Selasa, 04 Agustus 2009

Perbankan : Bagaimana Membuat Proposal Kredit

PROPOSAL KREDIT
1. PENDAHULUAN
2. MAKSUD DAN TUJUAN
3. MANAGEMENT dan KEPEMILIKAN
a) Data Pemilik dan Pengurus
b) Background Pemilik dan Pengurus
c) Apakah ada orang yang terlibat dalam pengurus/teknis perusahaan
Kalo ada. Berupa orang? Pendidikan? Pengalaman?
d) Bagaimana teknis perusahaan dalam mengelola perusahaan sehingga melewati masa krisis
4. KONDISI USAHA
a) Sejarah Perusahaan
· Oleh didirikan oleh siapa?
· Siapa Pendirinya?
· Jumlah Karyawan
· Struktur Organisasi
· Motivasi Pendirian Perusahaan?
· Apakah berganti usaha?
b) Usaha Perusahaan
· Kegiatan utama perusahaan?
· Proses Pembelian Barang
Ø Proses Pembelian (daftar Supplier, Credit Term, Hubungan Dagang, informasi lainnya)
Ø Produksi/Industri (kalo Ada?)
* Alasan mengenai Industri (Makro, Mikro, Supplay and Demand, Prosepek & Persaingan Usaha, Kebijakan Pemerintah, Resiko dll)
* Proses Produksi (Siklus Produkasi, Perhitungan Harga Pokok Produksi, Mesin dan Kapasitas, berapa shift dalam mengerjakan Barang, AMDAL, infromasi mengenai proses produkasi)
Ø Proses Penjualan (Daftar Langganan, Selling Term, Omzet Penjualan, Hubungan dagang, persaingan, informasi lainnya mengenai penjualan)
c) Keuangan Perusahaan
· Neraca dan Laba Rugi
· Ratio-ratio perusahaan
· Cash flow rencana usaha
Note : Lap. Keuangan untuk Fasilitas kredit di atas Rp 4 M Audited
5. ANALISA KEBUTUHAN DAN PENGEMBALIAN KREDIT
A. Kebutuhan Kredit
· Permasalahan yang dihadapi ?
· Perhitungan Kebutuhan Kredit Modal Kerja dan Investasi
B. Pengembalian Kredit
· Sumber Pengembalaian Kredit
· Jangka Waktu Kredit termasuk tenggang waktu pengembalian pokok kredit dan bunga dihubungkan dengan pembangunan investasi dan produksi sesuai dengan Rencana Pengambilan kredit terlihat dari cash flow
6. AGUNAN
Agunan yang akan diserahkan
1. Tanah dan Bangunan è Copy Sertifikat, IMB, PBB (bukti pembayaran),
2. Kendaraan è Copy BPKB, Faktur, STNK
Note :
o Faslitas Kredit di atas Rp 2,5 dinilai oleh Penilai Independent
o Tanah Bangunan harus hak milik debitur/istri/Ayah/ibu
o BPKB harus a.n. debitur
7. HUBUNGAN DENGAN BANK
1) Calon debitur saat ini telah berhubungan dengan bank berapa lama (Fasilitas Kredit, Rek. Koran 6 bulan terakhir, Tabungan 6 bulan terkahir)
8. RESIKO
1) Uraian resiko dan antisipasi terhadap resiko yang akan timbul
2) Analisa SWOT
9. KESIMPULAN

Senin, 03 Agustus 2009

Agama : Cerpen GUS JAKFAR

GUS JAKFAR
Cerita Pendek : A Mustofa Bisri
Kompas - 6/23/2002

Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," ceritaKang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedangmembicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu, "Saya sendiri tidak pahamapa maksudnya."

"Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawaiPemda yang sering mengikuti pengajian Subuh Kiai Saleh, "Matanya itulho. Sekilas saja beliau melihat kening orang, kok langsung bisamelihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini anaknyapenjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu.Sebelum dilamar orang sabrang, kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu GusJakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yangngelamar ya?!'. Tak lama kemudian orang sabrang itu datangmelamarnya."

