Sabtu, 01 Agustus 2009
Pemasara Bank : PERFORMA SATPAM MENGUSIR KETIDAKAMANAN DI RUANG PELAYANAN PRIMA
Tanggal:
04 May 2007
Sumber:
InfoBankNews.com
InfoBankNews.com, Rasa aman menjadi elemen terpenting bagi terciptanya pelayanan prima. Bank-bank pun berpacu meningkatkan performa keamanan dengan menghadirkan petugas satuan pengamanan (satpam). Bank mana yang paling memberikan rasa aman? Karnoto Mohamad
RASA aman menjadi sesuatu yang sangat mahal di Indonesia. Simak saja tiga bulan pertama 2007. Begitu banyak nyawa manusia melayang sia-sia karena keamanan yang terkoyak, baik karena bencana alam, kecelakaan transportasi, maupun aksi kejahatan manusia. Rasa tidak aman pun menyergap di mana-mana. Di rumah, orang dihantui gempa bumi atau angin puting beliung. Di pusat perbelanjaan, orang waswas dikejar teror bom. Di pesawat, orang dicekam rasa takut. Takut tragedi yang menimpa pesawat Garuda dan Adam Air menimpa dirinya. Bahkan, ketika pergi ke bank untuk menarik atau menyetor uang, orang pun resah, jangan-jangan dikuntit perampok bersenjata. Menyikapi rasa tidak aman yang menghantui masyarakat, terutama para nasabahnya, bank-bank tak tinggal diam. Ruang yang dingin dan nyaman lengkap dengan petugas-petugas garis depan (front liners) yang menawan hati tidak cukup mengusir rasa tidak aman para nasabah. Maka, tenaga satuan pengamanan (satpam) dihadirkan dan diharapkan mampu membebaskan nasabah dari musibah yang diakibatkan aksi kejahatan. Bank Danamon adalah bank yang cukup konsisten meningkatkan mutu pelayanan di lini tersebut. Hasilnya, performa petugas satpamnya tampil paling baik di antara bank-bank lain sebagaimana survei yang dilakukan Marketing Research Indonesia (MRI) dan InfoBank kali ini. “Secara internal, kami pun sudah melakukan survei untuk mengukur tingkat keberhasilan pelayanan front liners. Bukan hanya customer service dan teller, melainkan juga satpam,” ujar Ali Young, Transaction and Service Head Bank Danamon, kepada Kristopo dari InfoBank, bulan lalu. Upaya meningkatkan performa satpam juga dilakukan Bank Bukopin. Bank yang mencatat skor tertinggi dalam hal kenyamanan ruangan ini berusaha melengkapi kualitas pelayanan primanya dengan penampilan satpamnya. Menurut Glen Glenardi, Direktur Utama Bank Bukopin, terciptanya petugas front liners yang mampu menyajikan pelayanan prima itu dimulai dari perekrutan, pelatihan, hingga komitmen petugas garis depan untuk memberikan yang terbaik. “Dalam praktiknya, penerapan service excellence tidak selalu berjalan mulus. Semuanya memerlukan proses dan effort yang terus-menerus,” ujar Glen kepada InfoBank secara tertulis, bulan lalu. Kejahatan tak pandang bulu. Para perampok pun tak hanya memilih nasabah bank yang berkantor di Jakarta, tapi juga di daerah-daerah. Menyadari hal itu, upaya memberikan rasa aman kepada nasabahnya pun dilakukan bank pembangunan daerah (BPD). Berdasarkan hasil survei, MRI menempatkan Bank Sumut (Sumatra Utara) sebagai bank daerah yang performa satpamnya paling baik disusul BPD Sumsel (Sumatra Selatan) dan Bank DKI (Daerah Khusus Ibu Kota). ”Kami selalu mengevaluasi standar pelayanan yang diberikan kepada seluruh karyawan, dari pejabat, teller, satpam sampai dengan driver dan cleaning service,” ujar Gus Irawan Pasaribu, Direktur Utama Bank Sumut, kepada InfoBank secara tertulis, bulan lalu. Upaya meningkatkan performa satpam oleh bank-bank patut dihargai. Maklum, aksi kejahatan yang dilakukan perampok kerap menimpa nasabah-nasabah bank. Selain untuk meredam aksi perampokan, performa satpam sebagai petugas garda depan turut menentukan terciptanya pelayanan prima. Bukan tak mungkin, nasabah menjadi setia dengan bank karena satpamnya yang andal dan ramah. Jadi, peran satpam tak bisa dianggap sepele. Bayangkan, jika ada aksi perampokan di bank sementara performa satpamnya melempem, semua kenyamanan di ruang pelayanan pasti akan terkubur. Akhirnya, rasa aman nasabah akan terusik dan trauma menyambangi bank.
