol. Semua kota-kota itu menyerah tanpa perlawanan berarti. Kecepatan gerak dan kehebatanpasukan Tariq berhasil melumpuhkan orang-orang Gotik.
Rakyat Spanyol yang sekian lama tertekan akibat penjajahanbangsa Gotik, mengelu-elukan orang-orang Islam. Selain itu, perilaku Tariq dan orang-orang Islam begitu mulia sehinggamereka disayangi oleh bangsa-bangsa yang ditaklukkannya.
Salah satu pertempuran paling seru terjadi di Ecija, yang membawakemenangan bagi pasukan Tariq. Dalam pertempuran ini, Musa bin Nusair, atasannya, sang raja muda Islam di Afrika ikut bergabung dengannya.
Selanjutnya, kedua jenderal itu bergerak maju terus berdampingan dan dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun seluruh dataran Spanyol jatuh ke tangan Islam. Portugis ditaklukkan pula beberapa tahun kemudian.
“Ini merupakan perjuangan utama yang terakhir dan paling sensasional bagi bangsa Arab itu,” tulis Phillip K.Hitti, “dan membawa masuknya wilayah Eropa yang paling luas yang belum pernah mereka peroleh sebelumnya ke dalam kekuasaan Islam. Kecepatan pelaksanaan dan kesempurnaan keberhasilan operasi ke Spanyol ini telah mendapat tempat yang unik di dalam sejarah peperangan abad pertengahan.”
Penaklukkan Spanyol oleh orang-orang Islam mendorong timbulnya revolusi sosial di mana kebebasan beragama benar-benar diakui. Ketidak toleranan dan penganiayaan yang biasa dilakukan orang-orang Kristen, digantikan oleh toleransi yang tinggi dan kebaikan hati yangluar biasa.
Keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu, sehingga jika tentara Islam yang melakukan kekerasan akan dikenakan hukuman berat. Tidak ada harta benda atau tanah milik rakyat yang disita. Orang-orang Islam memperkenalkan sistem perpajakan yang sangat jitu yang dengan cepat membawa kemakmuran di semenanjung itu dan menjadikan negeri teladan di Barat. Orang-orang Kristen dibiarkan memiliki hakim sendiri untuk memutuskan perkara-perkara mereka. Semua komunitas mendapat kesempatan yang sama dalam pelayanan umum.
Pemerintahan Islam yang baik dan bijaksana ini membawa efek luar biasa. Orang-orang Kristen termasuk pendeta-pendetanya yang pada mulanya meninggalkan rumah mereka dalam keadaan ketakutan, kembali pulang dan menjalani hidup yang bahagia dan makmur. Seorang penulis Kristen terkenal menulis: “Muslim-muslim Arab itu mengorganisir kerajaan Kordoba yang baik adalah sebuah keajaiban Abad Pertengahan, mereka mengenalkan obor pengetahuan dan peradaban, kecemerlangan dan keistimewaan kepada dunia Barat. Dan saat itu Eropa sedang dalam kondisi percekcokan dan kebodohan yang biadab.”
Tariq bermaksud menaklukkan seluruh Eropa, tapi Alloh menentukan lain. Saat merencanakan penyerbuan ke Eropa, datang panggilan dari Khalifah untuk pergi ke Damaskus. Dengan disiplin dan kepatuhan tinggi, Tariq memenuhi panggilan Khalifah dan berusaha tiba seawal mungkin di Damaskus. Tak lama kemudian, Tariq wafat di sana. Budak Barbar, penakluk Spanyol, wilayah Islam terbesar di Eropa yang selama delapan abad di bawah kekuasaan Islam telah memenuhi panggilan Rabbnya. Semoga Alloh merahmatinya. (her)
Kontribusi oleh ID: Noy (melalui Forum Media Muslim)
Satu dari jutaan pengungsi itu adalah Julian,
Gubernur Ceuta yang putrinya Florinda telah dinodai Roderick, raja
bangsa Gotik. Mereka memohon pada Musa bin Nusair, raja muda
Islam di Afrika untuk memerdekakan negeri mereka dari penindasan raja
yang lalim itu. Setelah mendapat persetujuan Khalifah, Musa melakukan
pengintaian kepantai selatan Spanyol. Bulan Mei tahun 711 Masehi,
Tariq bin Ziyad, budak Barbar yang juga mantan pembantu Musa bin Nusair
memimpin 12.000 anggota pasukan muslim menyeberangi selat antara
Afrika dan daratan Eropa.