"Kang Kandar kan juga begitu," timpal Mas Guru Slamet, "kalian kanmendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IVitu, 'Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudahcapek menghirup nafas ya?!' Lho, ternyata besoknya Kang Kandarmeninggal."

"Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar," sahut UstadzKamil, "nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri KangKandar."

Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yangdari tadi sudah kepingin ikut bicara, "waktu itu, tak ada hujan takada angin, Gus Jakfar bilang kepada saya, 'Wah saku sampeyan kokmondol-mondol, dapat proyek besar ya?!' Padahal saat itu saku sayajustru sedang kempes. Dan percaya atau tidak, esok harinya, sayamemenangkan tender yang diselenggarakan pemda tingkat propinsi."

Apa yang begitu itu yang disebut ilmu kasyaf?" tanya Pak Carik yangsejak tadi hanya asyik mendengarkan

"Mungkin saja," jawab Ustadz Kamil, "makanya saya justru takutketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiransaya terganggu."
***
MAKA ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger;terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengajitapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin, yang selamaini merasa dekat dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilangberminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubahmenjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagimembaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yangberbau ramalan. Ringkas kata dia benar-benar kehilangankeistimewaannya.

"Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu,"komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan, "wah, sayang sekali! Apagerangan yang terjadi pada beliau?"

"Kemana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu," kata LikSalamun, "kalau saja kita tahu kemana beliau, mungkin kita akanmengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudianberubah."

"Tapi bagaimana pun, ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil, "palingtidak kini, kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasadeg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulusmencari ilmu. Maka jika kita ingin mengetahui apa yang terjadidengan gus kita ini, hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang,sebaiknya kita langsung saja menemui beliau."
Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jumat sehabiswiridan salat Isya, dimana Gus Jakfar prei, tidak mengajar,rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampirsemua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauhmelebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekatberupa keseganan, was-was, dan rasa takut.

Setelah ngobrol kesana-kemari akhirnya Ustadz Kamil berterus terangmengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan, "Gus, di sampingsilaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikitkeperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahulatar belakang perubahan sikap sampeyan."
"Perubahan apa?" tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuharti, "Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasatidak berubah."
"Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang," tukasMas Guru Slamet, "kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak maulagi membaca bahkan diminta pun tak mau."
"O, itu," kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi diatidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama, baru setelahmenyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan: "Ceritanya panjang."Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja.
"Kalian ingat, ketika saya lama menghilang?" akhirnya Gus Jakfarbertanya, membuat kami yakin dia benar-benar siap untuk bercerita,maka serempak kami mengangguk. "Suatu malam saya bermimpi ketemuayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal disebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar200 km ke arah selatan. Nama Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpiitu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianyasudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliaupun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing."
"Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginansaya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada wali Tawakkalitu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya punpergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niatbilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata ketika sampai disana,hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama KiaiTawakkal. Baru setelah seharian melacak kesana-kemari, ada seorangtua yang memberi petunjuk. 'Cobalah nakmas ikuti jalan setapakdisana itu,' katanya, 'Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuahsungai kecil, terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang,nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah kemungkinanbesar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubukyang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua sepertiyang nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkaliitulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?' 'Kiai Tawakkal.' 'Ya,kiai Tawakal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.' Saya punmengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukansekelompok rumah gubuk dari bambu. Dan betul, di gubuk bambu yangterletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias MbahJogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua.Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudahmerupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilanKiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sebagai orang tua.Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indahmemancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semuakalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah."
Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudianmelanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut danterganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang, ada tanda yangjelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yangcukup besar berbunyi 'Ahli neraka'. Astaghfirullah! Belum pernahselama ini saya melihat tanda yang begitu gamblang. Saya ingin tidakmempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorangyang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yanglain, disurat sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya mencoba meyakin-yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tandaitu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihattanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila."

Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipunsecara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudahberubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkankeganjilan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal,saya tidak melihat sama sekali hal-hal yang mencurigakan. Kegiatanrutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiaiyang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnatseperti dhuha, tahajjud, witir, dan sebagainya, mengajar kitab-kitab(umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu;dan semisalnya. Kalau pun beliau keluar biasanya untuk memenuhiundangan hajatan atau-dan ini sangat jarang sekali- mengisipengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malamtertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakankegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacamlelana brata kata mereka."
"Baru setelah beberapa minggu tinggal di 'pesantren bambu', sayamendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti KiaiTawakkal keluar. Saya pikir inilah kesempatan untuk mendapatkanjawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya."
"Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat kiai keluardengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidakmungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya.Dengan hati-hati, saya pun membuntutinya dari belakang; tidakterlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapakhingga ke jalan desa, kiai terus berjalan dengan langkah yang tetaptegap. Akan kemana beliau gerangan? Apa ini yang disebut semacamlelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hatimengikutinya, khawatir tiba-tiba kiai menoleh ke belakang."
"Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketikakemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya takkelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang penuhpengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan bengong, sayamendekati warung terpencil dengan penerangn petromak itu. Dua orangwanita-yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua-dengan dandanan yang menor, sibuk melayani pelanggan sambil menebartawa genit kesana-kemari. Tidak mungkin kiai mampir ke warung ini,pikir saya; ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yangsuasananya saja mengesankan kemesuman ini. 'Mas Jakfar!' tiba-tibasaya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya,memanggil-manggil nama saya. Masya Allah, saya hampir-hampir tidakmempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, matasaya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah.Dengan kikuk dan pikiran tak karuwan, saya pun terpaksa masuk danmenghampiri kiai saya yang duduk santai di pojok. Warung penuhdengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyumpenuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh orang di sampingnya untukbergeser, 'Kasi kawan saya ini tempat sedikit!'. Lalu, kepada orang-orang yang ada di warung, kiai memperkenalkan saya. Katanya: 'Inikawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Caripengalaman katanya.' Mereka yang duduknya dekat, serta mertamengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementarayang jauh, melambaikan tangan."
"Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalammimpi, ketika tiba-tiba saya dengar kiai menawari, 'Minum kopi ya?'Saya mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu lagi, yu!' kata kiaikemudian kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekatsaya. 'Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggaanwarung ini!' Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asalmengangguk."
"Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan 'kawan-kawan'nya danmembiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir,bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dandihormati para kiai lain, bisa berada di sini. Akrab dengan orang-orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yangdisebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yangsengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya seperti mendapatjawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dankarenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas dikeningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap pandangan saya terhadapbeliau berubah. 'Mas, sudah larut malam," tiba-tiba suara KiaiTawakkal membuyarkan lamunan saya, 'kita pulang, yuk!' Dan tanpamenunggu jawaban saya, kiai membayari minuman dan makanan kami,berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar. Seperti kerbaudicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewatikebun sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadikami lalui, 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!'katanya."
"Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampaidi sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yangmenggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai,seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliaumenoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliaumelambai, 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya punkemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar. Sampai diseberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohonrandu alas, menunggu. 'Kita istirahat sebentar,' katanya tanpamenengok saya yang sibuk berpakaian, 'kita masih punya waktu, insyaAllah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.' Setelah saya ikutduduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, kiai berkatamengejutkan, 'Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kau cari?Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kau baca dikening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yangmahir melihat tanda-tanda, menjadi ragu terhadap kemahiranmusendiri?' Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengarrentetan pertanyaan-pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. Sayatidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terusberbicara. 'Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karenakau melihat tanda 'Ahli neraka' di kening saya. Kau pun tidak perlubersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memangpantas masuk neraka. Karena pertama, apa yang kau lihat belum tentumerupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kantahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Makaterserah kehendak-Nya, apakah Ia mau memasukkan diriku ke sorga atauke neraka. Untuk memasukkan hambaNya ke sorga atau neraka,sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kauberani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kauberani mengatakan bahwa orang-orang di warung tadi yang kau pandangsebelah mata itu, pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kitaingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat denganNya,tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa?Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?' Akuhanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambilmenepuk-nepuk punggung saya, 'Kau harus lebih berhati-hati bilamendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerahtidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan.Seperti mereka yang di warung tadi, kebanyakan mereka orang susah.Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur, ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda denganmereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan, godaan untuk takabburdan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dankelebihan itu diakui oleh banyak pihak.' Malam itu saya benar-benarmerasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selamaini sudah saya ketahui. 'Ayo, kita pulang!' tiba-tiba kiaibangkit, 'Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kauboleh pulang.' Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudahmendapat banyak dari kiai luar biasa ini."
"Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah taktampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuhberkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Sepertiorang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemudan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan KiaiTawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada. Tak seorang pun darimereka yang berada di surau itu yang saya kenal. Baru setelahsembahyang, seseorang menghampiri saya, 'Apakah sampeyan Jakfar?'tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuahbungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik sayasendiri. 'Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.' 'Beliaudimana?' tanya saya buru-buru. 'Mana saya tahu?' jawabnya, 'MbahJogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu darimana beliau datang dan kemana beliau pergi.' Begitulah ceritanya.Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil merubah sikapsaya itu tetap merupakan misteri."
Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadimendengarkan, masih diam tercenung, sampai Gus Jakfar kembalimenawarkan suguhannya. ***
Rembang, Mei 2002