Pemasaran Bank : PERFORMA KENYAMANAN RUANG KUALITAS DELAPAN BANK MENURUN
Tanggal:
04 May 2007
Sumber:
InfoBankNews.com
InfoBankNews.com, Ruang yang nyaman dapat membuat nasabah betah bertransaksi. Ujungnya, citra bank dapat ikut terkerek. Bank mana saja yang unggul dalam hal kenyamanan ruang? Enny Ratnawati A
RUANG yang nyaman bukan hanya didambakan seseorang di tempat tinggalnya. Nasabah yang bertransaksi di bank juga membutuhkannya. Tidak heran jika beberapa tahun terakhir perbankan nasional berlomba menciptakan ruang yang nyaman. Bukan hanya untuk nasabahnya, melainkan juga untuk pekerjanya. Ruang yang nyaman memang memberikan aura dan semangat tersendiri. Sebut saja layout ruang. Selain demi keindahan, layout ruang yang nyaman akan membuat nasabah betah bertransaksi. Ujungnya, kenyamanan ruang dapat menguatkan citra atawa image bank bersangkutan. Kesadaran bank-bank akan pentingnya kenyamanan ruang masih sangat tinggi. Tidak heran jika survei yang digelar Marketing Research Indonesia (MRI) dengan tajuk “Bank Service Excellence Monitor 2006” ini menunjukkan, hampir sepuluh bank yang disurvei meraup nilai nyaris sempurna. Nilai tertinggi direbut Bank Bukopin dan Citibank dengan nilai 100%. Sedangkan, nilai terendah dalam kelompok tersebut diraih Bank Danamon dengan nilai hampir sempurna, yaitu 98,72%. Hampir meratanya nilai yang diperoleh bank-bank itu paling tidak memberi indikator keseriusan mereka dalam menata kenyamanan ruang. Bank-bank terlihat tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk menata gedung dan layout ruang demi menyamankan nasabah ketika bertransaksi. Beberapa bank juga terlihat berani mengubah konsep ruang. Perubahan tersebut mengacu pada keinginan dan hasil survei terhadap nasabah. Sebuah bank swasta, misalnya, mengubah konsep ruangnya menjadi lebih minimalis dan mungil, tapi terlihat lebih indah. Selain mengikuti keinginan nasabah, konsep minimalis dipilih untuk menyesuaikan dengan tren desain ruang saat ini. Dari survei MRI, baik bank lokal maupun bank asing terlihat punya komitmen yang sama dalam memandang kenyamanan ruang. Intinya, mereka ingin nasabah merasa nyaman bertransaksi. Syukur-syukur bila kenyamanan ruang memberikan pengalaman tersendiri bagi nasabah sehingga nasabah akan kembali berkunjung. Bank Bukopin berhasil meningkatkan nilainya dari 98,80% menjadi 100%. Sedangkan, Citibank mampu mempertahankan nilai sempurna yang diperolehnya pada survei sebelumnya, yakni 100%. Menurut Glen Glenardi, Direktur Utama Bank Bukopin, apa yang dilihat dan dirasakan nasabah merupakan hal penting yang harus diperhatikan pihak bank. “Kami ingin nasabah diyakinkan bahwa Bank Bukopin memperhatikan semua yang menjadi concern nasabah,” ujarnya secara tertulis kepada InfoBank. Glen mengaku, Bank Bukopin juga mengembangkan standar pelayanan sendiri yang berbeda dengan bank lain. Meski hampir semua bank di kelompok sepuluh besar punya nilai nyaris sempurna, toh, di luar Bank Bukopin dan Citibank, nilai delapan bank menurun. Bahkan, sejumlah bank yang merebut nilai sempurna pada survei sebelumnya tidak mampu mempertahankan prestasinya pada survei kali ini. Misalnya, Standard Chartered Bank, The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC), Bank Niaga, Bank Mandiri, dan Bank Danamon. Apa kenyataan tersebut mengindikasikan bahwa kualitas kenyamanan ruang tidak lagi menjadi prioritas bank-bank itu? Bisa jadi, jawabannya demikian. Bagaimana nasib bank pembangunan daerah (BPD)? Secara umum, dari sebelas BPD yang dinilai, belum ada standar kenyamanan ruang yang merata. Bank Sumut (Sumatra Utara) dan Bank Nagari menuai nilai sempurna. Tapi, ada juga yang meraih nilai yang rendah, seperti Bank Papua yang hanya memetik nlai 58,65%. Meski begitu, ke depan, masih ada harapan BPD-BPD tersebut mampu menyamai kualitas kenyamanan ruang bank-bank umum yang lain. Apalagi, nilai rata-rata mereka sudah di atas 70%. BPD dan bank umum non-BPD yang memang ingin menyamankan nasabah dan tidak ingin ditinggalkan nasabahnya seharusnya menyadari benar pentingnya aspek kenyamanan ruang. Apalagi, kenyamanan ruang merupakan bagian dari investasi masa depan untuk mempertahankan nasabah yang ada dan menambah nasabah baru yang loyal.