Begitu kapal-kapal yang berisi pasukannya mendarat di Eropa,
Tariq mengumpulkan mereka di atas sebuah bukit karang, yang dinamai
Jabal Tariq (karang Tariq) yang sekarang terkenal dengan nama
Jabraltar. Diatas bukit karang itu Thariq memerintahkan pembakaran
kapal-kapal yang telah menyeberangkan mereka. Tentu saja perintah ini
membuat prajuritnya keheranan. “Kenapa Andalakukan ini?” tanya mereka.
“Bagaimana kita kembali nanti?” tanya yang lain.Namun Tariq tetap pada pendiriannya. Dengan gagah berani ia berseru,”Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya pilihan,menaklukkan negeri ini dan menetap di sini, atau kita semua syahid. Keberanian dan perkataannya yang luar biasa menggugah Iqbal, seorangpenyair Persia, untuk menggubahnya dalam sebuah syair berjudul”Piyam-i Mashriq”: “Tatkala Tariq membakar kapal-kapalnya di pantai Andalusia (Spanyol), Prajurit-prajurit mengatakan, tindakannya tidak bijaksana. Bagaimanabisa mereka kembali ke negeri Asal, dan perusakan peralatan adalahbertentangan dengan hukum Islam. Mendengar itu semua, Tariq menghunus pedangnya, dan menyatakan bahwa setiap negeri kepunyaan Alloh adalah kampung halaman kita.”
Kata-kata Tariq itu bagaikan cambuk yang melecut semangat prajuritmuslim yang dipimpinnya. Bala tentara muslim yang berjumlah 12.000 orang maju melawan tentara Gotik yang berkekuatan 100.000 tentara. Pasukan Kristen jauh lebih unggul baik dalam jumlah maupun persenjataan. Namun semua itu tak mengecutkan hati pasukan muslim.
Tanggal 19 Juli tahun 711 Masehi, pasukan Islam dan Nasrani bertemu, keduanya berperang di dekat muara sungai Barbate. Pada pertempuran ini, Tariq dan pasukannya berhasil melumpuhkan pasukan Gotik, hingga Raja Roderick tenggelam di sungai itu. Kemenangan Tariq yang luar biasa ini, menjatuhkan semangat orang-orang Spanyol dan semenjak itu mereka tidak berani lagi menghadapi tentara Islam secara terbuka.
Tariq membagi pasukannya menjadi empat kelompok, dan menyebarkan mereka ke Kordoba, Malaga, dan Granada. Sedangkan dia sendiri bersamapasukan utamanya menuju ke Toledo, ibukota Spanyol. Semua kota-kota itu menyerah tanpa perlawanan berarti. Kecepatan gerak dan kehebatanpasukan Tariq berhasil melumpuhkan orang-orang Gotik.
Rakyat Spanyol yang sekian lama tertekan akibat penjajahanbangsa Gotik, mengelu-elukan orang-orang Islam. Selain itu, perilaku Tariq dan orang-orang Islam begitu mulia sehinggamereka disayangi oleh bangsa-bangsa yang ditaklukkannya.
Salah satu pertempuran paling seru terjadi di Ecija, yang membawakemenangan bagi pasukan Tariq. Dalam pertempuran ini, Musa bin Nusair, atasannya, sang raja muda Islam di Afrika ikut bergabung dengannya.
Selanjutnya, kedua jenderal itu bergerak maju terus berdampingan dan dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun seluruh dataran Spanyol jatuh ke tangan Islam. Portugis ditaklukkan pula beberapa tahun kemudian.
“Ini merupakan perjuangan utama yang terakhir dan paling sensasional bagi bangsa Arab itu,” tulis Phillip K.Hitti, “dan membawa masuknya wilayah Eropa yang paling luas yang belum pernah mereka peroleh sebelumnya ke dalam kekuasaan Islam. Kecepatan pelaksanaan dan kesempurnaan keberhasilan operasi ke Spanyol ini telah mendapat tempat yang unik di dalam sejarah peperangan abad pertengahan.”