dari : http://irdy74.multiply.com/recipes/item/3

Agama : Do'a Rabiah Al Adawiah

Tuhanku..
kalau aku mengabdi kepada-Mu karena takut akan api neraka,.... masukanlah aku ke dalam neraka itu ... dan besarkanlah tubuhku dalam neraka itu, hingga tidak ada tempat lagi di neraka itu buat hamba-hamba-Mu yang lain.Dan jika aku menyembah-Mu karena berharap mendapatkan syurga, berikan syurga itu kepada hamba-hamba-Mu yang lain, sebab bagiku Engkau saja sudah cukup.Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu, maka berilah aku kesempatan untuk melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.
http://www.yaskum.info/home/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=57

Agama : Rasulullah S.A.W Dan Pengemis Buta

Rasulullah S.A.W Dan Pengemis Buta

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta, hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya setiap hari hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayahanda engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayahanda lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah Itu?", tanya Abu Bakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha. Ke esokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?". Abu Bakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada lagi. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a.

dari :http://members.tripod.com/isma_il/pengemis.htm

Marketing : SERVICE QUALITY 50 IDEAS

SERVICE QUALITY 50 IDEAS
"…………the skills for creating customer satisfaction are the master keys to all career success" (Paul R Timm, Ph.D)
QUALITY
Only happens when care enough to do your best
It takes month to find a customer…………second to lose one
I. POWERFUL IDEAS ANYONE CAN USE
TO GET OFF TO A GOOD START
1. Greet them like a guest
2. Talk to customer with your eyes
3. Smile
4. Break the ice
5. Get the customer doing something
6. Watch your personal appearance grooming
7. Check the appearance of your work area cek keadaaan disekitar area
8. Use good telephone techniques
9. Say please and thank
10. Enjoy people and their diversity
11. Call people by name sapa nama nasabah
TO BUILD ON A GOOD START
12. Listen with more than ears
13. Anticipate customer needs
14. Reach out and touch them
15. Compliment freely and sincerely
TO SOLIDIFY A REPEAT CUSTOMER
16. Fish for negative feedback
17. Watch your timing
18. Explain how things works
19. Reassure the decision to do business with you
20. Under promise over deliver
TO SAVE A POSSIBLE LOSS
21. Master recovery skill
22. Disarm the chronic complainer
23. Tell how you fixed it
24. Reconcile with Service Plus
II. POWERFUL IDEAS MANAGER CAN USE
TO CREATE A CLIMATE OF CARING
25. Get everyone involved in setting a theme
26. Reward the right actions
27. Train and build employee competence
28. Explain the taboos in no uncertain terms
29. Handle the chronic complainer
30. Give your people a break
31. Provide the right stuff
32. Know where to recruit
TO GROW SERVICE CHAMPIONS
MENUMBUHKAN KEMENANGAN DALAM PELAYANAN
33. Nurture a culture of caring
34. Enrich their jibs
35. Tke the long view
36. recognize and reinforce
37. Track service behaviors over time
38. Use hoopla and fun
39. Create explorer groups
TO TIE THE CUSTOMER TO COMAPANY
40. Create User Group
41. Use Focus Group
42. Correspond regularly
43. Ask often : How am I doing
44. Make ‘em feel special











III. POWERFUL IDEAS SALESPOEPLE
CAN USE
TO BUILD CUSTOMER SATISFACTION AND LOYALITY
45. Explain features and Benefit
46. Go For the add on sale
47. Stay close after the sale
48. Ask for referrals
49. Maintain a positive attitude about selling
IV. THE 50 POWERFUL IDEAS SUMMARIZED
50. Do Unto Others

Sabtu, 01 Agustus 2009

Pemasaran Bank : Kinerja Customer Service,Memberi solusi Bagi Nasabah

Kinerja Customer Service,Memberi solusi Bagi Nasabah
Tanggal:
27 Apr 2006
Sumber:
Info Bank
InfoBankNews.com, Customer service harus mampu memberikan solusi kepada nasabah. Beberapa bank melakukan pelatihan secara berkala bagi customer service-nya. Apa yang dijadikan tolok ukur customer service yang baik? Enny Ratnawati A.