Pemasaran Bank : PERFORMA CUSTOMER SERVICE PEMBENAHAN SERIUS DAN PENINGKATAN PERFORMA
Tanggal:
04 May 2007
Sumber:
InfoBankNews.com
InfoBankNews.com, Customer service yang baik mampu membantu nasabah lebih dari yang diinginkan nasabah. Selain penampilan yang menarik, customer service juga harus cukup ilmu dan cekatan dalam bekerja. Bank mana yang unggul dalam customer service? Enny Ratnawati A
MUNGKIN, banyak orang membayangkan bahwa menjalankan pekerjaan sebagai customer service bank merupakan hal mudah. Tidak heran jika lowongan customer service bank—yang sering dipasang di koran-koran—kerap kebanjiran peminat. Apalagi bagi mereka yang merasa dirinya cantik dan berpenampilan menarik. Mungkin, ada sebagian orang menganggap, customer service identik dengan penampilan fisik. Padahal, tidak demikian kenyataannya. Memang, seorang customer service yang baik perlu berpenampilan menarik dan rapi. Sebab, mereka bertemu atau menghadapi banyak orang, yang tak lain nasabah. Customer service adalah garda terdepan bank yang akan berkomunikasi dengan nasabah. Namun, penampilan menarik plus rapi saja tidak cukup. Nasabah perlu lebih dari itu. Seorang customer service yang baik dituntut tahu seluk-beluk perbankan, terutama berhubungan dengan pengetahuan produk. Seorang customer service juga diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan dan keluhan nasabah. Selain itu, dia harus mampu bekerja cepat sekaligus cekatan. Apalagi dalam kondisi nasabah mengantre layanannya. Yang juga tak kalah penting, seorang customer service harus memiliki sikap dan perilaku yang ramah dan sopan. Bila customer service kurang ramah, citra (image) bank di mata nasabah akan turun. Nasabah bisa jadi menilai buruk pelayanan sebuah bank secara keseluruhan. Terkait dengan masalah customer service, Marketing Research Indonesia (MRI) dan InfoBank setiap tahun juga menggelar survei untuk menilai kinerja customer service di perbankan Indonesia. Kali ini, survei dilakukan di tiga kota, yaitu Jakarta, Bandung, dan Solo. Observasi lapangan melalui mystery shopper melibatkan 19 bank, yang terdiri atas bank pemerintah, bank swasta, dan bank asing. “Bank Service Excellence Monitor 2006”, tajuk survei tersebut, juga melibatkan bank pembangunan daerah (BPD). BPD dilibatkan agar terpacu meningkatkan pelayanan (service)-nya, sehingga mampu bersaing dengan bank-bank umum yang lain. Sebagai bagian dari front liner sebuah bank, customer service tiap tahun juga mendapat penilaian dari MRI. Menurut MRI, dari tahun ke tahun terjadi peningkatan kualitas pelayanan di bank. Tidak hanya di bank swasta ataupun di bank asing. Di bank pemerintah—yang awalnya tertinggal dalam hal pelayanan di front liner—pun dalam beberapa tahun belakangan telah terjadi perubahan ke arah yang lebih baik dalam hal pelayanan nasabah. Bahkan, mereka diprediksi mampu menyalip kinerja pelayanan di bank-bank swasta dan bank asing. Kali ini, jawara dalam hal customer service disabet Bank Danamon dengan nilai 81,83%. Sebelumnya, Bank Danamon menuai nilai 78,12% atau berada di posisi kedua setelah PermataBank, yang sebelumnya menjadi jawara. Angka yang diperoleh Bank Danamon hanya beda tipis dengan Bank Mandiri, yang memetik nilai 81,11%. Nilai Bank Danamon dan Bank Mandiri meningkat lumayan besar. Ali Yong, Transaction and Services Head Bank Danamon, mengemukakan, konsep customer fulfillment, yang telah ada sejak 2004, sampai dengan saat ini terus dipertahankan dan dikembangkan. “Tujuannya untuk mencari tahu yang menjadi tuntutan nasabah terhadap layanan perbankan,” ujarnya kepada Kristopo dari InfoBank, medio Maret lalu. Untuk front office, Ali Yong menambahkan, juga diadakan survei secara berkala di kalangan intern Bank Danamon. Performa customer service bank di kelompok sepuluh besar rata-rata meningkat. Ada tiga bank yang nilainya turun ketimbang survei sebelumnya. Mereka adalah PermataBank, Bank Niaga, dan Bank Mega. Tidak diketahui secara pasti penyebabnya. Yang jelas, di luar ketiga bank tersebut, pembenahan dilakukan bank-bank lain secara serius. Indikator penilaian MRI terhadap BPD tidak jauh berbeda seperti yang dilakukan terhadap bank umum yang lain. Tapi, nilai yang diperoleh BPD belum bisa menyamai bank umum yang lain. BPD terbaik dalam hal customer service adalah Bank Jabar (Jawa Barat) dengan nilai 54,96%. Posisi kedua dan ketiga masing-masing ditempati Bank DKI (Daerah Khusus Ibu Kota) dan Bank Papua dengan nilai 54,20% dan 52,24%. Hasil yang dicapai Bank Papua sedikit mengejutkan. Ternyata, Bank Papua mampu mengungguli sejumlah bank umum lain di Pulau Jawa dan Bali yang relatif lebih maju.