Penaklukkan Spanyol oleh orang-orang Islam mendorong timbulnya revolusi sosial di mana kebebasan beragama benar-benar diakui. Ketidak toleranan dan penganiayaan yang biasa dilakukan orang-orang Kristen, digantikan oleh toleransi yang tinggi dan kebaikan hati yangluar biasa.
Keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu, sehingga jika tentara Islam yang melakukan kekerasan akan dikenakan hukuman berat. Tidak ada harta benda atau tanah milik rakyat yang disita. Orang-orang Islam memperkenalkan sistem perpajakan yang sangat jitu yang dengan cepat membawa kemakmuran di semenanjung itu dan menjadikan negeri teladan di Barat. Orang-orang Kristen dibiarkan memiliki hakim sendiri untuk memutuskan perkara-perkara mereka. Semua komunitas mendapat kesempatan yang sama dalam pelayanan umum.
Pemerintahan Islam yang baik dan bijaksana ini membawa efek luar biasa. Orang-orang Kristen termasuk pendeta-pendetanya yang pada mulanya meninggalkan rumah mereka dalam keadaan ketakutan, kembali pulang dan menjalani hidup yang bahagia dan makmur. Seorang penulis Kristen terkenal menulis: “Muslim-muslim Arab itu mengorganisir kerajaan Kordoba yang baik adalah sebuah keajaiban Abad Pertengahan, mereka mengenalkan obor pengetahuan dan peradaban, kecemerlangan dan keistimewaan kepada dunia Barat. Dan saat itu Eropa sedang dalam kondisi percekcokan dan kebodohan yang biadab.”
Tariq bermaksud menaklukkan seluruh Eropa, tapi Alloh menentukan lain. Saat merencanakan penyerbuan ke Eropa, datang panggilan dari Khalifah untuk pergi ke Damaskus. Dengan disiplin dan kepatuhan tinggi, Tariq memenuhi panggilan Khalifah dan berusaha tiba seawal mungkin di Damaskus. Tak lama kemudian, Tariq wafat di sana. Budak Barbar, penakluk Spanyol, wilayah Islam terbesar di Eropa yang selama delapan abad di bawah kekuasaan Islam telah memenuhi panggilan Rabbnya. Semoga Alloh merahmatinya. (her)
Kontribusi oleh ID: Noy (melalui Forum Media Muslim)
WANITA PEMERAH SUSU DAN ANAK GADISNYA
Pada
zaman pemerintahan Umar bin Khaththab hiduplah seorang janda miskin
bersama seorang anak gadisnya di sebuah gubuk tua di pinggiran kota
Mekah. Keduanya sangat rajin beribadah dan bekerja untuk memenuhi
kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Setiap pagi, selesai salat subuh,
keduanya memerah susu kambing di kandang. Penduduk kota Mekah banyak
yang menyukai susu kambing wanita itu karena mutunya yang baik.
Pada
suatu malam, Khalifah Umar ditemani pengawalnya berkeliling negeri
untuk melihat dari dekat keadaan hidup dan kesejahteraan rakyatnya.
Setelah beberapa saat berkeliling, sampailah khalifah di pinggiran kota
Mekah. Beliau tertarik melihat sebuah gubuk kecil dengan cahaya yang
masih tampak dari dalamnya yang menandakan bahwa penghuninya belum
tidur. Khalifah turun dari kudanya, lalu mendekati gubuk itu.
Samar-samar telinganya mendengar percakapan seorang wanita dengan
anaknya.
"Anakku,
malam ini kambing kita hanya mengeluarkan susu sedikit sekali. Ini
tidak cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan kita besok pagi," keluh
wanita itu kepada anaknya.
Dengan
tersenyum, anak gadisnya yang beranjak dewasa itu menghibur, "Ibu,
tidak usah disesali. Inilah rezeki yang diberikan Allah kepada kita hari
ini. Semoga besok kambing kita mengeluarkan susu yang lebih banyak
lagi."
"Tapi,
aku khawatir para pelanggan kita tidak mau membeli susu kepada kita
lagi. Bagaimana kalau susu itu kita campur air supaya kelihatan banyak?"