CUSTOMER service ibarat wajah ter­depan sebuah bank. Alias orang pertama yang berhubungan dengan nasabah. Sehingga, baik buruk pe­la­yanannya akan memengaruhi per­sepsi nasabah terhadap bank. Cus­tomer service juga mencerminkan bagai­mana sebenarnya bentuk layanan bank ter­sebut kepada nasabahnya.
Customer service yang baik tidak cukup hanya bermodal wajah manis dan penampilan necis. Nasabah akan menilai customer service dari berbagai aspek yang dilihat maupun di­rasakan ketika ber­inter­aksi de­ngan­nya. Salah satu aspek penting yang dinilai nasabah ada­lah bagaimana seorang customer service me­na­ngani berbagai ma­salah nasabah dan kemampuannya dalam mem­berikan solusi.
Cara customer service me­layani nasabah juga meng­indikasikan ba­gaimana sesung­guh­nya sikap bank tersebut dalam memberikan layanan kepada nasabahnya. Tidak sa­lah, bila dalam survei Marketing Re­search Indonesia (MRI), peran front liner, termasuk customer service, di­anggap sebagai salah satu unsur ter­penting dalam service excellence.
Tidak hanya itu. Customer service bisa dibilang sebagai sarana marketing bagi bank. Mereka akan menjelaskan beragam produk bank dengan detail sehingga nasabah memper­oleh keterangan lengkap tentang pro­duk-pro­duk tersebut. Nasabah yang sedang ber­­tran­saksi mungkin saja mendapatkan pena­waran lain. Tidak heran, customer service ha­rus me­miliki product knowledge yang baik.
Survei yang dilakukan MRI di tiga kota besar, yaitu Jakarta, Medan, dan Semarang, menempatkan PermataBank di posisi pertama dalam hal customer service. Bank ini menjadi jawara dengan nilai total 82,94 %, meng­ungguli Bank Danamon yang berada di posisi kedua dengan perolehan nilai 78,12% dan Bank Mandiri 78,02%.
Menurut Mahdi Syahbuddin, Managing Director PermataBank, konsep pelayanan di PermataBank sebenarnya sederhana. Mereka berusaha mencari tahu cara untuk memuaskan nasabah dan mendengarkan keluhan nasabah. Bila hal ini sudah diketahui, faktor-faktor yang harus diperbaiki akan segera dieva­luasi.
Secara umum, PermataBank menerapkan tiga konsep dasar dalam mendidik tenaga front liner-nya, yaitu training, coaching, dan mys­tery shopper. Training wajib dilakukan, terutama untuk menyamakan persepsi dan menyeragamkan tindakan di lapangan. Di PermataBank sendiri, training diselengga­ra­kan selama 30 hari.