Pemasaran Bank : PERRFORMA TELLER JAWARA YANG MELAYANI DENGAN HATI
04 May 2007
Sumber:
InfoBankNews.com
InfoBankNews.com, Seorang teller tidak hanya dituntut cepat dan teliti, tapi juga bagaimana bersikap dan menjaga hubungan baik dengan nasabah. Bank mana yang performa teller-nya terbaik? Apriyani Kurniasih
SENTUHAN pelayanan prima (service excellence) sangat penting dalam dunia perbankan untuk membangun daya saing. Di bank, produk dan pelayanan prima merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pelayanan prima tidak hanya berlaku untuk petugas garda depan (front liners), tapi juga garda belakang (back end atau back office) plus semua karyawan di semua level. Untuk front liners sendiri, tugas pelayanan sudah seharusnya menjadi mindset setiap orang di bagian ini. Teller, misalnya, tidak hanya harus cepat dan teliti. Ia juga harus mampu berkomunikasi dengan baik. Teller punya peran penting dalam menjaga loyalitas nasabah. Moment of truth, kesan pertama atau pengalaman pertama yang dialami nasabah akan membawa nasabah menjadi loyal. Lalu, seperti apa peran teller dalam menjaga loyalitas nasabah? Sebagai salah satu petugas garda depan bank, teller punya andil sangat besar dalam memberikan pelayanan prima kepada nasabah. Mereka berkewajiban bersikap, memelihara, dan menjaga hubungan baik dengan nasabah. “Yang paling utama adalah greetings, menyapa nasabah, melayani nasabah dengan cepat tapi akurat, dan mengucapkan salam,” ujar salah seorang teller sebuah bank badan usaha milik negara (BUMN) yang tidak mau disebutkan namanya. Bank mana yang performa teller-nya oke? Berdasarkan survei yang dilakukan Marketing Research Indonesia (MRI) dan InfoBank, Bank Danamon menduduki peringkat teratas untuk performa teller dengan nilai 91,31. Posisi kedua adalah Bank Niaga dengan nilai 92,13. Bank Bukopin, yang sebelumnya berada di urutan kelima, kali ini naik ke urutan ketiga. Apa yang diusung Bank Danamon dalam hal pelayanan prima, sehingga tahun ini menjadi yang terbaik? “Kami menerapkan konsep customer fulfillment, yaitu selalu berusaha mencari tahu apa saja yang menjadi tuntutan nasabah dan memenuhi tuntutan tersebut. Kami juga mengharuskan kepada para front officer kami agar melayani nasabah dengan konsep melayani dengan hati,” papar Ali Young, Transaction and Service Head Bank Danamon, kepada Kristopo dari InfoBank. Sementara itu, Bank Bukopin, yang berhasil meningkatkan performa teller-nya dari nilai 86,99 pada survei sebelumnya menjadi 89,18 pada survei kali ini ingin menjadi bank utama bagi nasabahnya. Seperti dituturkan Glen Glenardi, Chief Executive Officer (CEO) Bank Bukopin, kepada Karnoto Mohamad dari Infobank, “Kesan pertama saat berhubungan dengan petugas front office menjadi momen yang paling penting. Ini akan menentukan bagaimana nasabah akan memperlakukan bank kita.” Apa yang dilakukan Bank Danamon dan Bank Bukopin rupanya dilakukan juga oleh Bank Internasional Indonesia (BII). Moment of truth menjadi andalan BII dalam menggaet simpati nasabahnya. Front officer, khususnya teller, dituntut mampu memberikan pelayanan yang meliputi service oriented, target oriented, assurance, dan responsive (STAR) yang kini menjadi service program di BII. Sebagai salah satu front liner BII, teller memperlakukan nasabah sebagai tamu istimewa, yang harus dilayani dengan ramah, sopan, cepat, dan akurat. Tidak heran jika BII, yang sebelumnya bahkan tidak masuk dalam kelompok sepuluh besar, kali ini merebut prestasi membanggakan, berada di peringkat keempat dengan nilai 88,47. Sementara itu, Bank NISP harus puas berada di urutan kelima. Meski begitu, peringkatnya naik dari sebelumnya yang berada di peringkat ketujuh. Urutan keenam hingga kesepuluh masing-masing ditempati Bank Mandiri, Citibank, PermataBank, Bank Central Asia (BCA), dan Bank Negara Indonesia (BNI). Dalam hal ini, PermataBank perlu mendapat sorotan. Sebab, sebelumnya, bank ini berada di peringkat teratas. Tapi, kali ini, posisinya merosot ke urutan kedelapan. Nasib kurang baik harus diterima The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC), yakni terdepak dari jajaran sepuluh besar. Padahal, sebelumnya, bank ini berada di urutan kesembilan yang kini ditempati BCA. Persaingan dalam pelayanan prima—dalam hal ini teller—yang ditampilkan bank-bank nasional memang cukup ketat. Sayang, hal ini tidak diikuti bank pembangunan dareah (BPD). Performa teller di BPD rata-rata masih berada di angka 61,98. Jauh tertinggal dibandingkan dengan bank nasional yang rata-rata mampu meraih nilai 80,6. Performa teller terbaik di BPD diraih Bank Riau. Diikuti secara berturut-turut oleh Bank Papua, Bank DKI (Daerah Khusus Ibu Kota), Bank Sumut (Sumatra Utara), Bank Jateng (Jawa Tengah), BPD Bali, BPD Sumsel (Sumatra Selatan), BPD Kaltim (Kalimantan Timur), BPD Jabar (Jawa Barat), BPD Jatim (Jawa Timur), dan Bank Nagari. Sepertinya perlu ada perhatian khusus untuk BPD dalam hal pelayanan, terutama bagaimana mendidik dan mengoptimalkan peran teller-nya. Meskipun memiliki segmen pasar yang pasti (captive market), masalah pelayanan tidak boleh diabaikan. Sekali lagi, yang dituntut dari teller itu tidak hanya cepat dan teliti, tapi juga bagaimana bersikap dan menjaga hubungan baik dengan nasabah.