"Jangan,
Bu!" gadis itu melarang. "Bagaimanapun kita tidak boleh berbuat curang.
Lebih baik kita katakan dengan jujur pada pelanggan bahwa hasil susu
hari ini hanya sedikit. Mereka tentu akan memakluminya. Lagi pula kalau
ketahuan, kita akan dihukum oleh Khalifah Umar. Percayalah,
ketidakjujuran itu akan menyiksa hati."
Dari
luar gubuk itu, Khalifah Umar semakin penasaran ingin terus mendengar
kelanjutan percakapan antara janda dan anak gadisnya itu.
"Bagaimana
mungkin khalifah Umar tahu!" kata janda itu kepada anaknya. "Saat ini
beliau sedang tertidur pulas di istananya yang megah tanpa pernah
mengalami kesulitan seperti kita ini?"
Melihat
ibunya masih tetap bersikeras dengan alasannya, gadis remaja itu
tersenyum dengan lembut dan berkata, "Ibu, memang Khalifah tidak melihat
apa yang kita lakukan sekarang. Tapi Allah Maha Melihat setiap
gerak-gerik makhluknya. Meskipun kita miskin, jangan sampai kita
melakukan sesuatu yang dimurkai Allah."
Dari
luar gubuk, khalifah tersenyum mendengar ucapan gadis itu. Beliau
benar-benar kagum dengan kejujurannya. Ternyata kemiskinan dan himpitan
keadaan tidak membuatnya terpengaruh untuk berbuat curang. Setelah itu
khalifah mengajak pengawalnya pulang.
Keesokan
harinya, Umar memerintahkan beberapa orang untuk menjemput wanita
pemerah susu dan anak gadisnya untuk menghadap kepadanya. Beliau
ternyata bermaksud menikahkan putranya dengan gadis jujur itu.
Sungguh
sebuah teladan bagi kita semua, bahwa kejujuran karena takut kepada
Allah adalah suatu harta yang tak ternilai harganya. Mungkin ini yang
sulit kita dapatkan sekarang.
NASIHAT BAGI PENGUASA
Mengatakan
kebenaran kepada penguasa yang menyeleweng memang perlu keberanian yang
tinggi, sebab resikonya besar. Bisa-bisa akan kehilangan kebebasan,
mendekam dalam penjara, bahkan lebih jauh lagi dari itu, nyawa bisa
melayang. Karena itu, tidaklah mengherankan ketika pada suatu saat
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya oleh seorang sahabat
perihal perjuangan apa yang paling utama, maka Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam pun menjawab, "Mengatakan kebenaran kepada penguasa
yang menyeleweng."
Demikian
sabda Tasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana yang
dikisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i, Abu
Daud, dan Tirmidzi, berdasarkan penuturan Abu Sa'id al-Khudry
Radhiyallahu 'anhu, dan Abu Abdillah Thariq bin Syihab al-Bajily
al-Ahnasyi. Oleh sebab itu, sedikit sekali orang yang berani
melakukannya, yakni mengatakan kebenaran kepada penguasa yang
menyeleweng.
Di
antara yang sedikit itu (orang yang pemberani) terdapatlah nama Thawus
al-Yamani. Ia adalah seorang tabi'in, yakni generasi yang hidup setelah
para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bertemu dengan mereka
dan belajar dari mereka. Dikisahkan, suatu ketika Hisyam bin Abdul
Malik, seorang khalifah dari Bani Umayyah, melakukan perjalanan ke Mekah
guna melaksanakan ibadah haji. Di saat itu beliau meminta agar
dipertemukan dengan salah seorang sahabat Nabi Muhammad Shallallahu
'alaihi wa sallam yang hidup. Namun sayang, ternyata ketika itu tak
seorang pun sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang masih
hidup. Semua sudah wafat. Sebagai gantinya, beliau pun meminta agar
dipertemukan dengan seorang tabi'in.
Datanglah
Thawus al-Yamani menghadap sebagai wakil dari para tabi'in. Ketika
menghadap, Thawus al-Yamani menanggalkan alas kakinya persis ketika akan
menginjak permadani yang dibentangkan di hadapan khalifah. Kemudia ia
langsung saja nyelonong masuk ke dalam tanpa mengucapkan salam
perhormatan pada khalifah yang tengah duduk menanti kedatangannya.