Coaching yang dilakukan branch manager secara kontinu juga sangat penting. Karyawan yang telah mengikuti training membutuhkan pemimpin cabang yang bisa dijadikan teladan. �Di PermataBank, hierarki bukan segala-gala­nya. Semua orang harus memberikan yang terbaik di bidangnya. Dan, kami minta mereka mengeluarkan semua potensinya,� tambah Mahdi.
Selain itu, PermataBank rutin melakukan mystery shopper. Langkah ini bukan ditujukan untuk memata-matai kinerja karyawan. Me­lainkan, untuk melihat aspek apa saja yang harus diperbaiki dalam diri karyawan. �Ke­pala cabang harus membantu karyawan agar memiliki kebiasaan yang baik. Begitu pula bila kami undang pihak ketiga. Tujuannya bukan memata-matai, tapi kami percaya da­lam waktu lama akan terbentuk sebuah ke­biasaan,� ujarnya.
Uniknya, PermataBank tidak �meng­hu­kum� front liner yang kurang berprestasi. Mereka malah melakukan beberapa langkah perbaikan, sehingga perubahan yang diha­rapkan benar-benar tercapai. Sebaliknya, un­tuk front liner berprestasi, PermataBank tidak segan-segan memberikan peng­hargaan.
Saat ini, PermataBank me­miliki 661 orang tenaga customer service di seluruh Indonesia. Masih kata Mahdi, kun­ci keberhasilan customer service PermataBank adalah bagaimana mereka memberikan la­yanan terbaik kepada nasabah lebih dari yang diharapkan perusa­haan.
Bank Danamon tidak jauh ber­be­da dengan PermataBank. Bank yang berhasil memer­tahankan prestasinya di customer service ini juga melaku­kan beberapa langkah training setelah merektur customer service. Menurut Ali Yong, Trans­action and Services Head Bank Danamon, bank ini melakukan training sendiri maupun training yang melibatkan pihak eksternal. Untuk memperkuat service, ber­bagai materi training pun disiapkan. Salah satunya adalah materi service excellence.
Walau belum banyak, Bank Danamon mulai mengimplementasikan alat yang dina­makan Qmatic di beberapa cabangnya. Dengan alat itu, kinerja customer service bisa dipantau. Sementara, di beberapa cabang yang tidak dipasangi Qmatic, Bank Danamon menerapkan pengukuran service level ber­dasarkan survei. �Kami membawa orang untuk melakukan transaksi, lalu kami hitung menggunakan time limit,� ungkapnya.
Bank memang mempunyai standar dan melakukan pelatihan bagi customer service-nya. Tapi, pada akhirnya, kemampuan me­la­yani nasabah bergantung pada pribadi masing-masing karyawan. Karena itu, ujar Mahdi, sangat penting membangkitkan ke­banggaan terhadap pekerjaan. Tentunya agar karyawan bekerja dengan senang dan nasabah pun terlayani dengan baik.