Pemasaran Bank : PERFORMA TOILET TOILET ADALAH GAMBARAN JIWA LAYANAN
Tanggal:
04 May 2007
Sumber:
InfoBankNews.com
InfoBankNews.com, Bank Mandiri membuktikan diri sebagai bank BUMN yang memiliki performa toilet terbaik. Meski hanya menduduki urutan ketiga, BCA termasuk bank yang begitu perhatian terhadap penampilan toiletnya. Dua bank asing tersingkir dari sepuluh besar performa toilet terbaik. Apriyani Kurniasih
YANG diharapkan nasabah ketika bertransaksi dengan bank tidak hanya pelayanan yang memuaskan, ruang bank yang ber-AC (air conditioner atau pendingin ruangan), serta petugas garda depan (front liners) yang murah senyum dan ramah. Meski tidak banyak, para nasabah juga mengharapkan kenyamanan dari sisi toilet. Untuk itu, bank wajib menjaga penampilan toiletnya agar tetap disukai nasabah. Seperti apa standar penampilan toilet yang baik itu? Menurut Stephen Liestyo, Senior Manager Consumer Banking Bank Central Asia (BCA) melalui jawaban tertulis kepada Dwi Setiawati dari InfoBank, toilet merupakan gambaran dari “jiwa layanan”. Lebih lanjut, Stephen mengemukakan, standar toilet yang baik itu adalah kebersihan lantai, dinding, plafon, dan yang lain terjaga. Lalu, selalu tersedia tisu, sabun, air, dan tempat sampah. BCA sendiri begitu perhatian terhadap penampilan toiletnya. Buktinya, berdasarkan survei Marketing Research Indonesia (MRI) dan InfoBank kali ini, bank ini berhasil menempati urutan ketiga dalam sepuluh besar bank terbaik dalam layanan toilet. Padahal, sebelumnya, BCA bahkan tidak masuk sepuluh besar peringkat performa toilet bank. Untuk performa toilet, peringkat pertama ditempati Bank Mandiri, menyingkirkan The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) yang sebelumnya berada di posisi puncak. Ini bukti bahwa bank-bank nasional, khususnya bank badan usaha milik negara (BUMN), sudah menguasai betul aspek-aspek pelayanan prima (service excellence), termasuk penampilan fisik, dalam hal ini toilet. Hal itu diperkuat lagi dengan banyaknya bank nasional yang masuk dalam sepuluh besar jawara performa aspek toilet, yaitu sembilan bank nasional, sisanya bank asing. Dua bank asing, yaitu Standard Chartered (Stanchart) Bank dan HSBC, harus tersingkir dari jajaran sepuluh besar bank terbaik dari segi performa toilet. Mungkin, karena terjadi penurunan kualitas. Atau, bisa jadi, bank-bank nasional memang mulai bagus dalam pelayanannya, terutama toilet. Selain HSBC dan Stanchart, dua bank lokal lain juga tidak mampu mempertahankan performa toiletnya. Mereka adalah Bank Niaga dan Bank Mega. Padahal, sebelumnya, dua bank ini masing-masing masih berada di posisi ketujuh dan kedelapan. Justru, ada empat bank yang dulu tidak masuk sepuluh besar sekarang berhasil masuk sepuluh besar. Mereka adalah BCA yang berada di posisi ketiga, Bank Internasional Indonesia (BII) di urutan ketujuh, Bank Negara Indonesia (BNI) di tangga kedelapan, dan Bank Bukopin di urutan terakhir. Memang, sudah seharusnya, bank-bank lebih perhatian terhadap penampilan toiletnya. Walaupun, ada bank yang mengaku agak kesulitan menjaga performa toiletnya. “Kalau kita menempati gedung milik sendiri, saya yakin, kebersihan toilet pasti terjaga. Standarnya adalah bersih, wangi, ada tisu, sabun, dan sebagainya. Saya pun sering melakukan sidak (inspeksi mendadak) untuk hal ini. Tapi, bagaimana kalau kita menempati gedung yang bukan milik kita sendiri. Jadi, agak sulit mengontrolnya,” ujar Suwartini, Direktur of HR & Complience Bank Mega. Sepertinya, bank-bank nasional memang mulai perhatian (concern) terhadap implementasi pelayanan prima (service excellence). Bukan hanya orangnya yang diperhatikan, tapi juga tampilan fisik. Ini perlu didukung. Kita berharap, perbankan nasional terus meningkatkan pelayanannya. Sayang, kesadaran berbenah diri ini belum juga diikuti bank pembangunan daerah (BPD). Berdasarkan survei MRI, masih banyak BPD yang kurang fokus terhadap pelayanan prima. Jangankan penampilan fisik, orangnya (people) saja masih banyak yang belum tergerak untuk memberikan pelayanan prima kepada nasabahnya. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata BPD mengenai performa toiletnya. Dari sebelas BPD yang disurvei, nilai rata-ratanya hanya 79,81. Sangat jauh bila dibandingkan dengan perolehan nilai bank-bank umum non-BPD yang 94,21. Meski dalam survei kali ini hanya menduduki urutan kedelapan dalam performa toiletnya, Bank Sumut tetap berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanannya. Yang penting bagi Bank Sumut adalah adanya sinergi. Bagi Bank Sumut, pelayanan merupakan kewajiban dari semua pihak, baik pemimpin cabang, back office, CSO, teller, satuan pengamanan (satpam), operator telepon, sopir, office boy/office girl, maupun cleaning service. Pelayanan yang baik itu tidak hanya dilihat dari aspek orang (people) atau sumber daya manusia (SDM)-nya atau aspek fisiknya. Keduanya harus saling mendukung.
Jumat, 15 Mei 2009
Bersyukur
Khalifah Harun Ar Rasyid sedang dalam sebuah perjalanan melintasi sebuah gurun pasir menunggangi unta. Bersamanya Seorang Penasehat yang bijak, Ibnu As Samak. Perjalanan panjang di siang yang panas. Terik matahari membuat dehidrasi dan sang khalifah pun kehausan. Pada satu tempat yang teduh, Harun ar Rasyid menepi.
Ibnu Samak menawarkan segelas air sambil berujar, “Khalifah…, dalam kondisi panas dan tenggorokan kehausan, andaikata kau tidak dapatkan air untuk minum kecuali dengan harus mengeluarkan separuh kekuasaanmu, sudikah engkau membayar dan mengeluarkannya? !”
Tanpa pikir panjang khalifah ar Rasyid menjawab, “Saya bersedia membayarnya seharga itu asal tidak mati kehausan!”
Maka usai mendengarnya, Ibnus Samak memberikan segelas air itu dan khalifah pun tidak lagi kehausan.
Kemudian Ibnu Samak melontarkan pertanyaan lagi, “Khalifah, andai air segelas yang kau minum tadi tidak bisa keluar dari lambungmu selama beberapa hari tentulah amat sakit rasanya. Perut jadi gak keruan dan semua urusan jadi berantakan karenanya. Andai kata bila kau berobat demi mengeluarkan air itu dan harus menghabiskan separuh kekayaanmu lagi, akankah kau sudi membayarnya? ”
Mendengar itu, sang khalifah merenungi kondisi yang disebut oleh Ibnus Samak. Seolah mengamini maka khalifah menjawab, “Saya akan membayarnya meski dengan separuh harta saya!”
Mendengar jawaban dari sang khalifah, maka Ibnus Samak sang penasehat raja yang bijak kemudian berkomentar, “O…., kalau begitu seluruh Kekuasaan yang khalifah miliki itu rupanya hanya senilai segelas air saja!”
Air yang segelas itu.. adalah nikmat yang tak ternilai
“Jika kamu menghitung-menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya (menghitungnya). Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” ( QS. An Nahl : 18.)
“
Dan... Berapa ribu nikmat yang telah kita dustakan ?
Astaghfirulloh...
“Ya Robb-ku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridhoi. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang sholeh.” ( QS. An Naml : 19)
(kiriman dari : Gelar Gumelar)
Aa Gym : Ketika Kita Singgah Sejenak
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
KHAIFAHALUK IKHWAHFILLAH? ??
PERSEMBAHAN UNTUK SAUDARAKU YANG DICINTAI DAN MENCINTAI ALLAH
KETIKA KITA SINGGAH SEJENAK
Oleh:KH. Abdullah Gymnastiar
Bayangkanlah bila suatu ketika ada seseorang yang menjan-
jikan hadiah berupa sebuah rumah mewah lengkap dengan isinya.