Thawus al-Yamani hanya mengucapkan salam biasa saja, "Assalamu'alaikum,"
langsung duduk di samping khalifah seraya bertanya, "Bagaimanakah
keadaanmu, wahai Hisyam?"
Melihat
perilaku Thawus seperti itu, khalifah merasa tersinggung. Beliau murka
bukan main. Hampir saja beliau memerintahkan kepada para pengawalnya
untuk membunuh Thawus. Melihat gelagat yang demikian, buru-buru Thawus
berkata, "Ingat, Anda berada dalam wilayah haramullah dan haramurasulihi
(tanah suci Allah dan tanah suci Rasul-Nya). Karena itu, demi tempat
yang mulia ini, Anda tidak diperkenankan melakukan perbuatan buruk
seperti itu!"
"Lalu apa maksudmu melakukakan semua ini?" tanya khalifah.
"Apa yang aku lakukan?" Thawus balik bertanya.
Dengan
geram khalifah pun berkata, "Kamu tanggalkan alas kaki persis di depan
permadaniku. Kamu masuk tanpa mengucapkan salam penghormatan kepadaku
sebagai khalifah, dan juga tidak mencium tanganku. Lalu, kamu juga
memanggilku hanya dengan nama kecilku, tanpa gelar dan kun-yahku. Dan,
sudah begitu, kamu berani pula duduk di sampingku tanpa seizinku. Apakah
semua itu bukan penghinaan terhadapku?"
"Wahai
Hisyam!" jawab Thawus, "Kutanggalkan alas kakiku karena aku juga
menanggalkannya lima kali sehari ketika aku menghadap Tuhanku, Allah
'Azza wa Jalla. Dia tidak marah, apalagi murka kepadaku lantaran itu."
"Aku
tidak mencium tanganmu lantaran kudengar Amirul Mukminin Ali
Radhiyallahu 'anhu pernah berkata bahwa seorang tidak boleh mencium
tangan orang lain, kecuali tangan istrinya karena syahwat atau tangan
anak-anaknya karena kasih sayang."
"Aku
tidak mengucapkan salam penghormatan dan tidak menyebutmu dengan
kata-kata amiirul mukminin lantaran tidak semua rela dengan
kepemimpinanmu; karenanya aku enggan untuk berbohong."
"Aku
tidak memanggilmu dengan sebutan gelar kebesaran dan kun-yah lantaran
Allah memanggil para kekasih-Nya di dalam Alquran hanya dengan sebutan
nama semata, seperti ya Daud, ya Yahya, ya 'Isa; dan memanggil
musuh-musuh-Nya dengan sebutan kun-yah seperti Abu Lahab...."
"Aku
duduk persis di sampingmu lantaran kudengar Amiirul Mukminin Ali
Radhiyallahu 'anhu pernah berkata bila kamu ingin melihat calon penghuni
neraka, maka lihatlah orang yang duduk sementara orang di sekitarnya
tegak berdiri."
Mendengar
jawaban Thawus yang panjang lebar itu, dan juga kebenaran yang
terkandung di dalamnya, khalifah pun tafakkur karenanya. Lalu ia
berkata, "Benar sekali apa yang Anda katakan itu. Nah, sekarang berilah
aku nasehat sehubungan dengan kedudukan ini!" "Kudengar Amiirul Mukminin
Ali Radhiyallahu 'anhu berkata dalam sebuah nasehatnya," jawab Thawus,
"Sesungguhnya dalam api neraka itu ada ular-ular berbisa dan
kalajengking raksasa yang menyengat setiap pemimpin yang tidak adil
terhadap rakyatnya."
Mendengar
jawaban dan nasehat Thawus seperti itu, khalifah hanya terdiam, tak
mengeluarkan sepatah kata pun. Ia menyadari bahwa menjadi seorang
pemimpin harus bersikap arif dan bijaksana serta tidak boleh
meninggalkan nilai-nilai keadilan bagi seluruh rakyatnya. Setelah
berbincang-bincang beberapa lamanya perihal masalah-masalah yang penting
yang ditanyakan oleh khalifah, Thawus al-Yamani pun meminta diri.