Pemasaran Bank : MENGUKUR LOYALITAS NASABAH CUSTOMER PUAS BELUM TENTU LOYAL

MENGUKUR LOYALITAS NASABAH CUSTOMER PUAS BELUM TENTU LOYAL
Tanggal:
07 Feb 2007
Sumber:
InfoBankNews.com
InfoBankNews.com, Nasabah loyal atau tidak hanya ditentukan dari berapa lama dia menjadi nasabah bank tersebut. Kreativitas bank bisa membuat nasabah menjadi sangat loyal. Apa saja karakteristik nasabah yang loyal? Enny Ratnawati A.
BAGI bank, loyalitas nasabah merupakan sesuatu yang amat penting. Karena pentingnya, bank akan melakukan berbagai cara agar nasabah tetap loyal dan tidak gampang berpindah ke bank lain. Tapi, membuat nasabah loyal ternyata bukan pekerjaan yang mudah. Hasil “Indonesian Bank Loyalty Index (IBLI 2007)”, kerja sama Markplus dan InfoBank, menunjukkan bahwa nasabah yang puas ternyata belum tentu loyal. Lalu, apa yang harus dilakukan bank untuk membuat nasabah puas dan juga loyal? Bagaimana mengetahui bahwa nasabah itu loyal? Inilah penuturan Hermawan Kartajaya, President MarkPlus&Co, kepada InfoBank seputar loyalitas nasabah. Petikannya: Bisa Anda jelaskan metodologi dalam mengukur loyalitas nasabah? Loyality itu bukan satisfaction saja. Tapi, ada tahap-tahapnya. Kalau diurut dari pertama, satu, orang itu masih suspect. Suspect itu belum jadi pelanggan. Kemudian, menjadi prospect. Dari prospect, akhirnya menjadi first time buyer. Tapi, itu juga belum customer. Kemudian, dia akan menjadi repeat customer. Repeat customer menjadi loyal client. Yang terakhir spritual advocate. Orang yang telah sampai tahap ini, dia akan membela secara spiritual. Dari suspect sampai ke spiritual advocate, kalau ada seratus, paling akan sedikit sekali yang akan membela kita secara spiritual. Kalau dalam suspect, kita punya database (list). Kalau dulu ‘kan diukur metode customer satisfaction. Jadi, asal orang satisfaction, maka dia akan loyal. Sekarang, nggak. Tapi, diukur berdasarkan model-model itu. Satisfaction itu cuma satu. Metode sekarang, walaupun dia tidak jadi customer kita, dia tetap akan dianggap loyal bila dia memang membela kita. Dia mungkin sudah tidak jadi customer kita bukan karena apa, tapi karena memang dia harus atau tidak berada di wilayah kita lagi. Atau, dia sudah naik pangkat dan berbeda social life, sehingga tidak perlu Kijang lagi tapi lebih butuh Corolla. Tapi, dia akan menganjurkan orang lain pertama kali akan memilih Kijang. Kadang-kadang, dia tidak lagi ke Starbuck, tapi akan ngomong dulu sering ke Starbuck. Definisi loyality sudah berubah, bukan hanya satisfaction. Sekarang, sudah berubah. Satisfaction itu hanya salah satunya. Itu filosofinya. Filosofi lain, belum tentu orang yang repeat itu adalah customer loyal. ‘Kan banyak orang yang menjadi nasabah tertentu karena diharuskan oleh perusahaannya. Apakah Anda loyal? Belum tentu. Tapi, kadang harus pindah ke bank tersebut walaupun senang bank lain. Tapi, kalau Anda menganjurkan orang mungkin akan menganjurkan bank lain tersebut. Jadi, metodologi kita beda dan kita memasukkan unsur-unsur lain. Berdasarkan modal yang enam step tadi, sering kali yang kita ambil bukan target market. Kalau dari pertamanya, kita memrosfek banyak orang, terjadilah transaksional. Tapi, ini nasabah yang sangat lemah dan akan sulit mempertahankan loyalitas karena dia bukan target market-nya. Produk yang di dalam bukan dibuat untuk dia.