Begitu indah dan sempurnanya rumah itu, sehingga baru
membayangkannya saja Anda sudah merasakan suatu kenikmatan dan
kebahagiaan tersendiri. Rumah itu terletak di kota "A" dan
anda diminta untuk pergi sendiri ke sana. Diberinya anda
sejumlah ongkos untuk bekal selama perjalanan hingga sampai
tujuan. Tetapi di tengah perjalanan nanti Anda diminta singgah
terlebih dahulu disebuah kampung. Ya, sekedar singgah sejenak!
Sungguh termasuk orang yang malang apabila ketika sampai
di kampung tersebut Anda malah terpana dan lalu menganggap
kampung tersebut teramat indah. Melihat gubuk disangka istana.
Melihat kolam kecil disangka danau. Bahkan melihat kue serabi
anda sangka martabak spesial. Pendek kata, mata dan penilaian
Anda menjadi kabur dan tertipu oleh karena keterpanaan yang
menerpa.
Saking merasa senangnya Anda dengan kampung itu, sampai-
sampai lupa dengan pesan semula bahwa anda hanya disuruh
singgah sejenak saja. Anda tinggal berlama-lama di sana dan
tentu saja ongkos pemberian yang cukup untuk sampai tujuan itu
malah anda habiskan di kampung itu. Akibatnya, tidak usah
heran ketika yang menyuruh dan memberi ongkos akan murka
tatkala mengetahui Anda ternyata tidak pergi ke kota yang
diminta.
Nah, ketahuilah bahwa kota "A" itu tiada lain adalah
akhirat, sedangkan kampung yang anda hanya disuruh singgah
sejenak itu tak lain pula adalah kampung dunia ini.
Salahkah apabila Dia Yang Mahabaik itu, yang telah
menjajikan surga Jannatun Na'im - padahal apapun yang
dijanjikanNya pasti ditepati dan tidak akan meleset sedikitpun
- dan tak lupa pula memberi bekal perjalanan yang cukup berupa
karunia nikmat rizki, tidak menyembunyikan "kekecewaannya"
melihat tingkah laku kita yang tak pandai manjaga amanah,
dengan berfirman, "Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja)
dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan)
akhirat adalah lalai?" (Q.S. Ar Ruum 30: 7)
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda gurau dan
main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya
kehidupan kalau mereka mengetahui," demikian firmanNya pula.
(Q.S. Al Ankabuut 29: 64)
Kebanyakan di antara kita ternyata memang gemar bertindak
yang "mengecewakan" seperti itu. Kampung dunia ini sebenarnya
tidak ada apa-apanya, namun sebagian besar orang ternyata
terpedaya oleh keindahan fatamorgananya. Padahal, semua yang
dititipkan Alloh kepada kita, baik berupa otak, tenaga, harta,
waktu, dan sebagainya, itu semua sebenarnya bukan untuk
kampung dunia ini karena ia hanyalah tempat mampir atau
singgah sejenak saja.
Dunia tak lebih sekedar tempat transit belaka kendatipun
untuk ini Alloh Azza wa Jalla pasti mencukupi kita dengan
rizkinya. Dengan catatan, sepanjang "ongkos" tersebut tidak
dhamburkan sia-sia. Alloh memampirkan kita di dunia ini seraya
tahu persis akan segala apa yang kita butuhkan, lebih tahu
daripada apa yang sebenarnya kita perlukan, kalau ongkos yang
ada itu kita jadikan betul-betul untuk bekal kepulangan nanti,
maka subhanallah, kita akan kaget bahwa betapa Alloh akan
mencukupi kita dengan limpahan karunianya.
Akan tetapi, sayang sebagian besar orang tidak mengerti
bahwa semua yang dititipkan Alloh itu sebenarnya untuk bekal
pulang, sehingga seluruh waktunya habis tandas hanya untuk
mengejar-ngejar segala hal yang bersifat duniawi. Padahal
tidak akan kemana-mana dunia ini. Bukankah ketika masih
berada di rahim bundapun kita tetap diberi dunia (rizki)
padahal toh kita tidak berdoa, tidak shalat tidak ikhtiar ke
mana pun.
Kita memang disuruh menyempurnakan ikhtiar, tetapi bukan
semata-mata untuk mencari dunia. Ikhtiar kita secara sempurna
pada hakikatnya untuk bekal kepulangan kita ke akhirat kelak.
Jadi, jaminan dari Alloh untuk kehidupan dunia ini sebenarnya
ditujukan kepada orang yang bersungguh-sungguh menyempurnakan
ikhtiarnya.