Khalifah pun memperkenankannya dengan segala hormat dan lega dengan
nasehat-nasehatnya.
KISAH MENGHARUKAN KEMULIAAN NABI MUHAMMAD SAW
Dalam satu kesempatan usai
shalat berjamaah di masjid, Rasulullah yang baru sembuh dari sakit
berdiri di depan jamaahnya dan berkata, “Duhai sahabat, kalian tahu
umurku tak akan lagi panjang, Siapakah di antara kalian yang pernah
merasa teraniaya oleh si lemah in i(nabi)? bangkitlah sekarang untuk
mengambil qisas (pembalasan), jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang,
karena sekarang itu lebih baik”. Semua yang hadir terdiam, semua mata
menatap lekat Nabi yang terlihat lemah. Tak akan pernah ada dalam benak
mereka perilaku Nabi yang terlihat janggal. Apapun yang dilakukan
Nabi, selalu saja indah. Segala hal yang diperintahkannya, selalu
membuihkan bening saripati cinta. Tak akan rela sampai kapanpun, ada
yang menyentuhnya meski hanya secuil jari kaki. Apapun akan digadaikan
untuk membela Al-Musthafa (nabi)
Melihat semua terdiam, Nabi mengulangi lagi ucapannya, kali ini suaranya terdengar lebih keras. Masih saja para sahabat duduk tenang. Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi. Dialah ‘Ukasyah Ibnu Muhsin. “Ya Rasul Allah, dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu, duhai kekasih Allah, saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung samping ku” ucap ‘Ukasyah.
Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putrinya, Fatimah. Tampak keengganan menggelayuti Bilal, langkahnya terayun begitu berat, ingin sekali ia menolak perintah tersebut. Ia tidak ingin cambuk yang dibawanya itu melecut tubuh Nabi yang baru saja sembuh.
Abu Bakar dan Umar bin Khattab maju ke depan dan berkata kepada Ukasyah, “Deralah kami sesukamu, pilihlah bagian mana saja yang kau inginkan. Jangan sekali-kali kau pukul Rasul…” Namun Rasulullah meminta keduanya duduk kembali dan membiarkan Ukasyah melanjutkan. Begitu pun ketika Ali bin Abi Thalib berdiri dan mengajukan dirinya untuk dikisas menggantikan baginda Nabi.
Ketika Rasulullah membuka gamisnya, maka terlihatlah tubuh indah nan mulia milik lelaki pilihan itu. Saat itulah Ukasyah membuang cambuk di tangannya dan melompat memeluk tubuh mulia itu. “Siapakah yang sampai hati mengkisas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka”. Dengan tersenyum, Nabi berkata: “Ketahuilah duhai manusia, siapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini”. Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah…
Melihat semua terdiam, Nabi mengulangi lagi ucapannya, kali ini suaranya terdengar lebih keras. Masih saja para sahabat duduk tenang. Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi. Dialah ‘Ukasyah Ibnu Muhsin. “Ya Rasul Allah, dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu, duhai kekasih Allah, saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung samping ku” ucap ‘Ukasyah.
Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putrinya, Fatimah. Tampak keengganan menggelayuti Bilal, langkahnya terayun begitu berat, ingin sekali ia menolak perintah tersebut. Ia tidak ingin cambuk yang dibawanya itu melecut tubuh Nabi yang baru saja sembuh.
Abu Bakar dan Umar bin Khattab maju ke depan dan berkata kepada Ukasyah, “Deralah kami sesukamu, pilihlah bagian mana saja yang kau inginkan. Jangan sekali-kali kau pukul Rasul…” Namun Rasulullah meminta keduanya duduk kembali dan membiarkan Ukasyah melanjutkan. Begitu pun ketika Ali bin Abi Thalib berdiri dan mengajukan dirinya untuk dikisas menggantikan baginda Nabi.
Ketika Rasulullah membuka gamisnya, maka terlihatlah tubuh indah nan mulia milik lelaki pilihan itu. Saat itulah Ukasyah membuang cambuk di tangannya dan melompat memeluk tubuh mulia itu. “Siapakah yang sampai hati mengkisas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka”. Dengan tersenyum, Nabi berkata: “Ketahuilah duhai manusia, siapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini”. Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah…
Senin, 17 September 2012
Cerita : Tentang Kampung Naggewer Tasikmalaya
Cerita Tentang Kampung Naggewer Tasikmalaya
Berawal dari kejadian di Sumedang
Larang, lima orang bersaudara yang gagah
berani berhasil menumpas gerombolan kejahatan
yang seringkali meresahkan rakyat. Kelima orang itu tidak deketahui nama aslinya, namun memiliki
julukan dan panggilan masing masing. Sangkleng dikenal sangat kuat dan tidak
pernah basi basi dalam menyelesaikan perkara, Kidang memiliki kelebihan dalam
berlari seperti Kijang, Jidang seorang alim dan memiliki ilmu tinggi dalam ilmu
keagamaan, Gajig seorang pemimpin yang
selalu sukses menumpas kejahatan dan
Bonan seorang muda memilki ilmu kanuragan yang tinggi. Konon katanya ke lima
orang ini memiliki garis keturunan dengan Sumedang Larang.
Diceritakan penumpasan dipimpin oleh Gajig
sukses menangkap pemimpin penjahat, setelah melakukan pertarungan sengit sebelumnya, karena penjahat melakukan perlawanan yang
sengit, dalam pertarungan itu Bonan
mengalami luka berat akibat sabetan
penjahat.
Melihat pertarungan dan setelah penjahat melukai Bonan yang hampir saja penjahat
itu berhasil kabur, rakyat waktu itu yang sudah sangat benci dan dendam ikut mengepung
bahkan setelah penjahat itu tertangkap
rakyat mengahakimi sendiri. Kejadian itu mendapat perhatian dari pejabat
Sumedang, dan diputuskan bahwa
kelima orang itu bersalah harus
bertanggung jawab atas penghakiman oleh massa.
Kelima orang ini tidak terima
dengan keputusan penjabat Sumedang itu, dan “ngagelig” keluar dari lingkungan Sumedang dan bersama
sama menuju Gunung Cakra Buana, sayang akibat luka yang parah dalam perjalanan
BONAN meninggal, menurut cerita Bonan meninggal
di gunung yang sekarang dinamakan Gunung Bonan. Setelah itu, kelima orang itu
bersepakat untuk memencar di Kaki Gunung Cakra Buana.
Jidang menetap di salah satu kaki
Gunung Cakra Buana, sekarang di kenal dengan Kampung Guranteng, dan Gajig sempat sempat mangkal untuk bertapa didekat sungai, sekarang
Kampung Pangkalan, namun tidak lama karena selalu
ada yang menggangu “nyarenghor” entah binatang atau makhluk halus, sekarang kampung itu bernama Nyalenghor . Gajig pergi ke selatan dan
membangun gubug di kampung Lamping, tempat itu sekarang dikenal dengan nama
Kabuyutan. Gajig kemudian membuka kampung dan sawah. Tidak Lama
di tinggal di Lamping pindah ke sawah. Sekarang sawah itu di kenal
dengan nama kampung Nanggewer.
Menurut cerita, kata
”nanggewer” itu berasal dari kata “nangeran” yang berarti tempat tinggal pangeran. Mungkin
menganggap Gajig itu adalah pangeran dari Sumedang.
Makam Mbah Gajig dikuburkan di
dekat Patapaan dan berada di kebun keluarga Bapak Kartasenjaya.
KUWU pertama Naggewer adalah
ARSAMANGGALA (Haji Bahrum), karena
kehebatannya memimpin Desa Nanggewer, beliow mendapat bintang dari Bupati
Tasikmalaya waktu itu dan kenal dengan nama KUWU BINTANG, kemudian diganti oleh adik iparnya namanya
SUMADIMAJA (Haji Sidik).
Putra dan Buyut Mbah Gajig
1.
Arsamanggala
2.
Nayamanggala
3.
Cakramanggala
4.
Istrinya Sumadimaja
(Oleh Agus Hendradimaja, Disusun
berdasarkan cerita dari mulut ke mulut orang tua)
Langganan:
Postingan (Atom)