Untuk bekal kehidupan dunia ini, rejeki itu oleh Alloh
dibiarkan tergantung. Lalu, Dia seolah-olah berfirman, "Ini
rejekimu, kalau engkau ikhtiar, akan kau dapatkan apa yang
telah ditetapkan bagimu. Kalau ikhtiarnya di jalanKu, maka
tidak hanya rejekimu yang kau dapati, tetapi pahalapun akan
engkau peroleh. Itulah keberkatan untukmu; di dunia
ternikmati, di akhiratpun jadi manfaat. Sebaliknya, bila
ikhtiarmu itu di jalan yang Aku murkai, yakni niat maupun
caranya tidak benar, maka tetaplah akan kau dapati apa yang
telah menjadi bagianmu, hanya, berubah statusnya menjadi
haram. Rejekinya tetap didapat tetapi tidak mengandung manfaat
dan keberkahan.
Memang, ada sebagian orang yang selama hidupnya begitu
sibuknya banting tulang, seakan-akan takut tidak kebagian
makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpulkannya dengan
seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.
Ada juga orang yang ketika hidup ini teramat sibuk
merindukan penghargaan sehingga dia capek menata rumah, capek
membeli ini itu, capek mematut-matut diri dengan motivasi
semata-mata ingin dihargai orang. Disisi lain ada juga orang
yang hidupnya hanya mencari kepuasan, sehingga uang yang telah
dikumpul-kumpulkann ya dipakainya untuk pergi melancong kemana
saja yang dia suka.
Bagi orang yang tahu hakikat kehidupan ini, maka pastilah
yang dicarinya itu bukan dunia, melainkan Yang Memiliki Dunia!
Kalau orang lain bekerja banting tulang untuk mencari uang,
maka kita bekerja demi mencari Yang Membagikan Uang. Kalau
orang lain belajar ingin mencari ilmu, maka kita belajar
karena mencari Yang Memberi Ilmu. Kalau orang lain sibuk
mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama,
maka kitapun sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan
penghargaan dan pujian dari yang Yang Maha Menggerakkan
siapapun yang menghargai.
Jadi jelas perbedaannya, Bagi orang yang tujuannya dunia,
pasti kesibukannya hanya sebatas ingin mendapatkan itu saja.
Sedangkan bagi yang tahu ilmunya, maka yang dicari itu
langsung tembus kepada pemilik dan penguasa segala-galanya.
Bagi sebagian orang, tatkala membutuhkan uang, tetapi uang itu
tidak didapatkan, jelas yang muncul adalah rasa kecewa.
Sebaliknya bagi kita, saat membutuhkan uang, maka kita
berikhtiar sekuat tenaga bukan untuk mengejar uang semata,
malainkan Allohlah yang kita kejar. Soal dapat atau tidak
dapat tak ada masalah karena Alloh tidak akan pernah lupa
memberikan karuniaNya. Kesibukan kita berikhtiar pasti sudah
dicatat oleh Alloh. Tidak ada yang rugi, tidak ada pula yang
gagal.
Kalau orang bekerja karena ingin dihargai, maka bagi kita
semua itu tidak ada apa-apanya karena Allohlah sebagai
penguasa alam semesta yang menjadi tujuan segala perbuatan
kita. Kadang-kadang penghargaan manusia justeru menjadi ujian
bagi kita. Sebab manakala seseorang memuji kita, maka
hakikatnya bukanlah karena kita layak dipuji, melainkan karena
Alloh saja yang menutupi segala aib dan keburukan kita,
sehingga orang menyangka kita ini layak dipuji.
Bagi orang yang mengetahui rahasia di balik suatu
kejadian, datangnya pujian itu akan membuatnya tambah malu
karena itu berarti Alloh memperlihatkan sesuatu, bahkan tidak
jarang pujian itu ternyata lebih baik dari kenyataan
sebenarnya yang ada pada diri kita. Kalau kita mau jujur,
sungguh tidak pantas dan tidak cocok pujian itu dialamatkan
kepada kita. Karenanya, janganlah lekas terpana oleh pujian
manusia .
Mengapa ada orang yang bisa mendaki gunung walaupun
dengan bekal dan alat seadanya? Mengapa ada orang yang berani
menyeberangi lautan walaupun hanya dengan menggunakan perahu
sederhana?
Jawabnya, karena kekuatan terbesar adalah motivasinya.
Demikian halnya kalau motivasi kita hanya sebatas dunia ini,
maka tidak usah heran kalau dia akan mudah terpedaya. Akan
tetapi, tidak akan pernah lelah kita mencari apapun juga
karena yang kita tuju adalah Dia Yang Maha Perkasa!
Walhasil, tampaknya wajib bagi siapapun menyadari bahwa
dunia ini hanya tempat singgah sejenak belaka, kalaulah Alloh
berfirman, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan
Alloh kepadamu (Kebahagiaan) negeri akhirat, (tetapi)
janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi"
(QS. Al Qashas 28: 77). Maka itu semata-mata dimaksudkan agar
kita pandai mensyukuri apapun yang telah dianugerahkan Alloh
kepada kita selama hidup didunia ini. Adapun kebahagiaan dan
kenikmatan yang kekal dan hakiki, itulah yang akan kita dapati
di akhirat.
***
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -----
HARAPAN ITU MASIH ADA,
SEMANGAT DAN BERBUATLAH SELAGI KITA BISA